Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 84


__ADS_3

"Keluar? Sekarang?" tanya Ziva linglung.


"Iya sekarang, Nona. Ini adalah terapi terakhir. Setelah cairannya keluar nanti, tolong masukan ke dalam botol kaca ini. Nona tidak usah khawatir karena saya akan menunggu di luar, ini, ambilah botolnya," Dokter Adit mengulurkan botol kecil berbentuk tabung kepada Ziva. Ziva menyambutnya dengan ragu.


"Kalau begitu saya tinggal, jangan lama-lama, ya, Nona," pesan dr. Adit. Setelah menyelesaikan kalimatnya, Dokter Adit langsung keluar dari ruangan, meninggalkan Ziva dan Lolan berdua.


"Apa kamu lelah, Sayang? Kalau lelah istirahat saja, aku bisa melakukannya sendiri," Lolan tak tega melihat wajah lelah Ziva, dirinya juga tidak ingin membuat Ziva terus ketakutan.


"I-tu a-aku ...."


"Aku bisa sendiri, Sayang. Kamu istirahat saja kalau lelah," Lolan bangkit lalu mengangkat tubuh mungil Ziva untuk naik ke atas ranjang.


"Tapi aku—"


"Sssstt, aku bisa melakukannya sendiri. Duduk diam saja di sini, aku tidak akan lama," Lolan berbalik badan menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu. Sedangkan Ziva duduk di ranjang dengan perasaan tak menentu.


Di dalam sana, Lolan mengambil posisi berdiri tepat di bawah shower dan langsung menurunkan celananya. Dengan tangan kiri, Lolan mulai memainkan senjata pusakanya sambil membayangkan tubuh dan wajah cantik Ziva.

__ADS_1


Lolan memejamkan matanya kala merasakan nikmat yang terus mejalar lewat aliran darah hingga menumpuk di bagian senjata pusakanya yang berdiri tegap.


Saat rasa nikmat itu kian mendekat, Lolan mengeratkan genggaman tangannya yang masih memegang erat tabung mini yang tadinya Dokter Adit berikan.


Saat rasa itu sudah berada di ubun-ubun, dengan cepat Lolan memposisikan tabung mini itu tepat di pangkal pahanya, hingga semua cairan kehidupan muncrat dan langsung masuk ke dalam tabung mini itu. Begitu semuanya keluar, Lolan menutup tabung itu segera.


Kini, Lolan duduk di atas kloset, memenangkan diri serta mengatur napasnya yang tersengal. Lolan benar-benar tak habis pikir, entah apa yang istimewa dari Ziva, hingga dirinya bisa begitu bernafsu hanya dengan membayangkannya saja. Lolan berpikir, apakah dia akan mati ketika merasakan langsung bagaimana nikmatnya tubuh Ziva. Astaga, membayangkannya saja membuat Lolan merasa ingin mati saat itu juga.


Beberapa menit kemudian, saat dia merasa kembali tenang. Lolan segera berdiri dan langsung keluar dari kamar mandi.


"Apa Sudah?" tanya Ziva yang masih duduk patuh di atas ranjang.


"Aku ingin turun," Ziva membentangkan kedua tangannya, ingin segera turun dari ranjang. Lolan mendekat, memeluk Ziva dan menurunkan Ziva perlahan.


"Tunggu di sini, aku akan panggilkan Dokter Adit," imbuh Ziva langsung pergi untuk memanggil Dokter Adit yang menunggu di luar ruangan.


Tak lama kemudian, Ziva pun kembali masuk bersama dengan Dokter Adit.

__ADS_1


"Berikan kepadaku," pinta Dokter Adit dan Lolan memberikan tabung mini itu.


"Berbaringlah, aku akan memberikan infus vitamin padamu," dengan patuh Lolan kembali naik ke atas ranjang. Dokter Adit mulai menusukkan jarum ke lengan Lolan, memasang infus di sana.


Setelahnya, Dokter Adit pergi untuk memeriksa cairan kehidupan milik Lolan. Lolan memerintahkan Ziva untuk menunggu sambil duduk di sofa saja, karena tidak tega melihat istrinya yang berdiri terlalu lama.


Karena terlalu lama menunggu, tanpa sadar Ziva ketiduran di sofa. Pemandangan Sang Istri yang tertidur dengan tenang membuat Lolan juga ikut merasa tenang. Dia merasa ingin memeluk Ziva saat itu juga.


Lolan merasa tak sabar menunggu malam tiba, karena malam ini dia akan menghabiskan waktu berharga bersama wanita yang kini begitu dia cintai.


"Lolan," panggil Dokter Adit yang masih memeriksa cairan itu mengunakan sebuah alat khusus.


"Iya. Bagaimana? Kandungan zat-zat di dalamnya aman, bukan?" tanya Lolan antusias.


"Setelah aku periksa beberapa kali, zat-zat yang terkandung di dalamnya adalah ....


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2