Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 26


__ADS_3

Siang itu, setelah menyelesaikan meeting penting di perusahaan. "Tuan, apa kita langsung ke rumah calon Istri Tuan?" tanya Sekretaris Devil.


"Tidak," jawab Lolan singkat.


"Jadi, sekarang kita akan ke mana, Tuan?" sesekali melirik ke arah spion untuk melihat ekspresi Tuannya yang duduk di kursi belakang.


"Ke Apartemen," Lolan tampak memejamkan matanya.


"Lalu bagaimana dengan calon Nona muda?" Sekretaris Devil tidak ingin terjadi perperangan lagi antara Tuan muda dan Nyonyanya.


"Siapkan Supir untuk menjemput dan mengantarnya ke butik, tidak usah beri tahu Mommy. Katakan juga kepada pihak butik dan gadis itu untuk bekerja sama," jelas Lolan masih betah terpejam.


"Baik, Tuan."


***


Setelah membersihkan rumah juga masak untuk makan siang, Ziva langsung menuju kamarnya untuk beristirahat karena merasa sangat lelah.


Derrtt....


Ponselnya bergetar tanda ada pesan yang masuk, Ziva langsung membuka dan membaca pesan dari Mommy Nata

__ADS_1


Mommy Nata : Ziva sayang, ini Mommy, Mommy Nata. Mommy cuma mau bilang kalau Putra Mommy calon Suami kamu sebentar lagi akan menjemputmu untuk mencoba gaun pengantin. Kamu siap-siap dulu, ya. Sebentar lagi Putra Mommy akan tiba, semangat sayang. Mommy yakin kamu pasti suka dengan desain gaun pilihan Mommy. Dadah sayang, selamat bersenang-senang.


Ziva terdiam seribu bahasa, karena sesungguhnya dia belum siap untuk bertemu dengan calon Suaminya itu. Namum, Ziva harus tetap melakukan itu, cepat atau lambat, dirinya juga akan bertemu dengan pria yang sama sekali tak Ziva kenali itu.


Karena merasa aroma tubuhnya tak sedap, Ziva pun buru-buru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tidak sampai sepuluh menit, Ziva telah menyelesaikan mandinya. Menuju lemari, Ziva mengambil gaun acak dan segera memasangnya. Tidak biasa menggunakan make up, Ziva tampil polos dan apa adanya. Meski begitu, kecantikan alaminya selalu terpancar dan bersinar.


"Kak Ziva mau ke mana rapi amat?" tanya Xena yang baru pulang dari sekolah. Xena langsung duduk beristirahat di sofa lusuh mereka.


"Mau ke butik untuk mencoba gaun pengantin. Kamu mau ikut?" tawar Ziva.


"Enggak ah, aku mau ke rumah sakit," jawab Xena seketika ceria.


"Ah iya, hampir Kakak lupa," sambung Ziva akan keluar dari rumah karena sudah ada sebuah mobil berwarna hitam yang menunggu di depan.


"Apa anda Tuan mudanya?" tanya Ziva bingung.


"Haha ... Bukan, Nona. Saya adalah salah satu pengawal yang Tuan muda percaya. Tuan muda sedang ada rapat penting, jadi tidak bisa menemani Nona ke butik," jawab Supir itu sopan.


"Jadi begitu," jawab Ziva malah merasa senang, karena dirinya pun belum siap untuk bertemu dengan calon Suaminya.


Dengan senang hati Ziva segera masuk dengan perasaan yang begitu lega. "Oh iya, Nona. Kalau misal Nyonya Nata menanyakan dengan siapa Nona pergi ke butik. Tolong katakan kalau Tuan muda sendiri yang mengantar dan menjemput Non. Nona tidak keberatan, bukan?" tanya Supir sebelum memulai perjalanan.

__ADS_1


"Jadi, saya harus berbohong?" tanya Ziva tidak suka.


"Maaf, Nona. Saya hanya menyampaikan pesan Tuan Muda. Nyonya akan memarahinya bila tidak menemaini Nona. Terjadi sesuatu di perusahaan, bisakah Nona melakukan itu demi kebaikan Nyonya dan Tuan muda saya," bujuk Supir itu membuat Ziva akhirnya menyetujui.


***


Begitu tiba di rumah sakit dengan menaiki taksi online, Xena menuju ruangan Dokter Adit setelah bertanya kepada salah satu karyawan di lobby.


Xena langsung masuk ke sebuah ruangan yang bertuliskan Dr. Adit, Xena tercengang kala menatap setiap sudut ruangan tidak berpenghuni yang terlihat begitu tertata rapi, menandakan Sang pemiliknya adalah pria yang pandai menjaga kebersihan..


Ceklek!


Suara gangang pintu yang di buka seseorang. Reflek, Xena langsung bersembunyi di bawah meja kebesaran Dr. Adit.


Dari bawah meja, Xena dapat mendengar dialog percakapan antara Dr. Adit dan pasiennya.


Tak lama berselang, Dr. Adit duduk di kursi kebesarannya. Xena yang duduk berjongkok di bawah kolong meja, dapat melihat dengan jelas sel*ngkangan Dokter Adit yang berada tepat di hadapannya.


"Hemm ahhh....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2