
"Say—" ucapan Lolan tak tembus kala melihat Sang Istri telah tertidur dengan pulasnya. Nafsu yang sebelumnya memuncak kini mendadak turun hingga tak bersisa.
Lolan menghela napas beratnya, berjalan gontai menuju tempat pembaringan Sang Istri. Duduk di pinggir kursi, Lolan menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik Ziva.
Puas memandang wajah yang bagai candu itu, Lolan pun langsung mengangkat Ziva masuk ke dalam kamar, lalu dia baringkan ke atas ranjang dengan begitu Perlahan, memperlakukan tubuh Ziva bak porselen berharga yang gampang pecah. Lolan ikut naik ke atas ranjang dan berniat menyusul Ziva yang telah lebih dulu mengarungi alam mimpi.
Baru beberapa menit kemudian Lolan memejamkan matanya, tiba-tiba saja dia dibuat kaget dengan pergerakan dari tubuh Ziva yang langsung memeluknya begitu erat sambil berkata lembut. "Sayang, aku mau kamu." Ucapan lembut dan terkesan malu-malu itu mampu membuat Lolan bersemangat seketika, api-api asmaranya tiba-tiba kembali membara.
"Sayang, lihat aku," Lolan menuntun wajah Ziva untuk menatapnya dalam. Saat mata keduanya saling bertukar pandang, keduanya dapat merasakan gelombang cinta yang semakin hari semakin membara.
"Malu," Ziva langsung memutuskan pandangan kala malu bila terus menatap bola mata tajam milik Lolan. Ziva kembali membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Suaminya.
"Jadi, boleh nih?" tanya Lolan memastikan.
"Hu'um," dengus Ziva yang terdengar malu-malu.
__ADS_1
"Sepertinya baby kita laki-laki, Sayang. Aku heran kenapa baby kita sangat menyukai ini. Tunggu, apa ini bukan pembawaan calon baby kita," goda Lolan membuat merah kedua pipi Ziva.
"Aku tidak tahu. Tapi, sebelum mengandung aku tidak begini," bantah Ziva cepat.
"Kalau benar calon baby kita adalah laki-laki, aku akan memberikannya nama yang bagus," tutur Lolan sambil mengelus perut datar Ziva.
Mendengar itu, Ziva langsung mendongakkan kepalanya sambil bertanya penasaran. "Siapa?"
"D ... s ... n A ... l ... m ... s ... Bagus, bukan?" (Ada yang bisa isi titik itu, Guys. Yuk tebak yuk nama lengkapnya😍. Btw, itu nama pemeran utama di sekuelnya nanti ya, yang akan publish awal bulan nanti😍)
"Usan, dia dipanggil ... s ... n." jawab Lolan tersenyum manis kala tak sabar menanti kedatangan buah hatinya.
"... s ... n. Wah, namanya lucu sekali, Sayang." Ziva terlihat sangat menyukai nama yang Lolan persiapkan.
"Nama untuknya sudah ketemu, sekarang mari kita penuhi keinginannya," seru Lolan langsung mengukung tubuh Ziva. Lolan tersenyum puas menatap Ziva yang juga membalas senyumannya walau dengan malu-malu.
__ADS_1
Perlahan, Lolan mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Ziva, mengikis jarak di antara mereka, hingga kedua bibir mereka saling menempel, saling me lu mat, saling meny sap semakin dalam hingga semakin terlena akan kenikmatan cinta yang keduanya gapai di malam itu.
"Uuhhh ..." lenguh Ziva tak kuat menahan suara erotisnya, ketika permainan handal lidah Sang Suami turun semakin ke bawah. Bibir hangat itu menyusuri denti demi senti tubuh Ziva dan tidak ada satu bagian pun yang lepas dari belaiannya.
"Aaaakhhh!" teriak Ziva ketika Lolan berhasil membuatnya melayang di udara. Tak ingin berlama-lama, Lolan mulai mengarahkan senjata miliknya ke pusat inti Sang Istri yang tak pernah gagal membuatnya terbuai.
"Sayang, kenapa selalu sempit," inti milik Ziva benar-benar membuat Lolan terbang, benda itu selalu berhasil membuatnya tak berdaya akan nikmat.
Selalu butuh perjuangan untuk menyatukan tubuhnya dan Ziva, apalagi dia harus bisa mengendalikan diri untuk tidak bermain dengan kasar. Perjuangan Lolan akhirnya terbayarkan, ketika berhasil membuat penyatuan yang seakan tidak akan memisahkan keduanya.
Perlahan namun pasti, Lolan mulai menggerakkan tubuhnya dengan begitu perlahan. Sedangkan suara erotis Ziva membuat nafsunya semakin memuncak. Lolan mengatur kecepatannya, hingga kecepatan harus dia naikkan, ketika Ziva sudah tak lagi sanggup mengimbanginya.
Lolan mulai mempercepat ritme permainannya, hingga beberapa waktu kemudian. Lenguhan panjang keduanya manjadi pertanda atas terlaksananya kegiatan romantis keduanya di malam itu.
Lolan mengecup beberapa kali perut datar Ziva, menyeka keringat yang membasahi wajah cantik itu, kemudian menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya. Keduanya terlelap dengan tubuh polos masing-masing.
__ADS_1