
"Permisi. Maaf, Tuan dan Nyonya, saya datang karena ingin memberikan bingkisan ini, di sini tertulis 'untuk calon Istri tercinta'," ujar seorang pengawal sambil membaca tulisan yang tertera di atas bingkisan itu.
"Dari siapa?" tanya Mommy Nata.
"Dari Tuan muda, Nyonya. Tuan muda mengatakan hadiah ini khusus untuk calon Istrinya, Tuan muda juga mengatakan bahwa hadiah ini sebagai permintaan maafnya karena tidak bisa hadir di acara malam ini," jawab pengawal sopan dan ramah.
"Baik, bawa ke sini hadiahnya," pinta Mommy Nata.
"Ini, Nyonya. Kalau begitu saya permisi," ujar kembali pengawal itu seraya membungkukkan badannya memberi hormat.
"Ziva, ini bingkisan buat kamu. Terimalah," kata Mommy Nata berdiri sambil mengulurkan bingkisan itu kepada Ziva.
"Terima kasih banyak, Mommy. Sampaikan juga terima kasihku kepada Tuan muda," belas Ziva tersenyum manis menerima bingkisan walau hatinya agak ragu.
"Pasti, Sayang. Pasti akan Mommy sampaikan," saut Mommy Nata juga tersenyum manis.
"Mari kita mulai saja makan malamnya," seru Daddy Jackson memulai makan lebih dulu.
Bibi Aslin, Xena dan Ziva pun mulia melahap makanan enak di hadapan mereka.
"Sayang, menurutmu apa yang Lolan berikan untuk Ziva?" bisik Mommy Nata di telinga Suaminya.
"Aku juga tidak tau, Sayang. Tapi, firasatku mengatakan kalau itu adalah hal yang buruk," jawab Daddy Jackson membuat Nata merasa khawatir.
Ziva makan dengan lahap makanan enak yang selama ini belum pernah dia coba. Ziva merasa bahagia mendapat cinta dan kasih sayang dari Mertunya yaitu Mommy Nata.
Calon Suaminya yang tidak sempat hadir membuat Ziva merasa lega. Karena sebenarnya dia memang belum siap untuk bertemu dengan pria yang sebulan lagi akan menjadi Suaminya itu.
"Nyonya Aslin apakah masih bekerja?" tanya Daddy Jackson kepada Bibi Aslin yang diyakininya adalah kepala keluarga.
"Iya, Tuan. Kebetulan saya bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan cabang milik Tuan Jackson," lapornya merendah berharap dinaikan jabatan.
__ADS_1
"Benarkah?" tanya Daddy Jackson lagi.
"Iya, Tuan. Saya bekerja sebagai karyawan. Saya bekerja hanya untuk membayar utang almarhum Suami saya yang telah meninggal, dan selama ini Zivalah yang bekerja untuk membiayai makan kami sehari-hari. Kalau Xena putri saya, dia masih pelajar kelas 2 SMA," lanjutnya dengan raut wajah yang tampak begitu menyedihkan.
Ziva yang mendengar itu hanya dapat menundukkan wajahnya, Ziva tidak habis pikir bahwa Bibinya akan mengatakan hal itu. Namun, Ziva tak bisa membantah karena apa yang Bibinya katakan adalah sebuah kenyataan.
"Ziva bekerja sebagai apa?" tanya Daddy Jackson kepada Ziva.
Ziva menaikkan pandanganya, menatap Daddy Jackson dengan mata tajam itu membuatnya merasa takut, bahkan lidahnya kelu tak mampu bicara.
"Sa-saya bekerja se-bagai penjual sayuran, Tu ... Dad-dy," jawab Ziva gugup.
"Kedepannya, semua biaya hidup Bibi Aslin dan Xena akan saya tanggung, anggap saja itu sebagai ucapan terima kasih karena sudah merawat menantu kami dengan baik. Untuk utang almarhum Suami Nyonya juga akan saya bantu lunasi," tegas Daddy Jackson membuat Mommy Nata merasa bangga dengan kebaikan hati Suaminya.
Mendengar itu, Bibi Aslin berdiri dari duduknya, Ziva dan Xena pun juga ikut berdiri seraya membungkukkan badan mereka.
"Terima kasih banyak, Tuan, Nyonya. Saya sangat berterima kasih atas kemurahan hati Tuan dan Nyonya. Saya tulus merawat Ziva selama ini. Tapi, jika Tuan dan Nyonya banar-benar tulus membantu, maka saya akan menerimanya dengan senang hati."
***
Sedangkan Lolan tengah berada di sebuah club mewah yang terkenal di kota. Ditemani Dokter Adit, keduanya sudah duduk santai di dalam sebuah ruangan khusus. Beberapa botol anggur dan cemilan juga tertera di atas meja.
"Kau tidak boleh minum, Lolan," larang Dokter Adit mencegah Lolan yang akan minum anggur.
"Sekali ini saja," ujar Lolan merebut kembali gelas anggurnya dan langsung meneguknya sampai habis.
"Kalau kau terus begini, aku pastikan kau tidak akan sembuh dari penyakitmu," kesal Dokter Adit geram dengan kelakuan sahabatnya itu.
"Biarkan, biarkan aku tetap impoten," sentak Lolan.
"Ada masalah apa denganmu? Apa kau menghindari sesuatu lagi?"
__ADS_1
"Ya, aku tidak mau bertemu gadis itu!" jawab Lolan menuangkan lagi anggurnya.
"Maksudmu calon Istrimu?"
"Iya, sekarang dia ada di rumahku."
"Kenapa tidak datang dan melihat langsung seperti apa dia? Siapa tau kau menyukainya," saut Dokter Adit menuangkan anggur juga untuknya.
"Secantik apa pun dia, aku bersumpah tidak akan jatuh cinta kepadanya!" sumpahnya dengan nada berteriak.
.
.
.
Lolan Baldev
Zivanya
Dokter Adit
Xena
__ADS_1