
"Ayo keluar! Apa lagi yang kamu tunggu?" sergah Lolan kala dirinya sudah berada di luar mobil, tapi Ziva masih betah duduk di dalam mobil.
Ziva menghirup napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, setelah merasa tenang, barulah dia ke luar dari dalam mobil.
"Maaf membuat Tuan menunggu," ujar Ziva menundukkan wajahnya dalam.
"Tidak perlu banyak drama, kamu yang membuatku begini dan kamu juga yang harus membuatku kembali pulih. Kalau kamu tidak berhasil, maka jangan harap aku akan memaafkanmu!" ancam Lolan lalu berjalan mendahului Ziva, Ziva pun mengekor di belakang Lolan dengan perasaan yang tak karuan.
Bagaiamana pun, Ziva tau seperti apa perasaan Dokter Adit terhadapnya. Mengingat apa yang dikatakan Mommy Nata, membuat Ziva langsung membayangkan terapi aneh yang akan dia jalani nantinya.
Tentu Ziva siap melakukan segalanya, dirinya siap bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada Lolan. Lagipula, tidak haram baginya melakukan itu, karena dirinya adalah Istri sah dari seorang Lolan Baldev. Hanya saja, Ziva merasa risih bila melakukan itu semua tepat dihadapan Dokter Adit.
Ziva tidak ingin menyakiti hati Dokter Adit, tapi dirinya tidak punya pilihan lain. Dalam hati Ziva berjanji akan melakukan apa pun asalkan Lolan bisa kembali normal seperti semula. Andai posisinya dapat ditukar. Ziva ingin dirinya saja yang mengalami penyakit itu, bukannya Lolan.
Tiba di dalam lift, Ziva merasa semakin gugup. Walau sudah berusaha mempersiapkan hatinya, tapi tetap saja rasa gugup tidak bisa dia hindari.
"Astaga! Ada apa denganmu?" Geram Lolan kesal karena Ziva masih betah di dalam lift.
"Maaf Tuan," jawab Ziva langsung keluar dari lift menyusul Lolan yang berjalan menuju ruangan Dokter Adit lebih dulu.
Tok, tok, tok ....
"Masuk!" teriak Dokter Adit di dalam sana. Ziva kembali menghela napas berat.
"Selamat datang Lolan dan Nona Ziva," sapa Dokter Adit dengan raut wajah ramah, membuat Ziva merasa sedikit lega. Setidaknya, Dokter Adit tidak begitu hancur dengan pernikahannya.
"Kamu mengenalnya?" tanya Lolan langsung duduk di kursi yang ada di hadapan Dokter Adit.
"Tentu saja, aku datang ke pesta pernikahan. Tapi tidak bisa lama, aku langsung pulang karena ada operasi mendadak," jawab Dokter Adit.
__ADS_1
"Hem," sahut Lolan singkat.
"Silahkan duduk, Nona Ziva," titah Dokter Adit dan Ziva pun segera duduk di samping Lolan.
"Terapi seperti apa yang akan aku jalani sekarang?" tanya Lolan santai.
"Terapinya akan dilakukan bertahap dan mungkin butuh waktu yang lumayan lama. Aku akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu kepadamu. Oh iya, sebelum itu aku ingin mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua, selamat Lolan," uluran tangan Dokter Adit disambut santai oleh Lolan.
"Selamat juga untuk Nona Ziva, semoga selalu bahagia," uluran tangan Dokter Adit disambut baik oleh Ziva, walau dengan wajahnya yang memucat karena merasa begitu gugup.
"Terima kasih, Dokter," sambut Ziva.
"Baiklah, sekarang mari kita mulai," seru Dokter Adit langsung berdiri.
***
"Gue mau tanya deh sama Lo berdua," ujar Xena sambil meneguk minumannya.
"Tanya apa sih? Tanya aja, nggak usah bikin kita berdua penasaran," sahut Ana sambil mengipas bibirnya panas karena kepedasan.
"Iya nih, tanya ya tanya aja," lanjut Cristi tetap santai.
"Jadi gini, emm ... Kita bisa hamil nggak sih kalau milik cowok udah masuk?"
"Uhukk!" Kedua sahabatnya pun langsung tersedak makanan kala kaget dengan pertanyaan polos yang Xena lontarkan.
"Maksud Lo? Lo berhasil tidurin Dokter Adit? Lo serius?" tanya Ana tak percaya.
"Lo beneran berhasil, Xena? Gila, gue nggak nyangka Lo sehebat itu," puji Cristi.
__ADS_1
"Kalian jangan ngomong gitu ih, gue takut hamil," sahut Xena.
"Keluarnya di dalam?" tanya Ana.
"Maksudnya?" tanya balik Xena.
"Crotnya, di dalam apa di luar?"
"Gue nggak tau, gue enggak lihat. Tapi, kayaknya sih enggak. Lagipula belum masuk kok, eh, udah masuk apa belum, ya," kata Xena bingung.
"Lo gimana sih, udah masuk apa enggak?" tanya Cristi geram.
"Kayaknya udah," ucap Xena yakin.
"Lo udah minum pil KB?" tanya Ana.
"Belum, Lo bawa nggak?" kembali Xena bertanya.
"Ya enggaklah, gila aja gue bawa pil KB ke sekolah, bisa berabe kalau razia tiba-tiba," jawab Ana kembali menyeruput mienya.
"Lagian Lo kok teledor banget sih. Kalau hamil bahaya loh, bisa-bisa dikeluarkan dari sekolah belum lagi malunya," sambung Cristi membuat Xena ketakutan.
"Terus gue harus gimana?"
.
.
.
__ADS_1