
"Terus gue harus gimana?" tanya Xena frustasi.
"Aman, habis pulang sekolah kita singgah ke apotik, stok pil KB gue juga udah menipis. Jadi, gue juga beli sekalian," jawab Ana membuat Xena lega, namun tetap khawatir. Di umurnya yang masih begitu muda, tentu Xena belum siap untuk hamil.
"Tenang aja, nggak usah panik gitu mukanya. Kalau Lo hamil kita berdua bakal bantuin Lo kok," sahut Cristi menenangkan.
"Bantuin apaan?" tanya Xena minum begitu banyak air agar pikirannya bisa tenang.
"Bantuin apa lagi, selain gugurin. Kalau Lo hamil, ya Lo harus gugurin tu kandungan. Jangan sampai orang lain tau," bukannya membuat Xena tenang, ide gila Cristi justru membuat Xena semakin ketakutan. Takut hamil, takut ketahuan hamil, takut dibenci, takut dibuli, takut dipermalukan, takut amukan Ibunya, dan satu lagi, Xena takut menggugurkan kandungan. Bukan hanya karena sakitnya, tapi juga takut karena dosanya.
"Ogah ah, kalau seandainya gue benar-benar hamil, gue bakal minta pertanggung jawaban kepada Dokter Adit. Walau keluarganya nggak menerima gue, gue bakal perjuangin kandungan gue. Gugurin kandungan sama aja dengan membunuh, dosa gue udah banyak, gue enggak mau nambah dosa lagi," jawab Xena menentang ide gila kedua sahabatnya.
"Sebenarnya, nasib Lo lebih beruntung daripada nasib gue," kata Ana seketika bersedih.
"Lo nggak boleh ngomong gitu, ih. Ibu Lo pasti sembuh kok," balas Cristi.
"Harus, mungkin gue bakal bunuh diri kalau Ibu gue pergi ninggalin gue selamanya," jawab Ana dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Lo nggak boleh ngomong gitu, Ana. Ingat, Lo masih ada gue sama Cristi, kita berdua bakal dukung Lo apa pun yang terjadi. Jadi, jangan tinggalin kita berdua," tutur Xena langsung memeluk Ana erat. Ketiganya saling berpelukan, saling menguatkan satu sama lain.
"Gue tu hidup buat Ibu gue, kalau Ibu gue pergi, apa gunanya gue di dunia ini," kata Ana lagi, membuat Xena dan Cristi semakin mengeratkan pelukannya.
"Kita berdua nggak bakal biarin Lo pergi kemana pun!" Tegas Cristi di sambut anggukan oleh Xena.
Ana, gadis malang yang kehilangan kesucian ketika masih duduk di bangku SMP. Penyakit jantung yang diderita Sang Ibu, membuatnya memilih jalan sesat dengan menjual diri demi mendapatkan uang yang digunakan untuk biaya pengobatan Sang Ibu.
"Suatu saat nanti, derita kita pasti bakal terganti dengan kebahagiaan. Yang penting kita harus selalu bersama," cela Xena langsung melonggarkan pelukannya.
"Kebetulan sekarang gue sering di kasih uang jajan yang banyak sama mertua Kakak gue. Nanti uang itu bakal gue kumpulin dan gue kasih ke Lo buat biaya berobat Ibu Lo. Tapi, boleh nggak sih kalau gue minta sama kalian berdua buat akhir pekerjaan haram yang kita lakukan sekarang. Gue pengen kembali ke jalan yang benar dan sebagai sahabat, gue juga mau bawa kalian berdua," tutur Xena mencoba membujuk kedua sahabatnya untuk mengikuti langkahnya yang akan kembali bersikap baik.
"Gue juga masih mau hidup bebas," jawab Cristi mendukung pilihan Ana.
"Sebagai teman gue cuma mau ajak kalian ke jalan yang baik aja. Tapi, gue juga enggak keberatan kalau kalian menolak. Tapi Ana, gue tau Lo nggak bahagia dengan pekerjaan yang kini Lo jalani, gue mohon terima bantuan gue," Xena masih berusaha membujuk Ana.
"Maaf, Xena. Gue enggak bisa."
__ADS_1
"Daripada Lo terus-menerus jual diri," saut Xena.
"Daripada gue jual jantung, hati, ginjal, paru-paru, mata, nyawa. Bukankah lebih baik gue jual harga diri. Orang miskin kayak gue, harga diri enggak ada artinya. Percuma punya harga diri kalau akhirnya tetap akan diinjak-injak," jawab Ana membuat Xena akhirnya mengalah.
"Sudah ah, ini kenapa jadi ngomongin gue, sih. Mending kita bahas masalah Lo lagi. Gue tau bagi Lo keper*wanan sangatlah berarti. Mending sekarang Lo minta pertanggungjawaban Dokter Adit sebelum Lo hamil," lanjut Ana mengubah topik pembicaraan.
"Gimana caranya? Lo kan tau sendiri Dokter Adit sudah punya tunangan. Gue enggak mau jadi sugar baby apalagi pelakor," jawab Xena tegas.
"Lo nggak usah khawatir, kita berdua bakal bantuin Lo."
"Bantuin apa? Gue enggak bakal mau kalau kalian minta gue buat godain Dokter Adit lagi," Xena mungkin berniat ingin melupakan Dokter Adit. Namun, dia tidak rela bila kep*rawanan yang selama ini dia jaga, harus direnggut tanpa adanya pertanggung jawaban.
"Lo harus yakin sama kita berdua, rencana kali ini nggak mungkin gagal."
.
.
__ADS_1
.