
"Sekarang kamu boleh pergi," usir Dokter Adit.
"Tidak mau, aku tidak akan pergi sebelum Dokter jatuh cinta kepadaku," jawab Xena langsung menjatuhkan tubuh seksinya ke atas pangkuan Dokter Adit yang masih duduk di atas kursi keberasarannya.
"Xena, turun!" Dokter Adit akan berdiri, namun Xena menahannya.
"Apa Dokter benar-benar tidak mencintaiku?" tanya Xena melingkarkan kedua tangannya di leher kekar Dokter Adit.
"Kamu masih sekolah Xena, seharusnya kamu tetap fokus pada sekolahmu. Bukannya menjadi jal*ng dan terus menggoda saya, apa kamu tidak sadar bahwa apa yang kamu lakukan ini sangatlah rendahan. Saya bukannya mencintai kamu, tapi saya malah merasa jijik dengan apa yang sekarang kamu lakukan," jelas Dokter Adit akhirnya mengatakan apa yang sedari tadi ingin dia katakan.
"Dengar, Dokter yang tampan, kaya, dan baik hati. Apa yang bisa aku lakukan? Katakan, apa yang bisa aku lakukan? Dokter adalah pria sempurna di dunia ini, tampan dan pastinya sangat kaya raya. Sedangkan aku, hanya wanita biasa yang tidak punya apa-apa. Katakan apa yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan Dokter?" ketus Xena yang merasa sakit hati dengan ucapan Dokter Adit yang mengatakannya wanita jal*ng.
"Lakukan apa pun asal tidak merendahkan harga dirimu. Semiskin-miskinnya manusia, dia punya hal paling berharga yaitu harga diri. Saya tidak menyukai wanita penggoda walau dia bisa menggoda saya hingga saya benar-benar tergoda. Dengan cara yang kamu lakukan saat ini, apa kamu mau saya hanya memanfaatkan kamu. Apa kamu mau saya campakkan setelah saya mendapatkan apa yang saya ingin dari kamu."
"Apa Dokter akan benar-benar menerimaku kalau aku berubah?" tanya Xena langsung berdiri dan membenarkan pakaiannya yang terbuka.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Jujur saja, kamu juga termasuk tipeku, tapi tidak dengan sikap murahan itu," imbuh Dokter Adit.
"Baik, kalau begitu aku akan berubah dan tidak akan bersikap seperti tadi lagi. Tapi, Dokter harus tetap mengizinkanku untuk menggantikan posisi Kak Ziva, bagaimana?" tawar Xena memberikan syarat.
"Baik, tapi besok kamu harus membujuk Kakakmu untuk melakukan pengobatan. Kalau kamu berhasil membujuk Kakakmu untuk berobat, saya akan menjadikan kamu pacar, bagaiamana?" ujar Dokter Adit balik memberikan tawaran.
Terlihat Dokter Adit terpaksa mengatakan hal itu. Entah sudah seberapa besar rasa cintanya kepada Ziva hingga dia rela melakukan apa pun agar Ziva mau berobat dan kembali sembuh.
Dengan bantuan Xena, Dokter Adit yakin akan berhasil membuat Ziva punya sedikit semangat untuk sembuh.
"Tentu saja saya serius. Tapi ingat, kamu akan saya jadikan pacar bukan Sugar Baby," jawab Dokter Adit pada Xena yang masih terdiam di tempat karena masih berusaha mencerna apa yang sekarang terjadi.
"Apa Dokter terpaksa melakukan ini agar aku tidak menggoda Dokter lagi? Dokter belum mencintaiku, bukan?"
"Tidak sama sekali, saya serius dan tidak terpaksa sama sekali," jawab Dokter Adit berbohong.
__ADS_1
"Walau saya belum mencintai kamu sepenuhnya, saya akan berusaha untuk menerima kamu. Asalkan, kamu benar-benar mau berubah menjadi gadis yang baik," sambung Dokter Adit lagi.
"Baik, aku berjanji akan menjadi gadis yang baik mulai. sekarang," tegas Xena semangat.
"Bagus, sekarang pulanglah dan bujuk Kakakmu," saut Dokter Adit.
"Baik, Tapi ingat, Dokter harus menepati janji. Apakah aku akan pulang sendiri? Tidak diantar pulang oleh Dokter?" tanya Xena yang berharap pulang di antar oleh Dokter Adit yang sebentar lagi akan menjadi pacarnya.
"Saya suka gadis mandiri dan tidak manja," saut Dokter Adit membuat Xena langsung meraih tasnya di meja dan langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa.
.
.
.
__ADS_1