
Lolan meletakkan mangkuk dan gelas ke atas nakas. Kemudian, kembali mencoba membangun Ziva, namun urung karena Ziva sudah bangun lebih dulu.
"Kamu sudah bangun, Sayang. Syukurlah," Lolan duduk di pinggir ranjang sambil membelai lembut rambut Ziva.
"Aw!" pekik Ziva tertahan kala merasa perih di bawah sana.
"Jangan bergerak dulu, Sayang. Kamu mau apa? Makan? Minum?" tanya Lolan perhatian. Ziva menggeleng karena tidak menginginkan kedua hal yang Lolan sebutkan.
"Lalu, kamu mau apa, Sayang?" bukannya menjawab, tapi Ziva malah menundukkan wajahnya malu.
"Ke kamar mandi?" tebak Lolan dan Ziva pun mengangguk.
"Kemarilah, akan aku antarkan," Lolan bersiap akan menggendong Ziva, tapi Ziva malah mencegahnya sambil menggelengkan kepala tanda tak setuju.
"Aku ingin jalan sendiri saja," jawab Ziva keukeuh. Membayangkan ke kamar mandi bersama Lolan lebih menakutkan baginya.
"Apa bisa?" Ziva mengangguk cepat.
"Baiklah," Lolan menyingkir ke samping, dia sengaja membiarkan Ziva berjalan lebih dulu. Lolan mengerti kekhawatiran Ziva bila dia ikut bersama. Untuk itulah Lolan lebih memilih mengalah, meski begitu, Lolan selalu bersiap. Bersiap menyambut Ziva bila saja Istrinya itu terjatuh.
__ADS_1
"Kamu yakin, Sayang?" Lolan merasa ngilu saat Ziva berusaha turun dari ranjang dengan begitu berhati-hati. Lolan berjanji dalam hatinya, dia berjanji tidak akan mengulangi kejadian semalam.
Ketika Ziva berjalan perlahan menuju kamar mandi, Lolan mengekor di belakangnya, memastikan Sang Istri tiba di kamar mandi dengan aman.
Ketika tiba di ambang pintu kamar mandi, Ziva berhenti sebentar. Entah kenapa kakinya tak lagi sanggup melangkah, lututnya tiba-tiba melemas. Ziva pun tak lagi sanggup menahan bobot tubuhnya hingga terjatuh ke dalam pelukan Lolan.
Sigap, Lolan langsung mengantar Ziva hingga masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam sana, Lolan mendudukan Ziva ke atas closet yang masih tertutup.
"Aku akan menunggu di luar, panggil saja aku kalau sudah selesai," imbuh Lolan lalu segera keluar dari kamar mandi dan lebih memilih menunggu di depan pintu kamar mandi. Lolan tahu Ziva akan malu bila dia tetap berada di dalam bersamanya.
Beberapa menit kemudian, Ziva pun keluar dari kamar mandi. Tanpa meminta persetujuan Ziva, Lolan langsung menggendongnya dan membawanya kembali ke ranjang. Lolan membaringkan Ziva ke atas ranjang dengan begitu berhati-hati, seakan tubuh Ziva adalah porselen yang mudah pecah.
"Kamu tidak makan?" tanya Ziva menatap Lolan sayu.
"Aku bisa makan nanti," jawab Lolan kembali menyuapi Ziva lagi dan lagi.
Ziva menatap Lolan lama, seakan menunjukkan keheranannya. Ziva tidak habis pikir, bagaimana mungkin Lolan masih terlihat baik-baik saja setalah melewati malam panjang itu. Sedangkan dirinya bergerak saja tulang-tulangnya terasa diremuk-remukkan.
Apakah semua wanita akan mengalami hal yang sama seperti yang dia alami saat ini. Dan para lelaki juga akan baik-baik saja seperti halnya yang terjadi kepada Lolan.
__ADS_1
"Apa kamu tidak sakkit? Tidak perih? Tidak lelah?" Ziva akhirnya bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Aku baik-baik saja, Sayang. Maafkan aku, ya. Karena aku kamu malah jadi begini," sesal Lolan seraya membersihkan bibir Ziva dengan tangannya langsung.
"Aku juga baik-baik saja, hanya lelah saja," jawab Ziva berbohong.
"Aku tau kamu baik-baik saja. Sekarang, minum obat dulu," karena Ziva telah menghabiskan makanannya, Lolan pun memberikan sebutir pil penurun panas kepada Ziva. Ziva pun tersenyum kecut karena merasa malu ketahuan membohongi Lolan, jelas Lolan sudah tahu bagaimana kondisinya saat ini.
"Terima kasih, sebenarnya aku tidak seburuk itu. Ini hanya kelelahan saja," Ziva mengambil pil itu lalu meminumnya segera.
"Pil ini juga, Sayang. Untuk berjaga-jaga," Lolan mengulurkan lagi pil berukuran kecil, Ziva mengerutkan alisnya karena tahu untuk apa pil yang kali ini Lolan ulurkan.
"Maksudmu apa? Untuk apa pil KB?"
.
.
.
__ADS_1