
"Hem, permen rasa strawberry kesukaanku," batin Xena sambil mengemut permen rasa strawberry kesukaannya. Ya, tanpa sepengetahuan Adit, Xena telah lebih dulu menukar semua pil KB yang tersedia dengan permen berbentuk sama. Itu adalah salah satu langkah yang Xena ambil agar dirinya tetap bisa hamil. Apalagi saat ini dia tengah pada masa subur dan Xena yakin dia akan segera hamil, karena semuanya telah dia perhitungkan.
"Oh iya, Sayang. Mumpung hari ini akhir pekan, kita ke rumah Cristi yuk, ada sesuatu yang ingin dia katakan kepadaku."
"Pagi ini?"
"Iya, pagi ini."
"Oke, habis sarapan kita berangkat ke rumah Cristi," ajak Adit membantu Xena untuk berdiri. Xena mulai melangkah dengan jalan yang aneh yaitu sambil mengapit kedua kakinya agar tak terjadi gesekan yang akan menyebabakan rasa perih. Adit memandang Xena dengan perasaan iba.
"Sayang, aku malu dengan cara jalan begini, hiks ..." tutur Xena bersedih.
"Aku gendong saja, ya," tawar Adit dan Xena menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Aku jalan sendiri saja," Xena melangkah lebih dulu, karena dirinya merasa akan lebih malu lagi bila digendong langsung oleh Sang Suami.
Melihat tingkah Sang Istri yang keras kepala, Adit pun tak bisa berbuat apa-apa selain hanya membantu dengan menggandeng lengan Xena hingga turun ke lantai bawah.
"Sayang kamu baik-baik saja, bukan?" tanya Mommy Adna langsung menghampiri Xena dan membantu Sang Menantu kesayangannya hingga duduk di kursinya.
__ADS_1
"Iya, Mommy, aku baik-baik saja."
"Apakah perih?" tanya Mommy Adna penasaran.
"Sedikit," balas Xena.
"Syukurlah kalau begitu. Tapi, enak kan Sayang?"
"Iya, Mommy. Sangat sakit tapi juga sangat enak," jawab Xena polos membuat Adit reflek menggelengkan kepalanya.
"Rajin-rajin bikin, ya, Sayang. Biar Mommy cepat menimang Cucu."
"Pasti, Mommy." jawab Xena bersemangat, sementara Adit hanya menghela napasnya kasar.
"Daddy-mu sudah berangkat ke pengadilan bersama Ana. Katanya, hari ini adalah persidangan terakhir," tutur Mommy Adna menjelaskan.
"Oh iya, semoga Ana menang dalam persidangannya," sambung Xena seketika bersedih.
"Pasti Ana akan menang, Sayang. Daddy-mu tidak akan membiarkan orang yang hampir melukaimu hidup dengan tenang begitu saja," terang Mommy Adna mengelus kepala Xena lembut. "Ini, makanlah ini, ini bagus untuk kesuburan." lanjutnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Mommy."
"Sama-sama, Sayang. Ngomong-ngomong, kalian berdua mau ke mana hari ini?"
"Ke rumah Cristi, Mommy. Dia ingin bertemu dan mengatakan sesuatu kepadaku," jawab Xena.
"Benarkah? Kasihan sekali dia, tapi sayangnya dia menolak untuk tinggal bersama kita di sini," ujar Mommy Adna bersedih mengingat nasib Cristi yang ditinggal oleh kedua orangtuanya dalam kondisinya yang tidak baik-baik saja.
"Sepertinya dia sangat mencintai Aldri, aku dan Ana juga tak bisa membujuknya. Aku sangat mengkhawatirkannya."
"Semoga dia selalu diberikan kebahagiaan."
Setelah selesai sarapan, Adit dan Xena pun langsung berangkat ke rumah Cristi. Tiba di sana, Xena dan Adit langsung di sambut oleh Cristi yang telah rapi seperti siap akan pergi jauh.
"Cristi, kamu mau ke mana?" tanya Xena mengerutkan alisnya bingung.
"Duduklah dulu, aku dan Aldri akan menjelaskannya kepadamu," Adit pun menuntun Sang Istri yang masih terlihat linglung.
"Katakan padaku, kamu mau ke mana dengan semua koper-koper ini?" tanya Xena tampak kesal.
__ADS_1
"Begini, Xena. Sebenarnya aku dan Aldri sudah menikah."
"Apa!"