Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 72


__ADS_3

"A-akan aku la-lakukan," jawab Ziva antara ragu dan yakin.


"Apa yakin?" bukan hanya Ziva yang merasa gugup tapi Lolan juga tak kalah gugupnya.


"A-aku yakin. Tapi, bolehkah aku tidak melihatnya? A-aku takut," balas Ziva langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Mendekatlah," pinta Lolan meminta Ziva untuk mendekat padanya. Ziva beringsut patuh, mendekat pada Lolan yang kini masih duduk di pinggir ranjang.


Ketika Ziva sudah berada di dekatnya, Lolan tiba-tiba memeluk Ziva dari samping. Dengan posisi itu, Ziva tidak akan melihatnya.


"Apa sudah siap? Apa sudah boleh dimulai?" tanya Lolan meminta izin kepada Istrinya sebelum memulai aksinya.


"Hem, aku siap," jawab Ziva yakin.


Ziva menutup sebelah matanya ketika Lolan menuntun tangannya hingga menyentuh sebuah benda yang terasa keras.


"Kalau tidak siap, aku akan melakukannya sendiri," ujar Lolan karena dirinya pun tidak ingin Ziva melakukan hal itu. Namun, keduanya sama-sama patuh akan apa yang Dokter Adit perintahkan.

__ADS_1


"Tidak usah, aku bisa melakukannya," dengan sebelah tangannya Ziva memeluk erat tubuh Lolan, sedangkan tangan kirinya mulai bermain di sana. Ziva tidak mengerti, dia hanya menaik turunkan tangannya seirama.


Ketika tubuh Lolan bergetar, Ziva pun juga ikut bergetar. Dia merasakan sendiri betapa besar dan perkasanya benda itu, entah kenapa Ziva tak henti merasa takut.


Lolan yang baru pertama kalinya menikmati sensasi itu, benar-benar dibuat menggila. Dia ingin menerkam Ziva saat itu juga, tapi dia tidak mungkin tega bila Ziva belum siap, apalagi kondisi Ziva yang sedang tidak sehat saat ini. Ziva mempercepat durasi permainan ketika Lolan memintanya.


Lolan mengeratkan pelukannya pada tubuh Ziva saat tubuhnya tiba-tiba melayang di udar—kala menikmati sebuah rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, tubuhnya lemas seketika. Lolan merasa begitu lega, begitu juga Ziva, dia juga merasa lega karena telah berhasil membuat Lolan sembuh dari penyakitnya. walau belum sepenuhnya sembuh, karena benda dengan ukuran jumbo itu belum masuk ke dalam tempat yang sesungguhnya.


"Maaf," bisik Lolan di telinga Ziva.


"Aku baik-baik saja, ini juga adalah tahapan terapi yang harus dijalani, sudah seharusnya aku membantu. Aku senang berhasil menyelesaikan tugas yang Dokter Adit berikan," balas Ziva juga memeluk erat Lolan.


"Aku juga berterima kasih karena sudah memaafkan kesalahan Ayahku di masa lalu," sahut Ziva. Keduanya masih saling memeluk erat.


Lolan melonggarkan pelukannya, meraih wajah Ziva dengan kedua tangannya. Lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Ziva. Ziva memejamkan matanya saat bibir tipis Lolan kembali menempel di bibir ranumnya. Ciuman manis kembali terjadi, kali ini Ziva dapat menyambut dengan baik walau masih kaku.


***

__ADS_1


"Huwa, Dokter jahat, Dokter menyiksaku," Xena menangis semakin menjadi-jadi.


Tidka peduli, Dokter Adit meninggalkan Xena seorang diri di kamarnya. "Dokter jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku benar-benar tidak tahan! Ahhh ... Aku ingin mati saja," ancam Xena tapi Dokter Adit benar-benar telah pergi meninggalkannya.


Xena yang benar-benar sudah kelelahan serta merasa begitu lemas, tak dapat berbuat banyak. Kini Xena benar-benar menangis, dia merasa akan mati saat itu juga. Dia tidak mengerti entah apa yang diberikan di jusnya, tapi yang pasti Xena ingin mendapatkan pelepasan agar semua rasa tak nyaman itu pergi darinya.


Tak lama kemudian, Dokter Adit kembali ke kamar dengan kekecewaan yang mendalam lantaran tak berhasil menemukan obat yang biasanya selalu dia simpan untuk berjaga-jaga, hanya saja dia tidak berhasil menemukan obat itu.


"Xena, bangunlah, apa kau baik-baik saja?" tanya Dokter Adit panik saat mengira kalau Xena tak lagi sadarkan diri.


"A-aku ti-dak ta-han ....


.


.


.

__ADS_1


Sudah bab 72. Tapi, kok masih nggak ada yang nanya kapan buka kado🧐💃


__ADS_2