
Tiba di Mansion, kedatangan Lolan dan Ziva disambut dengan penuh kepanikan oleh Mommy Nata dan Daddy Jackson yang berlari ke arah mobil mereka yang terparkir. Pasangan paruh bayah itu tampak begitu khawatir setelah mendapatkan kabar buruk itu dari Sekretaris Devil.
"Ayo masuklah, Dokter sudah menunggu di dalam," Daddy Jackson membantu Putranya masuk ke dalam rumah.
"Sayang, kamu baik-baik saja, bukan?" tanya Mommy Nata khawatir dan Ziva langsung mengangguk mengiyakan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Sayang, dia siapa? Astaga, tampan sekali persis seperti Lolan kecil dulu," Mommy Adna langsung berjongkok dan membelai wajah tampan anak kecil berusia tujuh tanun yang menurutnya punya kemiripan dengan Lolan sewaktu kecil.
"Dia adalah anak yang Lolan tolong hingga mendapatkan luka, Mommy." jelas Ziva membuat Mommy Nata seketika langsung mengingat Putranya yang terluka.
"Astaga, Mommy hampir melupakan Lolan. Ayo sayang kita masuk ke dalam, pangeran kecil ini biar Mommy saja yang bawa," tutur Mommy Nata tak ingin melihat Ziva kesulitan berjalan.
"Baik, Mommy." jawab Ziva dan ketiganya pun langsung masuk ke dalam istana mewah itu. Terlihat anak kecil itu ragu dan segan untuk menginjakkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Tapi, Mommy Nata malah menggendongnya dengan cepat.
Tiba di dalam rumah, mereka semua menunggu di depan ruang khusus yang di dalamnya terdapat Lolan yang sedang diobati lukannya.
Beberapa menit kemudian.
"Bagaimana kondisi Putra saya?" tanya Daddy Jackson pada Dokter.
"Baik-baik saja, Tuan. Tuan Lolan hanya mengalami luka luar biasa dan tidak terlalu parah." jelas Sang Dokter.
__ADS_1
"Mommy, Daddy, Ziva, tidak perlu khawatir. Kan sudah aku katakan ini hanya luka biasa," sambung Lolan yang langsung keluar dengan santai dari ruangan khusus itu.
"Sayang, syukurlah kamu baik-baik saja," Ziva langsung mendekat dan menatap tepat pada perut Lolan yang sudah ditutup kain kasa dengan rapat.
"Aku yang bersyukur karena kamu baik-baik saja, berkat kamu juga aku baik-baik saja," ucap Lolan sambil mendekap Ziva erat.
"Kalau semua sudah baik-baik saja, mari kita berkumpul di ruang tamu saja," ajak Daddy Jackson dan semuanya pun langsung menuju ruang tamu dan duduk di kursi masing-masing, termasuk seorang anak kecil tampan yang Lolan dan Ziva selamatkan.
"Siapa namamu, Nak?" tanya Mommy Nata memulai introgasinya.
"Simone Atlemose," jawabnya seraya menundukkan wajah.
"Nama yang bagus. Mulai sekarang namamu adalah Simone Atlemose Talsen Baldev," ujar Mommy Nata yang sudah mengubah PT. Samudera Raya menjadi TB grup, di mana T untuk nama Almarhum Ayahnya yaitu Talsen dan Baldev adalah nama belakang Suaminya sendiri yaitu Jackson Baldev. Karena perubahan itu nama belakang anak-anaknya pun juga turut berubah menjadi Lolan TB dan Lolin TB.
"Iya, Sayang. Aku sudah memutuskan dan mulai sekarang Simone juga bagian dari keluarga besar kita, keluarga besar Talsen Baldev." jelas Mommy Nata.
"Dia akan menjadi Cucu kita atau anak kita?" tanya Daddy Jackson lagi.
"Tentu saja Cucu, memangnya seusiaku masih bisa punya anak?" tanya Mommy Nata dengan tahapan meremehkan.
"Kau ingin mengujiku?" tatapan tajam Mommy Nata dapatkan.
__ADS_1
"Mommy, Daddy, hentikan!" cela Lolan.
"Apa?" tanya keduanya bersamaan. Lolan mengabaikan keduanya, dia lebih fokus pada anak kecil tampan yang memiliki nama Simone itu.
"Apa benar yang mengejarmu tadi itu adalah Ayah kandungmu?, dan kenapa kau ketakutan pada Ayahmu sendiri? Apa benar Ayahmu ingin menjualmu? Di mana Ibu dan anggota keluargamu yang lainnya?" tanya Lolan menatap tajam Simone.
"Lolan, jangan menekannya! Kau membuatnya ketakutan," potong Mommy Nata.
Melihat kelakuan tiga orang tercintanya, Ziva menggelengkan kepala lalu menghembuskan napas kasar. "Sayang kemarilah," panggil Ziva lembut pada Simone. Simone pun mendekat dan duduk tepat di samping Ziva.
Ziva membelai kepala Simone dengan lembut, Simone pun memejamkan matanya, seakan baru saja mendapatkan kasih sayang dari seorang Ibu.
"Yang tadi mengejarmu itu, apakah benar adalah Ayahmu?" tanya Ziva masih membelai rambut hitam mengkilat itu perlahan. Simone merespon pertanyaan Ziva, dia mengangguk sebagai jawaban.
"Ibumu ke mana?" lanjut Ziva kembali mengintrogasi dengan memberikan kehangatan seorang Ibu.
Mendengar pertanyaan Ziva, Simone menengadah, menatap Ziva dengan mata berkaca-kaca, pria kecil tampan itu terlihat menyembunyikan begitu besar kesedihan. Ketika air matanya lolos dia pun berucap. "Dijual."
.
.
__ADS_1
.
Misteri Simone akan ada di next Novel ya, Guys 🤗