
"Aaaakhh!" teriak Ziva kaget kala melihat melihat Lolan berdiri di hadapannya tanpa sehelai banang pun yang menutupi sekujur tubuhnya.
Ziva reflek mundur ke belakang saat Lolan naik ke atas ranjang dan perlahan mendekat padanya. Melihat wajah Lolan yang diselimuti nafsu yang begitu besarnya, membuat Ziva ketakutan dan langsung beringsut dari kasur untuk turun dari ranjang.
Namun, Lolan berhasil mencegat salah satu kakinya, Lolan menarik Ziva untuk kembali ke tempat semula. Dengan begitu mudahnya Lolan mengukung tubuh mungil Ziva. Ziva tak berontak, tapi melihat wajah Lolan yang begitu menakutkan membuatnya menelan saliva bersusah payah.
"Lolan ada apa denganmu? Aku mohon lepaskan aku, aku mohon jangan begini," tentu Ziva siap melayani Suaminya kapan pun, hanya saja, Ziva merasa tidak siap bila kondisinya tidak kondusif seperti saat ini.
Ziva membatu ketika Lolan mengunci kedua tangannya ke atas. "Mommy memberikan obat perang sang dalam ramuan tadi, aku harus bagaimana, Ziva?" Ziva seketika syok kala mendengar pernyataan Lolan yang mengatakan bahwa ramuan yang diberikan oleh Mommy Nata tadi, bukanlah obat penyubur, melainkan obat perang sang.
Raut wajah Lolan yang terlihat begitu frustasi membuat Ziva merasa kasihan. Lolan terus menatap Ziva dengan hasrat yang begitu besar seakan ingin menerkam Ziva saat itu juga. Tapi dia tetap berusaha menahan diri karena tidak ingin menyakiti Istrinya tercinta.
__ADS_1
"Lakukanlah," ucap Ziva pasrah membuat Lolan tertegun.
"Aku takut menyakitimu," balas Lolan terlihat sangat menderita menahanya.
"Ini sudah kewajibanku, aku adalah Istrimu. Kamu berhak atas diriku termasuk tubuhku," Ziva menatap kedua bola mata Lolan yang memerah akibat nafsu. Lolan pun juga menatap Ziva penuh hasrat tapi dibalik hasrat itu ada cinta yang luar biasa besarnya.
"Aku mencintaimu, Ziva," Lolan langsung me lu mat bibi manis Ziva yang manjadi candu baginya. Ziva yang sudah ahli menerima dan membalasnya dengan baik.
Ciuman Lolan semakin turun, hingga singgah di ceruk leher Ziva. Dia memberikan banyak tanda kepemilikan di sana, sedangkan tangannya mulai membuka resleting gaun yang Ziva kenakan. Saat resleting itu sudah mentok turun, Lolan pun langsung menurunkan gaun itu secepat kilat.
Salah satu tangan nakal itu mulai turun, menyelinap ke dalam cd yang Ziva kenakan. Mengelus inti Ziva perlahan. Membuat Ziva terus mengeluarkan suara erotisnya yang terdengar begitu seksi di telinga Lolan. Suara seksi itu membuat hasrat Lolan semakin membuncah, dia sudah tak lagi sanggup menahannya.
__ADS_1
"Aaakkhh! Sa-kittt ..." lenguh Ziva ketika Lolan langsung membuat penyatuan dengan tak sabaran, membuat Ziva merasa begitu kesakitan. Bila biasanya begitu perlahan, maka saat Lolan melakukannya dengan sedikit kasar. Bila sebelumnya membutuhkan waktu yang lama untuk penyatuan, maka saat ini Lolan melakukannya hanya dengan tiga kali hentakan.
Lolan sudah mencoba berusaha mengontrol diri, tapi dia tetap tidak bisa melakukannya, hingga akhirnya dia tak sengaja menyakiti Ziva.
Melihat Ziva yang menangis terisak membuat Lolan merasa bersalah. Setelah ini, Lolan berjanji akan melakukan apa pun yang Ziva inginkan.
Lolan terus mengucapakan kata maaf di setiap hentakan yang dia lakukan ke tubuh Ziva. Lolan dapat melihat Ziva yang langsung menyeka setiap air matanya yang menetes, seakan tidak ingin memperlihatkan kesakitannya saat ini.
Entah sudah berapa kali pencapaian puncak dan entah sudah berapa lama pula Lolan menguasai tubuh Ziva. Hingga pada akhirnya Lolan dapat mengendalikan diri, dia langsung menghentikannya saat itu juga. Ketika Lolan berhenti, Ziva langsung terlelap begitu saja. Lolan menarik selimut, menyelimuti tubuhnya dan Ziva. Menyeka air mata dan keringat di wajah Ziva, lalu mencium kening Ziva sambil mengucapkan kata maaf.
.
__ADS_1
.
.