Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 56


__ADS_3

Setelah pulang dari rumah sakit. Kini, semua telah berada di Mansion sederhana yang Lolan beli. Lolan sendiri yang keukeuh ingin tetap tinggal di sana, padahal Daddy Jackson dan Mommy Nata sudah berusaha membujuknya untuk kembali ke Mansion utama.


Saat ini Ziva dan Mommy Nata tengah asik masak untuk makan siang di dapur. Sementara Lolan disuruh untuk beristirahat di kamarnya di lantai 2. Dirinya di larang ke kantor untuk sementara waktu. Daddy Jackson sudah memerintahkan Sekretaris Devil untuk menjalankan tugas Lolan selama Lolan sedang dalam masa terapinya.


Setelah semua masakan telah matang. Mommy Nata dan Ziva langsung menyajikannya ke atas meja di ruang makan. Mommy Nata sempat memuji skill memasak Ziva yang luar biasa, berbeda dengan dirinya yang kurang bisa masak.


"Oh iya, Sayang. Saat terapi tadi, memangnya kamu melakukan apa saja? Apa baru menyentuhnya?" tanya Mommy Nata yang penasaran akan apa yang Ziva lakukan kepada benda pusaka milik Putranya.


"Ti-tidak, Mommy. A-aku tidak menyentuhnya," jawab Ziva seketika salah tingkah.


"Lalu, apa yang kamu lakukan? Tidak mungkin langsung masuk, bukan?" lanjutnya membuat Ziva serba salah karena benar-benar merasa gugup akan wawancara yang Mommy Nata lakukan kepadanya.


"Ha-hanya diminta membuka pakaian, Mommy. Ha-hanya i-tu saja," jawab Ziva malu dengan kedua pipinya yang sudah semerah tomat.

__ADS_1


"Apa Dokter Adit juga melihat?" Mommy Nata kaget, seketika dia langsung menutup mulutnya yang hampir berteriak.


"Tidak, Mommy. Dia tidak melihat, yang melihat hanya Tuan Lolan saja," jawab Ziva jujur.


"Saat kamu membuka pakaian, saat itulah milik Lolan berdiri dan dia berteriak?" Kembali Mommy Nata mengintrogasi.


"Hu'um," Ziva mengangguk membenarkan.


"Menurutmu kenapa dia merasa sakit?"


"Sayang sekali, padahal Mommy sangat berharap dia benar-benar kembali sembuh," balas Mommy Nata bersedih. Melihat Mommy Nata bersedih, tentu saja Ziva merasa bersalah.


"Mommy, aku akan berusaha. Aku akan berusaha membantu Lolan hingga benar-benar bisa sembuh. Percayalah kepadaku, Mommy. Aku akan melakukan apa pun itu," tutur Ziva mendekat pada Mommy Nata.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. mommy yakin kamu bisa, Nanti akan Mommy ajarkan bagaimana caranya mengelus, meng-emu t, dan memainkannya dengan benar," Ziva yang awalnya sedih, seketika ingin tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Mommy Mertunya. Astaga, hanya mengelus saja tentu saja dirinya bisa. Tidak perlu diajarkan segala, Ziva benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Mertuanya itu.


"Baik, Mommy. Apa pun yang Mommy ajarkan pasti akan aku praktekan," jawab Ziva pada akhirnya mengalah.


"Oke, kalau begitu sekarang kamu ke atas banguinin Lolan untuk makan siang, Mommy akan panggilan Daddy-mu," titahnya lembut.


"Baik, Mommy," jawab Ziva. Keduanya langsung ke tempat tujuan masing-masing. Mommy Nata menuju ruang tamu, sedangkan Ziva naik ke lantai atas untuk membangunkan Lolan yang kiranya tengah terlelap. Namun, ternyata pria bertubuh atletis sempurna itu baru saja selesai mandi. Mungkin untuk menenangkan dirinya. Pikir Ziva.


"Ada apa? Kenapa malah mematung di situ? Ambilkan pakaianku!" titahnya membentak, Ziva yang semula mengagumi ketampanan itu, seketika mengurungkan niatnya kala sang pemilik ketampanan ternyata memiliki sikap yang begitu arogan.


Ziva yang telah hafal di mana saja letak pakaian Lolan, langsung mengambilnya tanpa hambatan sedikit pun. Pakaian santai berharga puluhan juta itu Ziva siapkan dan Ziva ulurkan kepada Lolan.


"Jangan kira aku akan bersikap baik kepadamu setelah apa yang terjadi di rumah sakit tadi! Ingat, kau itu bukanlah penawar untuk penyakitku. Tapi, kau sebenarnya adalah racun dari penyakitku. Jadi, jangan harap aku akan bersikap baik kepadamu!" bentak Lolan mengambil pakaiannya di tangan Ziva secara kasar, kemudian mendorong Ziva dengan sekuat tenaga hingga Ziva tersungkur di lantai kamar. Kamera tersembunyi yang telah dirinya musnahkan, membuatnya bebas melakukan apa pun kepada Ziva tanpa takut ketahuan oleh kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Kamu pantas mendapatkannya!"


__ADS_2