
"Xena, kamu benar-benar sangat cantik, Sayang." puji Ziva yang memang begitu terkagum-kagum dengan penampilan Xena saat ini.
Gaun putih berlapis berlian itu, begitu sempurna melekat di tubuh seksi Xena. Mommy Adna begitu tahu bagian-bagian tubuh Xena yang memikat, hingga memilihkan desain gaun yang begitu tepat menonjolkan setiap lekuk tubuh Xena yang indah bak gitar spanyol.
Gaun seksi tanpa lengan, bahkan juga tanpa menutupi bagian punggung hingga ke belahan pan tat. Sedangkan bagian depannya menyembulkan setengah dari dua gundukan Xena. Bagian bawahnya turun hingga menyapu lantai, tidak ada belahan di paha, karena bo kong Xena yang punya ukuran tak biasa, sudah lebih dari cukup untuk digunakan sebagai daya pikat.
"Terima kasih, Kak Ziva. Uwah, aku juga sangat menyukai gaun ini, aku tidak akan pakai lingerie nanti malam, ini saja sudah cukup," ceplos Xena juga tak kalah kagumnya dengan gaun yang dia kenakan saat ini.
"Tapi, apakah tidak terlalu seksi, Sayang? Apakah benar gaun ini pilihan Adit?" Ziva heran kenapa Adit memilihkan Gaun Se-seksi itu untuk Xena. Tidakkah seharusnya dia marah saat tubuh Istrinya menjadi tontonan orang lain.
"Hehe ... Gaun ini pilihan Mommy Adna, kak. Adit tidak tahu," Xena tersenyum sambil menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan.
"Astaga, Sayang. Bagaimana kalau dia marah melihat penampilanmu saat ini?"
"Marah palingan ke Mommy-nya sendiri, bukan ke aku. Yang penting aku sangat menyukai gaun ini, Kak," imbuh Xena menatap dirinya kagum lewat pantulan cahaya di cermin antik kamar itu.
"Xena," panggil Ana yang baru masuk.
"Lo ke mana aja? Bukannya temenin gue tapi malah mondar-mandir nggak jelas," sergah Xena murka.
__ADS_1
"Berusan gue dipanggil Tuan Jason, gue butuh persiapan buat ngadepin sidang minggu depan," jelas Ana langsung mendekat.
"Sudah ada Ana yang temenin. Kakak keluar dulu, ya, Sayang," pamit Ziva pada Sang Sepupu.
"Kak Ziva mau ke mana? Kenapa wajah Kakak pucat banget?" tanya Xena langsung mencegat Ziva yang ingin pergi.
"Kakak lapar, Xena. Kakak mau cari makanan dulu," balas Ziva dengan suara pelan karena tiba-tiba merasa pusing pada bagian kepalanya.
"Ya sudah deh, Kakak hati-hati, ya."
"Sip, Sayang. Itu sebentar lagi acara di mulai, kamu tetap tenang, jangan tegang," ucap Ziva sebelum pergi.
"Pastinya kak, tegang-tegangannya ntar malem aja," sahut Xena asal membuat Ziva pergi sambil menggelengkan kepalanya.
"Gue udah kasih tahu Cristi kalau malam ini adalah malam pernikahan Lo dan Adit. Tapi, gue sedikit heran karena responnya tidak seperti biasa," jelas Ana mengerutkan keningnya seakan sedang berpikir keras.
"Maksud Lo?" tanya Xena penasaran.
"Cristi cuma merespon biasa dan dia cuma minta gue buat titipin selamat ke Lo. Udah, dia cuma ngomong itu doang."
__ADS_1
"Lo nggak minta dia datang ke sini?"
"Sudah, Xena. Tapi dia bilang lagi sibuk dan nggak bisa datang, terus dia langsung putusin panggilan sepihak, gue takut terjadi apa-apa sama dia," terang Ana membuat Xena juga ikut khawatir.
"Terus gimana dong?"
"Lo nggak usah khawatir, abis acara pernikahan Lo nanti gue akan izin ke Mommy Adna, gue akan lihat keadaan Cristi. Semoga dia baik-baik aja," tutur Ana membuat Xena sedikit merasa lega.
"Maaf mengganggu, Nona. Acara akan segera dimulai, mari ikut saya."
.
.
.
Xena
__ADS_1
Ziva