
"Kamu mau mencobanya?"
"Mau. Tapi, nanti setelah kita menikah. Aw, lepaskan aku Adit, kamu menekan luka bekas operasiku," mendengar rintihan Xena, seketika itu juga Adit langsung melepaskanya.
"Maaf aku tidak sengaja," ucap Adit khawatir. "Apa masih sakit?" lanjut Adit bertanya.
"Tidak lagi. Ah, aku sangat lelah. Aku tidur di ranjang dan kamu tidur di sofa, oke," imbuh Xena membenarkan bajunya yang berantakan sambil berjalan ke arah ranjang dan langsung naik ke atas sana.
"Kenapa tidak tidur bersama saja?" Adit berjalan mendekat dan duduk di pinggir ranjang, sedangkan Xena sudah berbaring dengan tubuh yang tertutup selimut tebal.
"Aku sih tidak masalah. Palingan kamu yang akan dalam masalah," sahut Xena santai.
"Ada kamu yang akan menyelesaikan masalahnya," jawab Adit tersenyum smirik lalu merebahkan tubuhnya tepat di samping Xena.
"Belum menikah belum boleh melakukan itu, kalau hanya ciuman seperti tadi tidak masalah," jawab Xena berbaring menyamping menghadap ke Adit, dengan posisi itu, Adit dapat melihat jelas dua gundukan Xena yang menyembul dan saling menghimpit. Lagi-lagi Adit merasa hawa di kamar itu semakin panas.
__ADS_1
"Jadi, ciuman tidak apa-apa?" Adit mengkonfirmasi.
Ziva bangkit tanpa memperbaiki bajunya yang turun begitu rendah. Hal itu sukses membuat Adit merasa semakin tertantang.
"Ciuman tidak apa-apa. Karena ciuman tadi itu adalah latihan, agar aku tidak terlalu kaku saat kita berciuman setelah mengucapkan janji suci nanti," jelas Xena sambil melepaskan ikat rambutnya.
Adit melihat itu, Adit melihat Xena melepaskan ikatan rambutnya, hingga rambut panjang bergelombang itu bertebaran menutupi pundak, leher, dan beberapa helai juga menutupi kedua gundukan besar milik Xena. Bukannya menghalangi pemandangan indah itu, tapi dengan begitu Xena semakin terlihat seksi dan menggoda di mata Adit.
"Kamu tidak pakai bra?" Akhirnya Adit bertanya karena merasa begitu gemes dengan dua bulatan besar yang terus mengganggu pikirannya itu.
"Iya. Aku tidak bisa tidur dengan memakai bra dan cd. Kalau Kak Ziva malah sebaliknya. Bra dan cd itu sudah aku pakai seharian, gatal bila aku pakai lagi," jelas Xena sambil menyisir rambut dengan jemari tangannya. Tidakkah dirinya tahu, tindakannya itu membuat seseorang di hadapannya semakin berhasrat.
"Kamu mau apa? Jangan macam-macam!" ketus Xena sambil menyingkirkan rambutnya ke belakang, hingga gundukannya kembali terlihat oleh Adit.
"Semacam saja bagaimana?" Adit tersenyum kecil.
__ADS_1
"Ciuman lagi?" tanya Xena to the point.
"Tentu saja, ciumanmu masih sangat buruk. Pasti orang-orang akan menertawakanmu nanti," jawab Adit dengan ekspresi menahan tawa seakan mengejek Xena.
Mendengar ucapan Adit yang meremehkannya, Xena pun berdiri, Adit diam sekaligus bingung melihat Xena yang bertolak pinggang. Dari bawah, Adit dapat melihat betis dan paha Xena yang begitu mulus. Dia ingin menyentuhnya, mengelusnya, serta mendaratkan bibirnya di sana.
"Apa tadi yang kamu katakan? Coba katakan sekali lagi?" pinta Xena masih bertolak pinggang.
"Tidak, Sayang. Kamu masih belajar, jadi wajar belum ahli dan masih payah," Adit kembali meremehkan Xena. Tidak tahukan Adit kalimatnya membuat Xena sangat tertantang.
Xena mencebikan bibirnya murka, sesaat kemudian, Xena menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan Adit. Hal itu tentu membuat Adit tercengang.
"Aku akan membuatmu tidak bisa bernapas malam ini!"π€ππ€ππ€ππ
.
__ADS_1
.
.