Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 65


__ADS_3

"Dokter, bagaimana? Apakah berhasil?" tanya Ziva dengan suara lemahnya.


"Tentu saja berhasil," jawab Dokter Adit tersenyum manis.


"Syukurlah," sambung Ziva lega. Sebenarnya, Ziva tidaklah sakit pinggang seperti yang Lolan kira. Namun, memang hari ini adalah jadwal untuk Ziva cuci darah. Mommy Nata, Daddy Jackson dan Dokter Adit sengaja memanfaatkan kesempatan itu dan meminta Ziva berakting seperti itu agar Lolan merasa bersalah pada Ziva. Saat Lolan merasa bersalah, maka saat itulah akan menjadi waktu yang paling tepat untuk membongkar kebenaran tentang Ziva sekaligus menyadarkan Lolan bahwa Ziva bukanlah penyebab segala yang terjadi kepadanya.


"Terima kasih sudah membantu saya, Dokter," ucap Ziva tulus.


"Bukan masalah besar, tidak perlu sungkan. Oh iya, mungkin beberapa hari lagi kamu akan segera melakukan operasi," imbuh Dokter Adit memberitahu Ziva.


"Tapi, apakah benar Xena sendiri yang menginginkannya?" Ziva kaget saat Dokter Adit mengatakan kepadanya lewat SMS bahwa Xena-lah yang akan menjadi pendonor untuknya.


"Saya berani bersumpah, untuk masalah satu ini, saya sama sekali tidak memaksanya. Dia sendiri yang menawarkan diri," jawab Dokter Adit jujur. Ziva merasa tenang saat melihat kejujuran di mata tajam Dokter Adit.


"Kalau saya benar-benar di operasi, lalu bagaiamana dengan terapinya?"


"Akan dilanjutkan setelah kondisimu membaik," jawab Dokter Adit membuat Ziva menganggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


Setelah selesai proses terapi cuci darah. Ziva pun langsung dipindahkan ke kamarnya dengan digendong langsug oleh Lolan. Karena tugasnya telah usai, Dokter Adit pun langsung pamit pergi.


Dengan antusiasnya Dokter Adit mengendarai mobilnya, membelah jalan raya di siang hari itu menuju ke rumah Xena di jalan Rose Road.


***


"Astaga, aku kenapa bisa ketiduran? Aduh, Dokter Adit sudah di jalan tapi aku belum siap sama sekali," oceh Xena sambil mengacak-acak isi lemarinya guna mencari gaun yang cocok digunakan untuk pergi bertemu dengan Calon Mertuanya.


Xena langsung mengenakan cepat gaun paling mahal yang dirinya punya sejauh ini. Gaun berwarna putih dengan rajutan bunga-bunga mewah yang menghiasi setiap sisinya.


Kini, Xena berdiri percaya diri di depan kaca antiknya, menatap pantulan dirinya di dalam kaca. Xena menatap tak suka penampilannya yang begitu anggun, aura seorang wanita lembut begitu pekat pada dirinya.



"Tidak, bukan begini seharusnya penampilanku. Aku harus terlihat sedikit berwarna, ini tidak cocok untukku, sama sekali tidak berwarna. Aku harus mengganti penampilan ini. Aku tidak mau terlihat lemah di hadapan kedua calon Mertuaku. Ya, aku masih punya waktu untuk menggantinya," oceh Xena untuk dirinya sendiri.


Xena kembali mencari gaun lainnya, Xena tersenyum smirik saat mendapatkan sebuah gaun yang menurutnya cocok untuk dia kenakan hari itu. Xena langsung menukar gaunnya. Setelahnya, Xena melepaskan ikatan pada rambutnya, mengambil catokan, kemudian membuat rambut lurusnya menjadi bergelombang. Tak butuh waktu lama, Xena selesai dengan urusan rambutnya.

__ADS_1


kini, Xena mengaplikasikan beragam warna aye shadow di mata indahnya. Mengambil lipstik berwarna merah, lalu mengaplikasikan lipstik berani itu ke bibir tipisnya.



Setelah semuanya selesai, barulah Xena memandang kagum pada dirinya yang ada di dalam kaca antiknya. Tak lama ponsel Xena bergetar, Xena yang sudah tahu apa isinya, tak lagi membacanya. Melainkan, dia langsung ke luar dari kamar, menuju ke depan rumah yang sudah ada Dokter Adit menunggunya dengan mobil mewah berwarna biru.


"Xe-Xena ....


.


.


.



__ADS_1


__ADS_2