
"Lolan—"
"Lolan kenapa, Sayang? Apa terjadi sesuatu yang buruk? Dia berteriak tadi, apa yang terjadi?" pertanyaan beruntun dari Mommy Nata membuat Daddy Jackson bingung akan menjelaskan dari mana.
"Aku juga tidak mengerti, Sayang. Kita tunggu Dokter Adit keluar saja, biar dia yang akan menjelaskan. Tapi yang pasti, sekarang Lolan sudah lebih baik, saat aku masuk dia tidak sadarkan diri," tutur Daddy Jackson malah membuat Istrinya semakin khawatir.
"Pingsan!" teriaknya kaget, mengejutkan Ziva yang berada tepat di sampingnya.
"Bukan pingsan, Sayang. Kata Adit itu sengaja, ah aku tidak paham Sayang, tunggalah sebentar lagi. Dokter Adit pasti akan memberikan kita penjelasan," bujuk Daddy Jackson langsung memeluk Istrinya untuk menenangkan.
"Kamu bagaimana, Ziva? Apa baik-baik saja?" Sambil memeluk Istrinya tercinta, Daddy Jackson masih mengkhawatirkan keadaan Menantunya, Ziva.
"Sa-saya baik-baik saja, Dad-daddy," jawab Ziva yang masih bergetar tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa Ziva sadari, apa yang tadinya dia lakukan di dalam ruangan itu, meninggalkan sedikit banyak trauma terhadapnya. Hal itulah yang membuat tubuh Ziva masih bergetar, bahkan Ziva tidak bisa mengendalikan tubuhnya.
"Sudah, tidak perlu takut. Tenangkan dirimu, ya," pinta Daddy Jackson menenangkan Ziva. Dari sudut pandang matanya, terlihat Daddy Jackson begitu tulus menyayangi Ziva sebagai Menantunya.
Ziva yang dielus kepalanya, merasa begitu bahagia. Rasa nyaman dia rasakan saat itu juga, Ziva merasakan kasih sayang seorang Ayah dari Daddy Jackson. Kasih sayang yang selama ini begitu dia rindukan.
"Terima kasih, Daddy," sambut Ziva tersenyum manis.
Tak lama berselang, Dokter Adit keluar dari ruangan khusus itu. Daddy Jackson, Mommy Nata, dan Ziva tentunya, kompak langsung berdiri menyusul Dokter Adit yang langsung duduk di singasananya.
"Ada kabar baik serta kabar buruk yang akan saya sampaikan sekaligus. Kabar mana dulu yang ingin didengarkan?" sahut Dokter Adit tetap fokus pada dokumen yang kini dia tangani.
"Dua-duanya!" seru ketiganya kompak. Dokter Adit menengadah, menatap ekspresi yang sama yang diberikan ketiga orang dihadapannya.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menjelaskan kedua kabar baik dan buruk itu. Kabar baiknya adalah, sekarang, alat kel*min Lolan sudah dapat berdiri. Walau, hanya ketika melihat Ziva. Hal itu tidak berfungsi kepada wanita lain di luar sana," tutur Dokter Adit dengan ekspresi yang sedih. Ya, sedih. Jelas dirinya masih mencintai Ziva. Jelas nama Zivanya masih terukir di dalam lubuk hatinya. Namun, dirinya harus mengalah, lantaran wanita yang dia cintai adalah penawar penyakit sahabatnya sendiri.
"Syukurlah, Putra kita sudah sembuh, Sayang," syukur Mommy Nata bahagia dan langsung memeluk Suaminya yang masih berdiri. Air mata kebahagiaan tak dapat keduanya bendung.
"Iya, Sayang. Syukurlah," sambut Daddy Jackson lega. Akhirnya, akhirnya Putranya sudah tidak impoten lagi. Baginya, tidak masalah walau hanya dengan Ziva dan tidak dengan wanita lain. Kelainan itu justru membuatnya senang, karena dia tau Ziva adalah perempuan yang baik dan pantas menjadi pendamping Putranya tercinta.
Mendengar perkataan Dokter Adit, Ziva terdiam. Rambut-rambut halus yang tumbuh di kulit tubuhnya seakan bangkit berdiri tegak, Ziva merinding mendengarnya. Sungguh aneh, kenapa hanya dia? Kenapa harus dirinya? Apakah itu artinya dia akan tetap menjadi Istri dari seorang Lolan Baldev? Apakah itu artinya dia akan merasakan benda dengan ukuran tak biasa itu? Astaga, lagi-lagi Ziva mengumpat pikirannya sendiri yang bener-benar telah tercemar.
"Lalu apa kabar buruknya, Adit?" tanya Daddy Jackson membuat Mommy Nata melapaskam pelukannya dan Ziva mengangkat wajahnya. Ketiganya menunggu dengan tegang ucapan yang akan keluar dari bibir tipis Dokter Adit.
"Kabar buruknya adalah ....
.
__ADS_1
.
.