
"Aku ... Em, aku menyukai Dokter Adit. Tapi, sepertinya dia menyukai Kakak."
"Kamu bicara apa, Xena?" tanya Ziva berpura-pura tidak mengerti seraya menyembunyikan kekagetannya.
Ziva begitu terkejut dengan pernyataan Xena berusan. Namun, Ziva juga merasa senang bila Xena benar-benar mencintai Dokter Adit, karena Ziva sendiri tau bahwa Dokter Adit adalah seorang pria yang baik. Namun sayangnya, Ziva tau ada namanya yang terukir di hati Dokter tampan itu.
Hanya satu yang bisa dia lakukan, yaitu menjauh. Namun, bagaimana caranya dia untuk menjauh, bila masih berada di tampat ini. Ziva hanya punya satu pilihan agar dapat menjauh dari Dokter Adit, apalagi kalau bukan berhenti melakukan pengobatan. Setelah kondisinya membaik nanti, Ziva akan kembali dan tidak akan melanjutkan pengobatan lagi.
Ziva pasrah, bukankah hidup dan mati sudah ditentukan? Bila memang saatnya untuk kembali, pengobatan terbaik di dunia sekali pun tidak akan mampu menyelematkannya.
"Dokter Adit mencintai Kakak. Aku yakin Kakak juga merasakan hal itu, aku bisa merasakan hal itu lewat tatapan matanya yang melihat Kakak tidak biasa, kebaikan-kebaikan yang dia lakukan kepada Kakak. Itu semua karena dia punya perasaan terhadap Kakak," jelas Xena dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Walau dia mencintai Kakak, tapi Kakak tidak mencintainya, Xena. Kamu punya banyak kesempatan untuk memenangkan hatinya. Lagipula, kamu tau sendiri Kakak akan segera menikah," papar Ziva setidaknya membuat Xena merasa lega.
"Apa Kakak benar-benar tidak mencintai Dokter Adit? Apa Kakak tidak membohongiku?" tanya Xena seakan mewawancarai Sang Kakak, Ziva.
"Kakak serius dan benar-benar berkata jujur bahwa Kakak tidak mencintainya. Kamu punya banyak kesempatan untuk mendapatkan cintanya, Dokter Adit adalah pria yang baik, dia sangat pantas untukmu," jawab Ziva lembut.
__ADS_1
"Apa aku harus menjadi seperti Kakak agar dia juga mencintaiku?" tanyanya menatap Ziva dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak, kamu salah bila berpikir begitu. Kamu tidak perlu menjadi seperti Kakak, tidak perlu mendengarkan saran orang lain apalagi teman-temanmu yang hanya ingin menghancurkanmu. Tapi, jadilah dirimu sendiri, jadilah Xena yang dulu, Xena yang polos dan baik, dengarkan kata hatimu sendiri. Kakak yakin, sedikit banyak Dokter Adit sudah menempatkan namamu di hatinya. Kamu tinggal meyakinkannya dan membuatnya menyadari hal itu," ujar Ziva mengambil sendiri gelas di atas nakas dan meneguk air putih di dalamnya.
"Terima kasih, Kak. Mulai sekarang aku akan menjadi Xena yang lebih baik lagi," sambung Xena langsung memeluk Ziva erat.
Sejak hari itu, hubungan keduanya semakin baik. Beberapa hari dirawat di rumah sakit dengan menjalani berbagai macam pengobatan akhirnya kondisi Ziva berangsur membaik, hingga sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Selanjutnya, Ziva akan mendapatkan perawatan rawat jalan.
Dokter Adit mengatakan bahwa Ziva akan melakukan cuci darah dua minggu sekali. Bukan hanya gagal ginjal, Ziva juga mengidap penyakit Diabetes tipe satu. Sebagai penderita diabetes tipe satu, Ziva memerlukan cairan insulin karena tubuhnya tidak dapat memproduksi cairan tersebut.
Sebelum benar-benar pulang, Ziva diajarkan cara menyuntik diri sendiri, agar kapan pun dia dapat menyuntikkan cairan insulin untuknya tanpa harus pergi ke rumah sakit. Ziva di resepkan suntikan jenis Ultra long-acting insulin, insulin ini akan bekerja selama 6 jam setelah disuntikkan, efeknya bertahan hingga 36 jam.
Xena sempat menawarkan diri untuk menjadi pendonor itu. Namun setelah diperiksa, ginjal Xena tidak cocok untuk Ziva karena Ziva memang memiliki golongan darah yang langka. Yang Dokter Adit ketahui hanya Lolan yang memiliki golongan darah tang sama dengan Ziva.
Tiba di rumah, Xena memperlakukan Ziva dengan baik layaknya sebagai Kakak kandungnya sendiri. Sedangkan Bibi Aslin jarang pulang ke rumah lantaran semakin sibuk sejak diberikan jabatan oleh Tuan Jackson Baldev.
Di rumah, hanya ada Ziva dan Xena. Malam itu, Xena merasa sangat sedih lantaran Nyonya Nata menelpon Ziva, dan mengatakan bahwa semua persiapan pernikahan telah mencapai 90%, itu artinya tidak lama lagi pernikahan antara Ziva dan Lolan akan segera berlangsung.
__ADS_1
Pernikahan yang hanya tinggal menghitung hari, membuat Xena merasa sedih karena belum siap tinggal sendiri di rumah. Ibunya jarang sekali pulang dan sering lembur, sedangkan Xena takut sendirian di rumah. Bila Ziva telah menikah, tentu Xena akan sendirian di rumah. Hal itu membuat Xena merasa sedih untuk melepaskan Kakaknya yang sebentar lagi akan segera melangsungkan pernikahan.
"Apa Kakak akan bahagia nanti? Ah, aku juga tidak sabar ingin menikah dengan Dokter Adit. Tapi, sayangnya itu tidak akan pernah terjadi," jawab Xena membuat Ziva mengerutkan alis heran.
"Kenapa? Bukankah hubunganmu dan Dokter Adit sekarang Semakin membaik. Bahkan tadi kamu menceritakan bahwa Dokter Adit akan membawamu ke acara pernikahan sahabatnya," Ziva beringsut dan mendekat pada Xena yang duduk di sampingnya.
"Hampir saja aku mengatakan kebenaran tentang Dokter Adit yang sudah memiliki tunangan," batin Xena lega.
"Tapi itu belum pasti, Kak. Di hanya mengatakan itu agar aku merasa senang. Dia tidak mengatakan hari apa acara itu akan dilangsungkan. Dia mengatakan itu hanya saat akan marah padanya, dia hanya ingin menyenangkanku," lirih Xena sedih.
"Kamu tidak boleh bicara begitu, siapa tau dia memang ingin membawamu ke acara itu sebagai pasangan. Bukankah kamu adalah pacarnya, tentu dia harus membawamu ke pesta itu," saut Ziva.
"Entahlah, Kak. Aku merasa dia tidak tulus padaku. Tapi, aku tidak akan menyerah," tegas Xena.
.
.
__ADS_1
.