Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 126


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusan di butik, kini Adit terpaksa harus menemani Mommy-nya dan Xena berbelanja.


"Sayang, lihat ini," panggil Mommy Adna pada Xena, Xena pun langsung menghampiri Sang Mommy. Sedangkan Adit berjalan gontai mengekor di belakang Xena.


"Baguskan, Sayang?" tanya Mommy Adna sambil memperlihatkan lingerie seksi transparan berwarna merah.


"Keren, Mommy. Aku mau lingerie ini, aku akan pakai lingerie ini di malam pernikahan nanti" seru Xena antusias.


"Malam perbikahan?" Adit menekan suaranya.


"Maksudku di malam pertama," ralat Xena tersenyum imut.


"Pilihan Mommy pasti yang terbaik. Kamu coba dulu gih," titah Mommy Adna meminta Xena untuk mencoba lingerie seksi itu.


"Sekarang, Mom?" tanya Xena kaget.


"Hanya mencobanya saja, Sayang," balas Mommy Adna, Xena pun mengangguk dan menerima lingerie itu. Adit yang menyaksikan tingkah kedua wanita yang dia cintai, hanya dapat menggelengkan kepalanya.


"Baik, Mommy aku akan mencobanya," Xena langsung masuk ke dalam ruang ganti dengan membawa lingerienya.


"Adit, kamu tungguin Xena sebentar, ya. Mommy akan melihat-lihat gaun di sebelah sana," ujar Mommy Adna dan Adit mengangguk sebagai jawaban.


Beberapa detik kemudian ....

__ADS_1


"Adit!" teriak Xena dari dalam sana.


"Ada apa? Tidak perlu berteriak," sahut Adit santai.


"Suruh Mommy masuk sebentar, aku kesulitan membuka resleting gaunku," jawab Xena masih berteriak tapi dengan volume yang diturunkan.


"Mommy sedang pergi melinat gaun lainnya," balas Adit.


"Ya sudah, kalau begitu kamu saja yang bantu," Xena membuka sedikit pintu ruang ganti, dengan isarat tangannya, dia meminta agar Adit masuk dan membantunya.


Hufft ....


Adit menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu, berulah dia melangkah maju, hingga tiba di depan ruang ganti.


"Mana yang harus aku buka?" tanya Adit ketus.


"Semuanya," Xena menatap Adit menggoda.


"Kau!" tekan Adit dengan urat-urat lehernya yang mengencang karena emosi dengan tingkah laku Xena yang kekanak-kanakan. Xena paling suka menggodanya, setelah dia tergoda, maka Xena akan lepas tangan begitu saja, tanpa mau bertanggung jawab atas apa yang Adit dan senjatanya dapatkan. Bak diangkat setinggi-tingginya, kemudian dihempaskan sekuat-kuatnya.


"Aku bercanda, hihi ... Turunkan saja resletingnya," Xena berbalik badan, menyingkirkan rambut gelombangnya, agar Adit dapat melihat resteling yang harus di turunkan.


Perlahan Adit melepaskan resleting itu, dia membukanya begitu perlahan membuat Xena tak sabaran.

__ADS_1


"Kok lama sih!"


"Sabar," balas Adit langsung menurunkannya cepat hingga tampaklah punggung mulus Xena yang membuatnya merasa sesak atas juga sesak di bawah.


"Sudah," Adit segera menjauh dari tubuh Xena.


"Kamu duduk di sofa dulu, jangan pergi dulu," imbuh Xena membuat Adit terbelalak.


"Apa mau menggodaku lagi?" reflek Adit bertanya.


"Kepedean, siapa juga yang mau menggoda? Aku meminta duduk di sana karena nanti aku akan membutuhkan bantuanmu lagi," balas Xena ceplos. Tidakkah Xena tahu tingkahnya yang seperti itulah yang membuat Adit sangat ingin melahapnya saat itu juga.


Adit menghela napas berat, lalu duduk di sofa dengan patuh. Xena memutar kepala, menatap tajam Adit saat ingin melepas gaunnya.


"Ada apa? Apa membutuhkan aku juga untuk melepasnya? Kalau sampai tahap inti aku mau. Tapi, kalau hanya bercumbu apalagi separuh, lebih baik tidak usah," oceh Adit karena bosan dengan adegan bercintanya yang selalu batal.


"Kalau tidak ada yang menggangu, lanjut ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2