Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 57


__ADS_3

Sore harinya, saat Daddy Jackson keluar dan Mommy Nata tidur, saat itulah Lolan memerintahkan Ziva untuk membersihkan setiap sudut rumah, bahkan hingga ke halaman luar rumah. Karena sudah biasa membersihkan rumah, hal itu pun tidak menjadi kendala bagi Ziva.


Dia dapat melakukannya dengan baik meski terkadang harus berhenti kala rasa sakit pada pinggang dan perut datang tiba-tiba. Tidak ada obat yang Ziva konsumsi, hanya minum air putih sebanyak mungkin hingga sakit di pinggangnya mulai berkurang.


Setelah selesai membersihkan semuanya, Ziva yang tidak nyaman dengan tubuh kotor dan keringat segera masuk kembali ke dalam kamar untuk membersihkan diri. Saat masuk, Lolan tengah berada di atas ranjang, berbaring santai sambil berselancar di laptopnya.


Ziva tidak menghiraukan lelaki tampan dengan mata tajam itu, Ziva tetap fokus pada apa yang ingin dia lalukan. Ziva membuka lemari, mengambil piyama yang semuanya hanya ada gaun selutut. Semua pakaian yang ada di lemari sepertinya memang sudah dipersiapkan khusus untuknya. Ziva yakin Mommy Nata-lah yang melakukan itu, mana mungkin Lolan.


Setelah mendapatkan semua keperluan, Ziva langsung masuk ke dalam kamar mandi dan langsung berendam dalam buthub. Bila Ziva tengah asik mandi, maka Lolan saat ini tengah gelisah. Entah apa yang membuatnya gelisah begitu, dirinya sendiri pun tidak tahu.


Lolan kaget, saat tanpa sadar dirinya kini telah berada di depan kamar mandi yang di dalamnya ada Ziva yang sedang membersihkan diri. Lolan sungguh tidak mengerti apa yang telah terjadi kepada dirinya. Memikirkan Ziva yang mandi dengan seksinya, membuatnya menginginkan Ziva saat itu juga.


Entah ada sesuatu apa pada tubuh Ziva hingga dapat menarik tubuhnya secara otomatis, bahkan hanya dengan membayangkannya saja. Sungguh Lolan masih tidak percaya, dia tidak percaya ukuran tubuh Ziva sangat ideal baginya. Sangat pas bila di pegang, lekukan indah itu masih terus membayang-bayanginya, dirinya benar-benar menginginkannya saat itu juga. Darurat! Dia tidak bisa lagi menahannya.


Refleks Lolan memutar ganggang pintu kamar mandi, wajahnya seketika memerah dengan urat-urat lehernya yang mengencang. Lolan murka, Lolan begitu murka hanya karena pintu kamar mandi itu ternyata di kunci dari dalam oleh Ziva. Sungguh menyebalkan.


Lolan menghela napas berat, saat merasa kembali tenang. Lolan melangkahkan kaki menuju ranjang walau berat kaki itu melangkah. Lolan meraih ponselnya cepat, menghubungi Dokter Adit yang saat itu tengah diperjalanan akan pulang.


"Hallo Lolan, ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Dokter Adit di seberang sana.

__ADS_1


"Iya, Adit. Telah terjadi sesuatu yang darurat," jawab Lolan cepat membuat Dokter Adit antusias.


"Apa?" sautnya penasaran.


"Aku menginginkan Ziva!" serunya menggebu-gebu.


"Astaga, apa si otong berdiri?"


"Tidak, dia belum berdiri. Tapi, aku sangat menginginkannya," sahut Lolan lagi.


"Tahan dulu, jangan melihat apa pun. Akan bahaya kalau kau melihatnya, aku khawatir kau akan kesakitan seperti tadi," ujar Dokter Adit panik.


"Yang pasti kau jangan lakukan apa pun, sesuai terapi semua akan dilakukan secara bertahap. Kau harus bisa menahan diri dan jangan apa-apa'kan Ziva hingga hari itu tiba," lanjut Dokter Adit melarang Lolan untuk menyentuh Ziva.


Bukan tanpa alasan dirinya melarang, Dokter Adit takut. Takut sesuatu hal terjadi kepada Lolan, selain Lolan. Dokter Adit juga takut terjadi sesuatu hal kepada Ziva. Ziva belum melakukan pengobatan lagi, dan dia khawatir Ziva akan drop bila melakukan tugas yang berat.


Tidak bisa dia bayangkan bagaimana menderitanya Ziva ketika menjadi mangsa singa buas yang selama ini tertidur. Entah akan seganas apa singa tersebut? Jelas dia masih ingat bagaimana Ziva lari ketakutan saat melihat singa itu bangkit dari tidurnya. Belum sepenuhnya bangkit saja ukurannya sudah sebegitu besar, sungguh tidak dapat Dokter Adit bayangkan sebesar apa bila singa itu bangkit seutuhnya.


"Lebih baik kau pindah kamar saja dulu untuk malam ini," lanjut Dokter Adit memberikan saran.

__ADS_1


"Di lantai dua hanya ada satu kamar. Aku membeli rumah yang kecil," balas Lolan.


"Astaga, kenapa kau pelit sekali? Ya sudah, bagaimana kalau kau tidur di sofa atau di mana terserah, asalkan jangan dulu seranjang dengan Ziva. Apa kau mengerti?" tanya Dokter Adit.


"Baiklah, akan aku lakukan," jawab Lolan langsung memutuskan panggilan sepihak.


Tepat saat dirinya berbalik badan, saat itulah dirinya melihat seorang wanita seksi nan cantik keluar dari kamar mandi. Astaga, Lolan mengumpat dirinya dalam hati, lihatlah bagaimana tercengangnya dia saat memandang leher jenjang dan betis mulus Ziva. Bahkan, mencium aroma tubuh Ziva yang menguar menyegarkan mampu menariknya bak magnet. Lolan tak dapat mengendalikan diri, dia menginginkan Ziva.


.


.


.




__ADS_1


__ADS_2