
Keesokan paginya, Ziva terbangun lebih dulu dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Saat dirinya telah selesai mandi dan bersiap, ternyata Lolan masih saja terlelap nyenyak.
Tidak berani membangunkan Suaminya, Ziva memilih menepi ke dekat jendela, Ziva ingin membuka semua tabir. Tapi, tubuhnya tak dapat menjangkau tabir itu, hingga akhirnya Ziva memilih naik ke tempat di mana ada sedikit cela di pinggir jendela.
Ziva naik dan duduk di atas sana sambil membuka tabir dan jendela satu persatu. Ziva tidak tahu sama sekali bahwa tabir dan jendela itu dapat dibuka hanya dengan menekan tombol merah yang ada di remote—yang terletak di atas nakas samping ranjang.
"Hufft ... Sinar matahari tidak bisa membangunkannya," keluh Ziva yang masih duduk di cela pinggir jendela. Ziva duduk di sana dan dia tampak begitu seksi dengan baju selutut bergaris-garis putih dan hitam, yang sangat pas di tubuh mungilnya. Meski tampil begitu sederhana dengan rambut capol seadanya plus wajah lelahnya yang linglung, Ziva masih saja terlihat begitu cantik mempesona. Duduk pasrah di atas sana, Ziva kebingungan bagaimana cara membangunkan Lolan tanpa menyentuh pria impoten itu.
Tak punya cara lain, Ziva pun segera turun dari cela jendela dan mulai mendekat pada Lolan yang masih terlelap di atas ranjang berukuran king size itu. Ziva mengulurkan tangannya kemudian menarik kembali tangannya. Ziva ragu untuk membangunkan Lolan, takut pria yang kini berstatus Suaminya itu akan marah padanya bila diganggu istirahatnya.
Namun, Ziva tidak punya pilihan lain. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, itu artinya Lolan hanya punya waktu sekitar tiga puluh menit. Karena tepat jam delapan pagi adalah jadwal terapi yang akan dilakukan di ruangan khusus di lantai bawah. Ruangan yang telah Daddy Jackson persiapkan.
"Tuan, Tuan bangunlah. Sebentar lagi Dokter Adit akan datang," ucap Ziva pelan. Tapi Lolan masih tak merespon sama sekali. Pria itu masih tetap terlelap nyenyak, bahkan dia tak menggerakkan tubuhnya sedikit pun saat Ziva mencoba membangunkannya.
"Tuan bangunlah," kembali Ziva menggoyangkan pelan pundak kekar Lolan.
"Aakh!" pekik Ziva kaget saat Lolan tiba-tiba menariknya hingga berakhir dalam pelukan erat Lolan.
__ADS_1
"Tuan lepaskan saya!" Ziva meronta, terus berusaha melepaskan diri dari pelukan Lolan yang semakin dia berontak semakin erat pula pelukan itu.
"Hem ... Empuk dan wangi," gumam Lolan masih dengan mata terpejam.
Ziva terperanjat kaget kala mendengar ucapan vulgar Lolan.
"Tuan, lepaskan saya! Saya tidak mau Tuan kesakitan nantinya, sadarlah dan lepaskan saya, Tuan!" Kini Ziva berteriak tepat di telinga Lolan. Namun, pria yang tidur seperti kebo itu seakan tuli tak mendengarkan teriakan Ziva sama sekali.
"Hem ... Manisnya," desis Lolan menjulurkan lidahnya tepat ke ceruk leher Ziva.
"Emm ...." erang Ziva memejamkan matanya menikmati. "Astaga!" Ziva kembali sadar dan langsung menjauhkan lehernya dari serangan Lolan. Hampir saja dirinya khilaf, ceruk leher dan telinga adalah bagian sensitifnya.
Tok, tok, tok ....
"Mommy," ujar Ziva pelan sambil menengok ke arah pintu kamar yang diketuk.
"Kau!"
"Aaaakhh!" lagi-lagi Ziva berteriak saat Lolan mendorongnya kasar hingga tubuh mungilnya terhentak di lantai keras. Ziva meringis merasakan sakit pada pinggangnya.
__ADS_1
"Iya, Mommy. Aku datang!" sahut Lolan.
"Sayang, Ziva kenapa? Kenapa dia berteriak?" tanya Mommy Nata khawatir di luar sana.
"Tidak apa-apa, Mommy. Dia baik-baik saja," balas Lolan segera bangkit.
"Benarkah?"
"Iya, Mommy. Aku baik-baik saja, hanya sedikit terpeleset tapi tidak apa-apa," kilah Ziva masih tergelatak di lantai.
"Oh syukurlah kalau baik-baik saja. Lain kali hati-hati, ya, Sayang. Mommy akan menunggu di bawah."
"Baik, Mommy," saut Ziva mencoba berdiri, namum tak bisa karena pinggangnya yang terhentak benar-benar terasa menyakitkan.
"Dasar perempuan murahan! Beraninya mencuri kesempatan menggodaku saat aku tertidur!"
.
.
__ADS_1
.
Votenya jangan lupa, Guys. Biar Othor makin semangat up-nya. Terima kasih banyak🙏🏻. Love reader semua, calangeo😘😘😘