
"Pergi!" pekik Ziva menepis tangan Lolan dengan kasar.
"Sayang," ujar Lolan menjauh.
"Mommy, usir pria kejam itu Mommy, semalam dia meninggalkan aku sendirian. Mommy, aku tidak ingin melihatnya usir dia, Mommy," pinta Ziva menangis dalam pelukan Mommy Nata.
"Tenang saja, Sayang." Mommy Nata menepuk pelan pundak Ziva.
"Lolan, apa kamu tidak dengar? Pergilah!" usir Mommy Nata.
"Mommy, aku sama sekali tidak meninggalkan Istriku. Ziva sendiri yang mengusirku karena merasa sesak jika aku berada dalam kamar. Itulah kenapa aku tidur sendiri di kamar sebelah, aku tidak mungkin meninggalkan Istriku sendirian, Mommy," terang Lolan membela diri membuat Mommy Nata menghela napasnya berat.
"Kenapa tidak membujukku? Dasar pria kejam, pergilah! Aw!" bentak Ziva beserta ringisan kala merasa kram pada perutnya.
"Sayang," panggil Lolan kembali mendekat.
"Lolan, pergilah dulu. Biarkan Ziva tenang dulu."
"Tapi Mommy—"
__ADS_1
"Pergi!" teriak Mommy Nata dan Lolan pun langsung pergi dengan perasaan yang begitu khawatir saat melihat sendiri Sang Istri membekap perutnya kesakitan. Lolan takut terjadi apa-apa kepada Sang Istri juga calon baby-nya.
Karena tidak ingin hal buruk terjadi, Lolan pun mengalah dan langsung pergi, walau sebenarnya dia tidak rela meninggalkan Sang Istri.
Begitu membuka pintu kamar, Lolan begitu bersyukur karena Dokter Albern tiba tepat waktu. "Syukurlah Dokter datang, tolong periksa Istriku dan pastikan dia baik-baik saja," sambut Lolan merasa lega akan kehadiran Dokter Albern.
"Ikutlah bersama saya," ajak Dokter paruh baya itu.
"Tidak bisa Dokter, Istriku tidak ingin melihatku."
"Ikutlah, saya akan menjelaskan banyak hal kepada Tuan Lolan," karena paksaan Dokter Albern, Lolan pun terpaksa ikut.
Begitu masuk kembali ke dalam kamar, Lolan dibuat tak berdaya melihat Ziva yang terbaring lemah. Dari raut wajahnya tampak begitu lelah dan letih, rasa bersalah kini menumpuk di hatinya. Sedangkan Dokter Albern mulai memeriksa keadaan Ziva.
"Syukurlah tidak ada hal serius yang terjadi, Tuan. Hanya demam biasa yang terjadi karena terlalu kelelahan dan kurang tidur. Saya sudah memberikan vitamin khusus untuk Nona Ziva. Setelah ini, saya harap hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, karena akan berbahaya dan berpengaruh kepada terapi yang masih dalam proses," jelas Dokter Albern membuat Lolan dan Mommy Nata menarik napas lega.
"Satu lagi saya ingatkan untuk Tuan Lolan. Kehamilan Nona masih sangat muda, di fase ini rawan terjadi keguguran. Saya harap, Tuan Lolan dapat menjaga Nona dengan baik dan selalu menuruti apa pun yang Nona inginkan. Seaneh apa pun yang Nona lakukan, percayalah kalau itu bukan atas keinginan Nona sendiri, tapi juga keinginan calon bayi yang ada di dalam kandungannya. Jadi, saya harap Tuan harus benyak-benyak bersabar," di lantai bawah, Daddy Jackson sudah menjelaskan segalanya hingga Dokter Albern pun mengerti letak permasalahannya.
"Baik, Dokter. Sekarang aku sudah mengerti dan aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku, aku akan menjaga Istriku dengan baik mulai sekarang," tutur Lolan menyadari kesalahannya sepenuhnya.
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, saya akan meninggalkan banyak vitamin untuk Nona, vitamin ini harus dikonsumsi tepat waktu dan tidak boleh telat apalagi lupa. Saya harap Tuan Lolan dapat diandalkan dalam hal ini, jadilah Suami siap siaga," Dokter Albern meninggalkan banyak pil berserta vitamin lengkap dengan aturan konsumsinya. Lolan mengangguk mengerti.
"Untuk saat ini biarkan Nona istirahat lebih dulu. Jangan turun dari ranjang untuk hari ini, karena khusus hari ini Nona akan menjalani badrest."
Ziva hanya mengedipkan matanya tanda mengerti, dia benar-benar merasa lelah hingga menggerakkan tubuh dan berbicara saja tidak punya tenaga.
"Oh iya, apa Nona mengalami mual?" tanya Dokter Albern dan Ziva menggeleng cepat.
"Baguslah kalau begitu, setidaknya Nona tidak akan terlalu tersiksa. Nona istirahatlah dan Tuan Lolan harus ingat pesan-pesan saya tadi. Kalau begitu saya permisi," Lolan mengantar Dokter Albern hingga turun ke bawah. Setelah memastikan Dokter Albern benar-benar telah pergi, Lolan pun kembali ke lantai atas untuk menemani Sang Istri tercinta.
"Sayang," panggil Ziva dengan suara manjanya yang tak berdaya. Lolan tertegun mendengar suara Sang Istri yang memanggilnya begitu lembut. Kini, Lolan percaya apa yang Daddy dan Dokter Albern katakan. Hormon Istrinya benar-benar berubah, emosinya tidak menentu. Jika tadi Ziva sangat marah dan bahkan mengusirnya, namum kini Ziva malah memanggilnya lembut dengan begitu manja.
"Iya, Sayang," Lolan langsung duduk di pinggir ranjang samping Ziva.
"Peluk," pinta Ziva manja, Lolan tersenyum bahagia. Lolan segera memeluk Ziva tanpa berlama-lama.
"Ya sudah, Lolan kamu jagain Ziva ya. Mommy akan ke bawah dulu," pamit Mommy Nata dan Lolan mengangguk cepat.
"Apa ingin sesuatu, Sayang?" tanya Lolan lembut setelah kepergian Sang Mommy. Lolan memeluk Ziva dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Jangan pergi lagi," kata Ziva dengan suara seraknya kala kembali menangis.
"Tentu saja, Sayang. Kedepannya aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi," ucap Lolan serius sambil memeluk Ziva semakin erat. Pagi itu, Ziva terlelap dalam pelukannya.