
"A-apa?" tanya Lolan kaget.
"Iya, Sayang. Sebenarnya Ziva sudah menderita sejak dulu, dia juga sudah bertanggung jawab atas semua kesalahan yang tidak sengaja dilakukan Ayahnya. Jadi, mulai sekarang Mommy mohon jangan lukai lagi dia. Kasihan, dia sudah banyak menderita," tutur Mommy Nata menjelaskan segalanya kepada Sang Putra, Lolan.
Lolan terdiam lama, kenyataan yang Mommy-nya sebutkan sungguh mengejutkan dirinya. Lolan tidak pernah tahu bahwa yang mendonorkan ginjal untuk dirinya adalah Ziva, dan Lolan lebih terkejut lagi setelah mengetahui bahwa Ayah Ziva-lah yang bersalah, bukanlah gadis malang itu.
"Kenapa Mommy tidak mengatakan kebenaran ini kepadaku? Aku sudah salah membencinya karena mengira dialah yang menyebabkanku menjadi lelaki impoten," Lolan menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi yang ada di sana. Lolan tampak begitu merasa bersalah karena sudah salah membenci Ziva. Siapa sangka, wanita yang dirinya kira adalah pembawa sial baginya, malah mengorbankan nyawa demi menyelamatkan dirinya.
"Maafkan Mommy karena tidak menceritakan hal itu kepadamu. Mulai sekarang Mommy mohon, Mommy mohon berhenti melukai Ziva, bagaimana pun dia bukan hanya wanita satu-satunya yang bisa menyembuhkanmu, tapi dia juga wanita yang telah mengorbankan nyawanya untukmu," Mommy Nata ikut duduk di samping Lolan, memeluk Putranya dengan begitu erat.
Sedangkan Dokter Adit hanya terdiam dengan senyuman samar terbit di bibir tipisnya.
"Lalu, sekarang bagaimana dengannya?" tanya Lolan menengadah menatap Dokter Adit yang masih berdiri di hadapannya.
"Pertama-tama, harus dilakukan operasi—"
"Ambil kembali ginjal di tubuhku, dia lebih membutuhkannya!" potong Lolan membuat Mommy Nata dan Dokter Adit kaget akan reaksi Lolan. Keduanya saling memberi kode, seakan sama-sama mengatakan bahwa Lolan sudah jatuh cinta kepada Ziva. Hanya saja, pria impoten itu tidak menyadarinya.
"Tidak perlu, Lolan. Kebetulan Mommy Nata dan Daddy Jackson sudah menyiapkan pendonor untuk Ziva," jawab Dokter Adit seketika bersedih saat mengatakan kalimat itu.
__ADS_1
"Siapa?" tanya Lolan.
"Ada, dia adalah keponakan Ziva. Namanya Xena," jawab Dokter Adit sedikit tidak rela. Bagaiamana pun, sedikit rasa sudah tumbuh di hatinya, hanya saja gengsinya tinggi hingga dia belum mengungkapkan hal itu kepada Xena. Xena yang ingin mendonorkan ginjalnya untuk Ziva, tentu membuat Dokter Adit khawatir.
"Syukurlah," sahut Lolan lega.
"Lalu, bagaiamana dengan diabetesnya?" tanya Lolan kembali merasa khawatir kala mengingat penyakit lain yang Ziva derita.
"Karena penyakit itu bawaan dari Ibunya, menyembuhkannya mungkin akan membutuhkan waktu yang lama. Namun, semua akan membaik saat ginjalnya juga membaik. Kamu tenang saja, aku akan menanganinya satu persatu. Tapi, impotenmu bagaiamana? Bila Ziva di operasi, maka terapimu akan diundur," jelas Dokter Adit.
"Tidak apa, terapi bisa dilakukan kapanpun. Mana mungkin terapi dilakukan maksimal bila pasanganku sakit-sakitan. Obati dulu Ziva, setelahnya baru lanjutkan lagi terapi untukku," tegas Lolan.
"Baik, lakukan yang terbaik untuknya," pinta Lolan dijawab anggukan kepala oleh Dokter Adit.
"Kalau begitu aku akan masuk untuk memantau kondisi Ziva," pamit Dokter Adit.
"Apa aku boleh ikut?"
"Nanti saja, setelah kondisinya membaik aku akan memanggilmu," kata Dokter Adit melarang Lolan ikut bersamanya.
__ADS_1
"Kita tunggu saja, Sayang. Biarkan Dokter Adit yang mengurus segalanya," Mommy Nata melarang Putranya ikut masuk bersama Dokter Adit.
Setelah kepergian Dokter Adit, Mommy Nata dan Lolan kembali duduk di sofa yang tersedia di depan ruangan.
"Sekarang kamu sudah tahu bahwa Ziva bukanlah penyebab penyakitmu. Berjanjilah pada Mommy, berjanjilah bahwa kamu tidak akan menyakitinya lagi."
"Iya, Mommy. Aku berjanji tidak akan menyakitinya dan juga tidak akan membiarkan orang lian menyakitinya. Mulai sekarang, aku akan mencintainya, menyayanginya dan melindunginya seumur hidupku, apa pun yang terjadi."
***
Di dalam ruangan khusus.
Ziva masih terbaring lemah di atas ranjang. Ziva yang semula memejamkan mata, langsung membuka matanya saat ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan.
"Dokter, bagaimana? Apakah berhasil?"
.
.
__ADS_1
.