Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 95


__ADS_3

"Maksudmu apa? Untuk apa pil KB itu? Jangan bilang kamu tidak mau punya—"


"Bukan begitu maksudku, Sayang. Aku mendatangkan Dokter Ahli diabetes dari negara A dan besok Dokter itu akan datang ke rumah kita. Karena kamu hanya menderita diabetes tipe satu, jadi masih ada cara aman mengobatinya tanpa suntikan insulin. Dia adalah Dokter hebat yang berhasil membuat ramuan untuk meningkatkan cairan insulin dalam tubuh. Dokter itu sudah banyak menyembuhkan penderita diabetes, aku ingin dia mengobatimu hingga kamu benar-benar sembuh total. Pil KB ini adalah permintaan dari Dokter itu, agar kamu dapat menjalani pengobatan dengan maksimal karena pengobatan langsung akan dimulai besok," jelas Lolan panjang kali lebar membuat Ziva akhirnya mengerti alasan Lolan memintanya untuk meminum pil KB itu.


"Terima kasih, terima kasih sudah peduli padaku," imbuh Ziva langsung meminum pil KB yang Lolan ulurkan kepadanya.


"Bagaimana? Apa sudah mendingan?" tanya Lolan perhatian.


"Hem, sudah agak mendingan. Aku ingin ke balkon, apa boleh? Di sini sangat membosankan," pinta Ziva bangkit secara perlahan.


"Tentu boleh, Sayang," Lolan membantu Ziva berjalan hingga tiba di balkon. Ada kursi khusus yang bisa dibaringi di sana. Ziva duduk bersandar di kursi itu. Lolan juga duduk tepat di samping Ziva, keduanya menikmati sinar matahari pagi di balkon.


***


Di ruang makan.


"Apa kamu baik-baik saja, Sayang? Kenapa wajahmu pucat?" tanya Mommy Nata khawatir melihat kondisi Ziva yang baru datang bersama Lolan.


"I-iya, Mommy. Aku baik-baik saja," bohong Ziva dengan kedua pipi yang tiba-tiba merona.


"Benarkah, Sayang? Apa tidak perih?" tanya Mommy Nata to the point membuat Ziva semakin malu.

__ADS_1


"Mommy!" serga Daddy Jackso dan Lolan bersamaan.


"Apa sih? Mommy, kan, hanya bertanya saja," ketus Mommy Nata santai.


"Tidak usah pedulikan Mommy, Sayang. Kamu makan saja yang banyak, setelah ini kamu mau menjenguk Xena, bukan?" Ziva mengangguk dan Lolan memasukan banyak makanan ke dalam piringnya.


"Kamu mau pergi ke rumah Bibi-mu, Sayang?" tanya Mommy Nata antusias.


"Iya, Mommy. Aku ingin melihat keadaan Xena," jawab Ziva sambil melahap makanannya.


"Tidak menginap, kan, Sayang?" tanyanya lagi, kali ini dengan ekspresi sedih.


"Sepertinya akan menginap, Mommy. Aku juga sudah sangat merindukan Bibi dan Xena," jawab Ziva lagi.


"Baik, Mommy."


***


Kini, Lolan dan Ziva sudah dalam perjalanan menuju rumah Bibi Aslin. Beberapa menit kemudian, mobil pun sudah terparkir di depan rumah Bibi Aslin.


"Itu mobil siapa?" tanya Ziva kala melihat ada mobil mewah lainnya yang sudah terparkir di samping rumah Bibi Aslin.

__ADS_1


"Itu mobil Adit, sepertinya dia ada di dalam," jawab Lolan membuka safetybelt yang mengunci tubuh Ziva.


"Tetap di sini," cegat Lolan saat Ziva akan langsung membuka pintu mobil.


Ziva tersenyum melihat Lolan yang memutari mobil, kemudian membuka pintu untuknya.


"Silahkan, Sayang," imbuh Lolan tersenyum manis. Ziva pun segera turun dari mobil, Lolan langsung menggandeng Ziva perlahan, padahal Ziva sudah tidak lagi merasa perih di bawah sana. Hanya memang lututnya masih terasa lemas.


Tok, tok, tok ....


"Sebentar."


Terdengar sautan Bibi Aslin dari dalam sana, tak lama berselang pintu rumah pun terbuka lebar.


"Ziva, akhirnya kamu datang juga. Xena nanyain kamu terus, ayo masuk," sambut Bibi Aslin tampak begitu lega karena Putrinya Xena selalu menanyakan Ziva.


Ketika masuk ke dalam rumah, Ziva langsung disambut oleh Xena yang berlari kearahnya sambil berteriak heboh. "Kak Ziva, gimana malam pertamanya!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2