
"Ih lepasin, kenapa mataku ditutup?" protes Ziva kala kedua telapak tangan kekar Sang Suami menghalangi penglihatannya.
"Adegan dewasa, Sayang. Kamu tidak boleh lihat," jawab Lolan yang tak ingin Istrinya melihat ciuman panas antara Sahabatnya Adit dan Xena.
"Aku juga sudah dewasa, lepasin," Ziva berontak tapi Lolan tak kunjung menyingkirkan kedua tangannya.
"Belum selesai, Sayang," cicit Lolan.
"Lama banget," keluh Ziva risih terus dihalangi penglihatannya.
"Adikmu terlalu agresif," goda Lolan sengaja mengingatkan Ziva tentang adegan panas mereka siang tadi.
"Issssh ...." Xena menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan ketika Lolan melepaskannya.
"Lah, sudah selesai Sayang. Kenapa ditutup lagi?" Lolan semakin menggoda Sang Istri yang tengah malu.
"Berhenti meledekku, aku malu."
"Haha ... Kamu lucu sekali, Sayang," geram Lolan menurunkan kedua tangan Ziva.
"Jangan melihatku begitu," larang Ziva saat Lolan menatapnya dalam.
"Aku mengagumi kecantikan wajah dan hatimu, Sayang," ledek Lolan tapi dengan tatatapn yang serius.
"Gombal tidak cocok untuk pria kejam, arogan dan dingin sepertimu," cecar Ziva merasa aneh dengan tingkah Lolan yang sekarang ini.
__ADS_1
"Akh!" Ziva terhuyung seraya memegang keningnya yang terasa pusing.
"Kenapa, Sayang?" Lolan langsung menangkap tubuh Sang Istri yang hampir terjungkir ke belakang.
"Tidak apa-apa," jawab Ziva mengerjabkan mata beberapa kali untuk menyingkirkan pusing di kepalanya.
"Astaga, tidak apa-apa bagaimana, Sayang? Wajahmu pucat, duduklah dulu," Lolan menuntun Ziva untuk duduk di sofa khusus yang disiapkan untuk keluarga Talsen Baldev.
"Ziva kenapa, Lolan?" tanya Mommy Nata yang duduk di sofa sebelah Ziva.
"Kepalanya pusing, Mom," jawab Lolan sambil membenamkan wajah Istrinya ke dalam pelukan hangatnya.
"Astaga, Ziva pasti kelelahan. Bawa ke kamar saja," desak Mommy Nata.
Tepat saat Lolan akan merangkul tubuh mungil Ziva, saat itulah Ziva kehilangan kesadarannya. Lolan pun tidak jadi merangkul Ziva dan lebih memilih menepuk pelan pipi Ziva untuk menyadarkannya.
Adit dan Xena yang menyadari hal itu, kompak langsung turun dari panggung bersamaan. Beruntung semua ritual pernikahan sudah dilakukan, hingga tidak ada ritual yang ketinggalan karena Ziva yang pingsan mendadak.
"Ziva kenapa?" tanya Adit yang langsung memeriksa kondisi Ziva.
"Aku tidak tahu, Adit. Tadi dia baik-baik saja. Bahkan masih bercanda denganku, bagaimana ini, Ziva sayang sadarlah," tutur Lolan panik.
"Bawa ke kamar saja, aku akan memeriksanya," titah Adit dan Lolan langsung mengangkat tubub mungil Ziva dan dia bawa menuju kamar.
Semua keluarga pun ikut mengekor di belakang Lolan. Termasuk Adit dan Xena pastinya. Yang tetap berada di Rooftop hanya Daddy Jonas, Daddy Jonas berpidato, memberitahu para tamu untuk tetap melanjutkan acara hiburan tanpa harus mengkhawatirkan apa yang barusan terjadi.
__ADS_1
Tiba di kamar, Lolan langsung membaringkan Ziva perlahan, seakan tubuh Sang Istri adalah porselen yang mudah pecah.
Adit, Xena, Mommy Nata, Daddy Jackson dan Bibi Aslin ikut masuk ke dalam kamar. Mereka semua ingin memastikan bahwa keadaan Ziva baik-baik saja.
Adit mengambil alih tugas Lolan. Adit naik ke atas ranjang agar dapat lebih leluasa memeriksa keadaan Ziva yang belum juga membuka matanya.
Beruntung Adit sempat meminta pengawal untuk mengambil alat medisnya, hingga Adit dapat langsung memeriksa keadaan Ziva tanpa harus menunggu lama.
Adit meletakkan sebuah alat bulat di dada Ziva dan mendengarkan detak jantungnya. "Lolan tolong buka gaun Ziva sebentar," pinta Adit membuat Lolan mengerutkan alis.
"Aku perlu memastikan sesuatu. Gunakan selimut ini," Adit menarik selimut tebal, sedangkan Daddy Jackso langsung membalikkan tubuhnya.
"Apa yang terjadi, Adit?" tanya Mommy Nata panik.
"Sebentar Mom," sahut Adit. Kemudian, Lolan menarik selimut hingga menutupi dada Ziva, Lolan menyelinapkan salah satu tangannya, lalu menyingkap gaun Sang Istri ke atas. Dengan begitu, perut Ziva terbuka tapi masih terbalut selimut.
Adit sigap menyelinapkan tangan kanannya, menekan perlahan perut rata Ziva dengan senyuman yang mengembang di bibir tipisnya.
"Apa yang tarjadi, Adit?" tanya Lolan mendesak, sedangkan semua orang dibuat bingung dengan senyuman manis Adit yang mengembang.
"Ziva ....
.
.
__ADS_1
.