Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 186


__ADS_3

Kini, Ziva telah siap dengan alat pelindung lengkap.


"Baiklah, mari kita mulai pelatihan ini," ujar Max memberikan sebuah pistol legenda yang telah digunakan selama kurang lebih 7 dekade. Max memilih pistol jenis dengan berat kurang lebih satu setengah kilogram itu untuk Ziva karena pistol itu adalah pistol yang lebih mudah digunakan dibandingkan pistol lainnya.


Ziva menerima pistol itu dengan antusias, Lolan meminta Ziva untuk menerimanya dengan tangan dua. Tapi, Ziva malah menerimanya hanya dengan sebelah tangan, yaitu tangan kanannya. Lolan kaget melihat Sang Istri yang tampak biasa memegang pistol berat itu.


Sedangkan Max hanya tersenyum kecil melihat Ziva yang memegang pistol itu dengan entengnya. "Sepertinya, Calon Tuan mudaku bukanlah orang sembarang," batin Max mulai meminta Ziva untuk fokus menatap terget di depan sana.


Sementara Lolan terlihat begitu mengkhawatirkan Sang Istri. "Tidak perlu terlalu khawatir, Tuan. Nona akan baik-baik saja," ujar Dokter Albern menenangkan, Namum Lolan tetap saja masih gelisah.


"Nona, dengarkan perintah saya baik-baik," ucap Max dan Ziva mengangguk cepat.


"Tarik napas dalam-dalam, kemudian hembuskan dengan perlahan," titah Max dan Ziva pun kembali melakukannya dengan patuh.


"Sekarang Nona tentukan posisi paling nyaman. Memegang pistol dengan dua tangan juga tidak apa-apa bila terasa berat."


"Sepertinya lebih nyaman tangan satu saja," jawab Ziva.

__ADS_1


"Baiklah. Sekarang Nona pusatkan pikiran dan berkonsentrasilah pada titik sasaran tembak di depan sana, ada jarak sekitar 100 meter yang harus Nona taklukan. Selanjutnya, pastikan Nona yakin dan tidak ada keraguan sama sekali." dengan memejamkam segelah matanya, Ziva tampak begitu yakin.


"Apa sudah yakin?" tanya Max dan Ziva langsung menganggukan kepalanya.


"Bila sudah. Tarik pelatuk dan tembak!"


Lolan terbelalak kaget, sedangkan Max dan Dokter Albern tampak tersenyum kecil kala mereka berdua sudah menebak apa yang akan terjadi.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, bukan?" tanya Lolan khawatir sekaligus kaget melihat tembakan Sang Istri begitu tepat mengenai bagian tengah kepala. Kepala adalah bagian paling mematikan bila ditembus oleh proyektil peluru, karena di sanalah tempat otak berada. Seseorang yang ditembak di bagian otaknya, tidak akan memiliki celah sedikit pun untuk dapat selamat.


"Aku baik-baik saja. Lihat ini, aku akan melakukannya lagi."


Lolan langsung menutup kedua telinganya dengan telapak tangan. Dia tampak benar-benar shock melihat Ziva yang membidik tepat mengenai sasaran yang dia inginkan.


Papan di depan sana kembali berlubang di kedua kaki, dada dan perut. Tak hanya Lolan yang kaget, tapi Max juga cukup terkejut dengan apa yang Ziva lakukan. Yang Ziva lakukan pertama kali masih mampu diterima akal sehatnya. Namum, yang kali ini benar-benar membuatnya seakan tak percaya. Hal seperti ini baru pertama kali Max lihat.


Seketika Max merasa tubuhnya merinding kala membayangkan akan sekejam apa calon Tuan Muda keluarga Talsen Baldev selanjutnya.

__ADS_1


***


Setelah mengantar Dokter Albern kembali ke Apartemennya, Ziva langsung meminta Lolan untuk membawanya ke Mansion Jonasan karena Ziva merasa sangat merindukan Sepupunya, Xena.


Beberapa menit di perjalanan, mobil pun terparkir di depan rumah Adit dan Xena. Keduanya di sambut langsung oleh pelayan. Masuk ke dalam rumah, Lolan dan Ziva dipersilahkan duduk di ruang tamu.


Biasanya Mommy Adna dan Daddy Jonas yang selalu menyambut kedatangan mereka. Namun, keduanya tak terlihat sama sekali. Tak lama berselang, Adit pun tiba seorang diri menyambut kedatangan Lolan dan Ziva.


"Xena di mana, Adit?" tanya Ziva heran.


"Sekarang Xena sedang istirahat di kamar, dia bilang tidak enak badan. Tapi, dia keras kepala tidak mau minum obat, di bawa ke rumah sakit juga tidak mau. Melainkan dia memaksaku untuk pergi ke kantor, mana mungkin aku meninggalkannya dalam kondisi seperti itu," keluh Adit yang penampilannya tampak begitu kusut.


"Kau sendiri mantan Dokter, kenapa tidak memeriksa Xena langsung," sahut Lolan, sedangkan Ziva terlihat sangat mengkhawatirkan Xena.


"Bagaimana caraku memeriksa kondisinya bila dia tidak mengizinkan aku untuk menyentuhnya sedikit pun," balas Adit kesal.


"Benarkah? Astaga, aku akan melihat keadaannya sekarang," Ziva yang panik langsung berjalan cepat menuju lantai atas.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, Sayang. Jangan terburu-buru!"


"Iya!" jawab Ziva juga berteriak.


__ADS_2