
"Kabar buruknya adalah Lolan akan merasakan kesakitan saat alat kel*minnya berdiri," jawab Dokter Adit membuat ketiga orang dihadapan terdiam tak berkutik saking kagetnya mendengar pernyataan yang Dokter Adit ungkap.
Baru saja kedua sejoli itu senang karena sembuhnya Sang Putra dari penyakit Impoten yang selama ini diderita. Namun, kebahagiaan yang hanya dirasa beberapa menit lalu pecah seketika. Saat mendengar penjelasan yang Dokter Adit tuturkan kepada mereka.
Apa bagusnya bila benda itu bisa berdiri, tapi Putranya akan menderita kesakitan. Bukankah itu lebih parah? Bagaimana mungkin senjata itu bisa digunakan bila akan menyakiti Tuannya sendiri. Percuma!
"Maksudmu? Kesakitan seperti tadi? Sampai berteriak?" tanya Mommy Nata masih dengan ekspresi tercengang.
"Benar, Mom. Seperti tadi, bahkan kemungkinan selanjutnya akan lebih parah dari hari ini. Hari ini masih bisa aku tangani dengan obat penghilang rasa nyeri yang berkunjung membuatnya tidak sadarkan diri. Tidak tau apa yang akan terjadi tanpa obat itu pereda nyeri itu," kembali Dokter Adit menjelaskan membuat mereka bertiga sulit mencerna serta menerima apa yang barusan Dokter Adit katakan.
"Astaga, kenapa bisa begitu, Adit? Apa tidak ada cara untuk mengatasinya? Lolan bahkan sudah melakukan operasi sebanyak 3 kali, apa yang terjadi sebenarnya? Apa ada kemungkinan operasi sebelumnya gagal? Bukankah seharusnya Lolan sudah sembuh di operasi ketiga. Tapi, tidak ada kemajuan sama sekali. Dan sekarang saat benda itu sudah hidup, Puraku akan kesakitan. Apa gunanya bila kembali hidup tapi hanya untuk merasakan sakit!" Bentak Daddy Jackson murka.
Sudah cukup lama kedua sejoli itu melihat bagaimana menderitanya Sang Putra melakukan segala macam pengobatan dan terapi. Namun, di saat ada harapan yang besar untuk kembali sembuh. Saat itu pula sesuatu yang lebih parah yang bahkan tidak diinginkan terjadi. Keduanya banar-benar tidak habis pikir.
"Maafkan aku Daddy, Mommy. Aku sudah berusaha yang terbaik, tapi hal ini terjadi diluar kendaliku. Aku juga tidak mengerti kenapa bisa begitu, padahal jelas-jelas alat kel*min Lolan baik-baik saja. Banar-benar tidak ada satupun lagi masalah, aku sudah memeriksa semuanya, semuanya normal dan baik-baik saja," tutur Dokter Adit yang juga kebingungan dengan apa yang terjadi kepada Lolan saat ini.
__ADS_1
"Huhu ... Putraku yang malang. Sayang, bagaiamana ini? Hiks ...." tangis Mommy Nata kembali memeluk Daddy Jackson dengan begitu eratnya. Sedangkan Ziva hanya terdiam karena merasa bersalah. Merasa bersalah karena semua itu terjadi kerena kesalahannya di masa lalu.
"Lalu apa rencamu selanjutnya? Bagaiamana dengan terapi berpasangan itu?" lanjut Daddy Jackson bertanya seraya menatap Ziva yang sedari tadi hanya terdiam.
"Terapi akan terus dilakukan, Daddy. Sesuai rencana awal, ini adalah terapi terakhir. Kita masih punya harapan. Mommy dan Daddy tidak usah khawatir, aku akan terus berusaha melakukan yang terbaik demi kesembuhan Lolan. Ini baru di hari pertama, kita masih punya banyak hari-hari berikutnya. Yang penting adalah Lolan dan Nona Ziva harus terus siap melakukan terapi berpasangan ini," Dokter Adit fokus mengetik di komputernya.
"Ziva, Sayang. Mommy mohon bantulah Lolan, Mommy mohon," Mommy Nata berbalik ke arah Ziva, menggenggam kedua tangan Ziva, memohon agar Ziva mau membantu Putranya.
"Mommy tidak usah khawatir, aku siap melakukan apa pun. Apa pun!" Tegas Ziva dan Mommy Nata langsung memeluknya dengan tak henti menangis histeris.
"Sekarang bagaimana? Apa Lolan harus di rawat di sini?" tanya Mommy Nata melonggarkan pelukannya di tubuh Nata.
"Sebentar lagi Lolan akan sadar, untuk sementara kondisinya tidak terlalu buruk. Jadi, tidak apa-apa bila dibawa pulang. Hubungi saja aku bila terjadi sesuatu," Dokter Adit menge-print beberapa lembar kertas yang di dalamnya tertulis beberapa alat medis yang diperlukan.
"Ini, Daddy. Ini adalah beberapa alat medis yang dibutuhkan selama masa terapi. Melihat keadaan Lolan saat ini, alangkah baiknya bila terapi dilakukan di rumah saja. Daddy tinggal siapkan ruangan steril dan beberapa alat medis yang aku perlukan itu," lanjut Dokter Adit menyerahkan kertas berisi daftar alat medis itu kepada Daddy Jackson.
__ADS_1
"Baiklah, Daddy akan menyiapkannya secepat mungkin," jawab Daddy Jackson.
"Daddy, Mommy,"
"Lolan Sayang."
.
.
.
Ada yang tau kenapa Lolan malah kesakitan?
Hem ... Kira-kira kenapa, ya?
__ADS_1
Apakah ada hubungannya dengan Zivanya?