
Tiba di rumah sakit, Adit langsung masuk ke dalam lift khusus yang akan langsung mengarahkannya ke lantai 3, di mana di lantai itu adalah lantai yang berisi ruangan-ruangan khusus untuk keluarganya bila sakit. Adit berlari melewati lorong demi lorong hingga akhirnya sampai di mana Ayahnya, Ana, dan juga Ana tengah duduk tenang di sebuah sofa tunggu.
Adit menurunkan kecepatan larinya saat melihat calon Istrinya duduk dengan tenang dan terlihat baik-baik saja. Ketika tiba, dia berusaha tetap tenang dan terlihat seperti orang-orang baik-baik saja. Padahal tadinya, Adit terlihat seperti orang yang akan kehilangan separuh jiwanya.
"Karena Adit sudah datang, ayo kita semua pulang sekarang. Kamu juga ikut Ana, rumahmu sudah tidak aman, untuk sementara kamu ikutlah paman dulu, biar Xena juga ada temannya," tutur Daddy Jonas.
"Saya takut ada yang ingin mencelakai Ibu lagi, saya di sini saja, Paman," tolak Ana sopan.
"Biarkan Ibumu di rawat di sini. lantai ini tidak bisa dimasuki sembarang orang. Ada Suster dan Dokter khusus yang akan menjaganya, Paman juga akan meninggalkan orang suruhan Paman untuk menjaga Ibumu di rumah sakit ini. Ibumu pasti akan aman," balas Daddy Jonas tetap ingin membawa Ana. Dia tidak ingin kehilangan lagi, dia harus menepatinya janjinya kepada Almarhum sahabatnya.
"Tapi Paman a—"
"Sudah-sudah, Lo harus ikut gue!" paksa Xena yang kini gantian menyeret Ana.
__ADS_1
Xena dan Ana berjalan lebih dulu, sedangkan Adit dan Daddy mengekor di belakang. Daddy Jonas menceritakan semua yang terjadi kepada Adit, tentu Adit sangat kaget akan hal itu. Andai dia tahu akan seperti itu, dia akan lebih memilih menjemput Xena daripada berurusan dengan investor.
Adit juga kaget ternyata Daddy Jonas tahu semua seluk-beluk tentang Kalista. Tapi, mengingat sehebat apa Sang Daddy nya, Adit pun tak lagi heran. Malah dia berterima kasih kepada Sang Daddy Jonas. Jika bukan karena Daddy-nya, entah akan di apakan Xena oleh Kalista yang licik dan kejam.
"Aku juga punya banyak bukti tentang penipuan serta korupsi yang dilakukan oleh Daddynya Kalista. Dengan bukti itu, bukan hanya Kalista yang akan dipenjara, tapi juga Ayahnya," ucap Adit berapi-api. Berani menyentuh Calon Istrinya, maka orang tersebut harus berani mati di tangannya.
"Daddy tahu itu, serahkan saja bukti itu ke kantor polisi. Selanjutnya, biar Daddy yang urus."
Tiba di halaman rumah sakit, Daddy Jonas, Adit, Xena dan Ana langsung masuk ke dalam mobil yang sudah siap menunggu. Daddy Jonas duduk di kuris samping kemudi, sedangkan Xena berada di tengah-tengah, antara Adit dan Ana.
"Kamu baik-baik saja, bukan?" tanya Adit sambil memeriksa tubuh Xena.
"Aku baik-baik saja dan hanya kelelahan saja," jawab Xena cepat.
__ADS_1
"Jangan berbohong, kau pucat begitu. Jangan lupakan siapa sebelumnya aku," tegas Adit membuat Xena memutar bola mata jengah.
"Iya-iya, Dokter Adit. Aku memang tidak baik-baik saja. Aku merasa pusing, lemas, mual dan pinggangku juga sakit separuh. Tapi separuh saja tidak banyak. Masih perawan," goda Xena malah kembali mengingatkan Adit akan hal itu. Adit pun menggelengkan kepalanya, begitu pun dengan Ana yang berada di samping Xena.
"Kau ini. Saring dulu setiap kata dan kalimat sebelum keluar dari mulutmu ini," Adit memijit pelan pundak Xena. Adit tahu Xena baik-baik saja, Xena hanya lelah, apalagi sebelumnya dia berlari cukup jauh. Apa yang kini Xena rasakan adalah efek samping biasa karena dia hidup hanya dengan satu ginjal.
"Ah geli ... Daddy, anakmu menyentuhku."
.
.
.
__ADS_1