Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 179


__ADS_3

"Siap, Sayang. Ayo kita cetak baby sebanyak-banyaknya!"


Mendengar seruan Sang Istri yang begitu bersemangat, Adit langsung mencium rakus bibir sensual itu hingga membuat percikan api-api asmaranya kian membara. Adit menginginkan lebih dari hanya sekedar luma tan di luar bibir.


Tak hanya Adit yang menginginkan hal lebih. Tapi, Xena pun juga sama, Xena juga menginginkan hal lebih. Sebelum mendapatkan kode dari Sang Suami, Xena telah lebih dulu membuka mulutnya. Kini, Xena-lah yang memegang kendali dan dengan tak sabaran Xena masuk ke dalam rongga mulut Adit, melu mat, men yesap, meng ulum, mengigit lembut dan mengabsen setiap gigi rapi milik Adit.


Mendapatkan hal istimewa itu, Adit tampak terlihat begitu bahagia. Karena hampir kehabisan napas, Xena melepaskan tautan itu untuk mengambil oksigen. Adit pun juga tak menyerang langsung, dia menunggu hingga Xena benar-benar merasa lebih baik.


Ketika melihat Xena sudah mulai tenang, Adit kembali melu mat bibir manis itu. Kini, Adit-lah yang memegang kendali, bukan lagi Xena. Tapi, Xena telah siap dengan membuka lebar mulutnya dan Adit langsung mengusai rongga mulut Sang Istri. Ciuman panas pun kembali terjadi, kali ini tampak semakin memanas kala Sang Ahli yang memegang kendali.


Adit benar-benar pandai dalam hal itu, Xena tak sanggup mengimbangi permainan itu walau sudah berusaha, akhirnya, Xena hanya diam dan lebih memilih menikmati pertautan panas itu. Xena menyerah dan mengaku kalah, Adit adalah yang terbaik dalam hal ini, dirinya masih harus banyak belajar.


Setelah puas menikmati bibir semanis madu itu, Adit melepaskan pertautan mereka. Adit menyatukan keningnya dan Xena Kemudian mengucapkan sebuah kalimat yang mampu membuat Xena ingin berteriak kencang saking bahagianya.


"Aku mencintaimu, Xena. Aku sangat mencintaimu, aku mohon jangan tinggalkan aku," tutur Adit membuat hati Xena tersentuh, air mata haru pun tak kuasa lagi dia bendung hingga mengalir begitu saja tanpa seizinnya.


"Aku juga mencintaimu, bahkan aku lebih mencintaimu. Aku mohon, aku mohon tetaplah mencintaiku walau malam-malam selanjutnya tidak akan semanis malam ini lagi," balas Xena sambil menangis pilu.


"Apa yang kamu katakan, Sayang. Dengarkan aku baik-baik, rasamu akan tetap rasamu. Rasamu yang membuatku tergila-gila dan begitu menginginkanmu dengan penuh cinta," tegas Adit menatap Xena dengan tajam kala tak setuju dengan perkataan Istrinya itu.


"Aku harap begitu. Terima kasih sudah mencintai wanita bodoh yang tidak memiliki kelebihan sepertiku, terima kasih sudah mencintai wanita yang hanya bisa menyusahkan orang lain sepertiku. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena kamu mau menerimaku dengan segala kekuranganku," Xena menarik tubuh kekar itu dan memeluknya se-erat mungkin seakan tidak ingin kehilangan pria yang begitu dicintainya itu.


"Sayang, berhenti mengatai dirimu sendiri. Bila saja yang mengataimu bodoh adalah orang lain, aku pastikan dia sudah tidak akan lagi bernyawa. Aku mencintaimu apa adanya, kamu itu istimewa di mataku. Kamu adalah gadis paling bersinar diantara gadis pintar, cerdas, cantik dan lainnya. Kamu itu sempurna di mataku, tidak ada satupun wanita yang sebanding denganmu, kamu adalah ratuku. Jadi, mulai sekarang berhenti mengatakan hal semacam itu karena itu juga menyakitiku," jelas Adit detail.


Sedangkan Xena hanya menganggukkan kepala, padahal dirinya setengah mengerti dan setengah tidak mengerti tentang apa yang Adit katakan. Tapi, satu hal yang Xena tangkap yaitu Adit sangatlah mencintainya dan dia tak perlu mengkhawatirkan hal apa pun.


Pelukan keduanya semakin erat saat Adit juga memeluk Xena dengan sebelah tangannya, sedangkan tangan sebelah kanannya dia gunakan untuk menumpu tubuhnya agar tak menghimpit Sang Istri.


Adit memberikan kecupan di ceruk leher Xena hingga suara lenguhan tertahan berhasil keluar dari bibir Sang Istri tercinta, Xena tak sanggup menahan lenguhannya karena leher adalah bagian paling sensitifnya. Mendengar lenguhan indah itu, Adit langsung menatap wajah Xena yang terlihat begitu menikmati.


"Lepaskan saja, Sayang. Tidak perlu ditahan, aku menyukai suara merdu itu," ujar Adit kembali mengecup lembut kening Xena, Xena hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui.


Dan benar saja, Xena tak lagi menahan lenguhannya saat Adit mulai melancarkan aksinya dengan memberi banyak tanda kepemilikan di ceruk leher itu.


"Ah, ge-geli ..." de sah Xena ketika Adit menggigit lembut cuping telinganya yang sensitif.


Suara erostis itu mampu membuat Adit menggila dan semakin bersemangat mencari titik-titik sensitif dari tubuh sensual Istrinya. Bibirnya terus berkelana di ceruk leher itu tanpa sedikit pun merasa puas.


Setelah dirasa cukup, Adit kembali mengangkat wajahnya dan menatap wajah sempurna Xena yang kini masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal.


Begitu Xena membuka matanya, Adit menyambutnya dengan senyuman manis yang mampu membuat Xena merasa semakin mencintai Suami tampannya itu.


"Lanjut?" tanya Adit lembut dan Xena langsung mengangguk cepat.


Tak melepaskan senyuman manisnya, tangan nakal Adit mulai beraksi, perlahan, namum, pasti. Adit menarik satu tali penyanggah lingerie itu, bila tali itu berhasil ditarik, maka akan terlihat seluruh pemandangan indah yang menyejukkan matanya.


Perlahan Adit menyingkirkan lingerie itu, Adit sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari lekuk tubuh Xena yang benar-benar indah dengan ukuran yang luar biasa. Dari atas sampai pangkal paha terus dia pandang penuh damba. Sementara Xena kini semakin gugup melihat Adit yang terlihat begitu menginginkannya. Tak ingin lagi mengecewakan Suaminya, Xena pun berusaha menyingkirkan kegugupannya dengan cara melepaskan pengait bra-nya lebih dulu sebelum Adit yang melakukannya.


Adit kaget melihat tingkah Xena, tapi kemudian dia tersenyum manis, Karena mengerti bahwa Xena juga menginginkannya, Adit langsung menghentikan tangan Xena yang ingin mengangkat bra yang pengait sudah terlepas.


"Biar aku saja yang melakukannya, Sayang. Kamu cukup menikmati," tutur Adit lembut, Adit kembali memegang kendali dengan menyingkirkan perlahan dalaman berbentuk kacamata itu. Xena langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan ketika Adit berhasil membuat polos tubuh bagian atasnya.


Sedangkan Adit terbelalak sempurna menatap penuh damba dua bongkahan besar, sintal dan padat itu. Tak sabaran Adit langsung mere mas keduanya dengan perlahan. "Ahh ..." lenguh Xena kali ini lebih hebat dari sebelumnya, Adit paham karena dua bongkahan itu adalah titik tersensitif selanjutnya.


"Tidak usah tutupi wajahmu, Sayang. Aku ingin melihat dan mengingat ekspresi itu," ucap Adit dan Xena langsung menyingkirkan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Adit tersenyum kecil, kemudian kembali mere mas kedua bongkahan kenyal itu sambil melihat ekspresi wajah Xena yang mampu membuat hasratnya kian membuncah. Xena mengerang kegelian saat Adit mulai memainkan kedua chocohipnya dengan penuh kelembutan.


Beberapa detik kemudian, Adit berdiri tegak, melepaskan baju dan juga celananya. Sama dengan Sang Istri, Adit juga hanya menyisakan cd yang menutupi bagian bawahnya yang terlihat menyembul karena sudah berdiri dengan gagahnya. Xena yang tak sengaja menatap itu, langsung mengalihkan pandangannya.


"Jangan takut, Sayang. Dia sangat lunak kalau sudah masuk semuanya," kilah Adit agar Xena tak lagi ketakutan.


"Aku tidak takut," jawab Xena cepat dengan napasnya yang masih memburu.


Adit kembali mengukung tubuh indah Xena, melu mat bibir itu rakus dengan tangannya memainkan bongkahan kenyal milik Xena. Xena kembali mengeluarkan suara erotisnya kala permainan bibir Adit turun semakin ke bawah dan mendarat tepat di kedua bongkahan kenyal miliknya.


"Ahh ..." Xena mengerang semakin jadi ketika Adit meme lintir, melu mat, men yesap, meng ulum, dan menggigit chocochip itu dengan gemas. Salah satu tangan nakal itu mulai berkelana, mere mas setiap centi demi centi tubuh Xena dengan tak pernah puasanya.


"Ahh ... A-Adit," panggil Xena kaget saat tangan nakal Adit mengusap lembut bagian intinya di bawah sana.


"Ada apa, Sayang?" tanya Adit melepaskan kedua bongkahan kenyal yang sedari tadi dia mainkan.


"Ahhh ..." Adit mengusapnya sekali lagi sambil mendengar suara dan melihat ekspresi Xena yang mempu membuat nafsunya kian membuncah seakan ingin meledak detik itu juga. Perlahan Adit menurunkan cd berwarna merah mencolok yang menutupi segitiga indah milik Xena. Karena merasa sangat malu, Xena menutupnya dengan sebelah telapak tangan, sedangkan tangan sebelahnya, dia gunakan untuk menutupi wajahnya.


"Tidak perlu malu, Sayang. Aku menyukainya," Adit menyingkirkan kedua tangan Xena secara bersamaan, hingga pemandangan indah itu terlihat sempurna oleh matanya.


Adit meneguk salivanya kasar sambil menatap inti sensitif itu dengan mata membulat sempurna. Adit terus menatap benda itu seakan ingin memasukan desain indah itu ke dalam ingatnya dan tidak akan pernah dia lupakan selamanya.


Setelah puas menatapnya, tanpa berlama-lama Adit kembali mengusapnya perlahan. Xena terus menggerakkan pahanya ke segala arah tatkala benar-benar dibuat menggila dengan usapan lembut itu.


Adit memainkan benda sensitif itu hingga Xena terus berteriak bukan minta dihentikan, melainkan karena menikmati sensasi yang juga pernah dia rasakan sebelumnya, sensasi kenikmatan yang tiada taranya. Xena membusungkan tubuhnya dengan kedua mata terpejam ketika pelepasan pertama berhasil dia dapatkan.


Adit membiarkan Sang Istri menenangkan tubuhnya terlebih dahulu. Adit menggunakan waktu istirahat Xena untuk melepaskan cd-nya.


Ketika napasnya sudah mulai teratur, Xena langsung membuka kedua matanya. Xena dibuat tercengang oleh pemandangan Adit yang sudah berada di atas tubuhnya dengan senjata pusakanya yang sudah berdiri sempurna dengan gagahnya.


Xena menatap benda itu takut, nyalinya tiba-tiba menciut. Namun, Xena kaget ketika melihat Adit yang tengah memasang sarung tinju ke senjata pusakanya itu, seketika Xena mengingat sesuatu. "Astaga, aku lupa melubangi benda itu! Astaga, apa yang harus aku lakukan?" pekik Xena dalam hati.


"Bisa dimulai sekarang, Sayang?" tanya Adit lembut sambil mengarahkan benda keras, panjang, besar, berotot kekar itu tepat di bagian intinya yang sangatlah rapat.


"Aku harus melakukan sesuatu!, tapi, apa?!" teriak Xena yang pastinya hanya di dalam hati.


"Aku ada ide," gumam Xena gembira.


"Apa, Sayang?" tanya Adit menghentikan gerakannya.


"Tidak apa-apa," jawab Xena cepat, Adit pun mengagguk dan kembali fokus pada urusannya di bawah sana. Perlahan Adit menekan dengan begitu perlahan agar tak terlalu menyakiti Istrinya. Xena memejamkan matanya, saat kepala benda itu baru masuk, saat itu pula Xena langsung berteriak histeris.


"Aakhh! Gatal!" Pekik Xena membuat Adit langsung mencabut miliknya.


"Gatal? Gatal kenapa, Sayang?" tanya Adit khawatir.


"Banda yang menutupi itu, membuatku merasa sangat gatal," keluh Xena sambil menunjuk benda milik Adit yang masih berdiri gagah.


"Benda yang menutupi?"


"Iya, sarung tinju itu, gatal."


"Tidak mungkin, Sayang. Aku menggunakan yang biasa, bukan yang bergerigi maupun yang berduri."


"Aku yang dapat merasakannya, bukan kamu. Hiks ... Aku tidak mau bila pakai benda itu, lebih baik tunda saja lagi," Xena berakting menangis.

__ADS_1


"Sayang, aku tidak kb, kamu juga tidak kb. Kamu bisa hamil kalau kita tidak pakai ini." Jelas Adit bingung.


"Ya sudah, nanti aku minum pil kbnya. Kalau sekali saja tidak masalah, bukan?"


"Sekali?"


"Ya, hanya sekali ini saja. Ini sudah mendesak. Lebih baik ditunda kalau kamu tetap mau pakai itu. Aku merasa gatal, sepertinya aku alergi, apa kamu tega menyakitiku?"


"Tentu tidak, Sayang. Baiklah aku akan lepaskan ini," Adit langsung melepaskan sarung tinju transparan yang melekat pada senjatanya.


"Apa sekarang sudah bisa dimulai?" tanya Adit dan Xena langsung mengangguk cepat


"Yes, berhasil!"


Adit kembali mengukung tubuh Xena, mengarahkan senjata pusakanya, dan menekan dengan begitu perlahan. Xena menggigit bibir bawahnya untuk meminimalisir rasa sakit dan perih yang semakin terasa di bawah sana.


Melihat raut wajah Xena yang meringis kesakitan, Adit menghentikan dorongannya sebentar. Xena berusaha mengatur napasnya, kedua jemarinya menggenggam apa saja yang diraihnya. Beberapa detik kemudian, Adit kembali menekan dan saat itu juga tubuh Xena bergetar kesakitan, ringisan di raut wajahnya begitu terlihat.


"Apa bisa dilanjut, Sayang?" tanya Adit dengan suara seraknya. Dia tidak ingin egois dalam hal itu, bila Istrinya merasa tak nyaman, maka Adit akan dengan senang hati untuk tidak melanjutkan. Ringisan di wajah Xena benar-benar membuatnya tak tega.


"Ja-jangan, jangan dihentikan. Tidak perlu pedulikan aku, aku mohon jangan hentikan, tetap lanjutkan. Biarkan aku merasakan sakit ini sekali saja, bila dihentikan sekarang, kedua kalinya aku akan tetap merasakan sakit yang sama. Aku mohon lanjutkan!" seru Xena langsung melingkarkan kedua tangannya di punggung kekar Adit, seakan melarang pria itu untuk pergi.


"Maafkan aku, Sayang," Adit mengecup kening Sang Istri dengan lembut, kemudian kembali menekan dengan sekuat tenaga, tapi tetap dengan penuh kelembutan.


"Ahhh ..." lenguh Xena sambil mencengkram kuat punggung Adit hingga meninggalkan bekas cakaran di sana, darah segar juga mengalir karena kuku tajam Xena menancap dengan estetiknya.


Adit sama sekali tak merasa sakit akan cakaran itu, yang kini Adit rasakan hanya kenikmatan yang tiada taranya ketika senjata pusakanya berhasil membobol pertahanan Xena yang begitu sempitnya.


Adit membenamkan senjatanya tanpa melakukan apa pun, dia membiarkannya beberapa saat agar Xena dapat terbiasa dengan kehadirannya di dalam sana. Adit menengadahkan kepalanya ke atas, menikmati sensasi pijatan di bawah sana. Sungguh Xena benar-benar membuatnya gila.


"Adit," panggil Xena lemah sambil memeluk punggung Adit dengan erat. Xena ingin meminta Adit untuk bergerak, karena rasa perih itu semakin lama semakin berkurang. Kini yang Xena rasakan hanyalah kenikmatan yang membuatnya seakan melayang di udara.


"Iya, Sayang," jawab Adit sambil menyeka keringat yang membasahi wajah Istrinya. Adit membelai wajah lelah itu dengan lembut, Adit merasa aura Xena lebih terpancar, lebih cerah dari sebelumnya.


"La-lakukan, aku tidak ta-tahan!" pinta Xena menggeliat tak terkendali.


"Tentu saja, Sayang," Adit tersenyum lega karena Xena sudah tak lagi meringis seperti sebelumnya.


Tanpa berlama-lama, Adit mulai menggerakkan tubuhnya dengan kecepatan yang diaturnya. Suara erotis keduanya saling bersahut-sahutan seiring dengan ritme gerakan yang Adit lakukan. Semakin cepat Adit bergerak, semakin cepat pula Xena mende sah.


"Aaahhhh ..." lenguhan panjang keduanya saat sama-sama menggapai pelepasan di waktu yang bersamaan. Tubuh keduanya sama-sama bergetar hebat. Adit tak melepaskan senjatanya, dia menekan semakin dalam dan menyemburkan cairan-cairan cintanya ke dalam rahim Xena seraya menikmati pijatan-pijatan yang membuatnya semakin melayang.


Beberapa menit kemudian, barulah Adit melepaskan senjatanya, mengambil tissue dan mengelap bercak darah di sekitar intinya dan juga Xena. Adit merebahkan tubuhnya di samping Xena, merapikan rambut gelombangnya, menyeka keringat yang membanjiri wajah cerah itu, kemudian mencium keningnya sambil mengucapkan kata cinta dan juga terima kasih. Xena tak menjawab karena napasnya masih tersengal, Xena hanya mampu mengangguk dan tersenyum manis.


"Sayang," Xena memeluk Adit dengan erat. Membenamkan wajahnya dalam-dalam.


"Sayang," panggil Xena kaget ketika Adit memeluknya dengan tangan yang kembali berkelana.


"Aku mau lagi, Sayang!" seru Adit kembali menerkam Xena.


.


.


.

__ADS_1


Tanpa gantung ini, Guys. 2200 kata full untuk satu bab, kalau enggak percaya silahkan kalian hitung deh๐Ÿ˜ช๐Ÿ˜† Biasanya 2k kata Othor bagi jadi 4 bab, ini satu bab full loh๐Ÿคญ.


Untuk itu jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya, ya, Guyas. Makasih banyak semuanya, Calangeo Guys ๐Ÿ˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2