
Tiba di dalam kamar mandi, seperti biasa Ziva harus membuka pakaiannya terlebih dahulu. Setelahnya barulah Lolan akan membantunya menyiramkan tubuhnya dengan begitu berhati-hati agar tidak mengenai lukanya.
"Aku bantu buka, Sayang," tawar Lolan begitu pandai mencari kesempatan dalam kesempitan.
"Aku bisa sendiri," tolak Ziva yang langsung akan membuka pakaiannya sendiri. Lolan kembali merayu Istrinya. Tapi, Ziva kembali menolaknya begitu saja. Padahal, sebelumnya-sebelumnya memang Lolanlah yang melakukannya. Mengingat Lolan selalu memanfaatkan itu untuk menyentuh tubuhnya, kali ini Ziva menolak.
Lolan maju semakin maju, sedangkan Ziva terus mundur ke belakang. Ziva yang geram, mendorong tubuh Lolan.
"Aaaakh!" lantai kamar mandi yang licin membuat Lolan terpeleset dan jatuh mendarat di lantai basah kamar mandi.
"Lolan," panggil Ziva panik kala melihat apa yang terjadi kepada Lolan. Tidak disangka dorongannya yang tak kuat sama sekali dapat membuat Lolan jatuh terhentak ke lantai.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja, Sayang," bohong Lolan, padahal jelas dia merasakan sakit di pinggangnya.
"Hadeh. Sangat tidak estetik, pria kekar sepertiku terjatuh ke lantai. Realita memang tak sesuai ekspektasi." Batin Lolan kesal akan apa yang terjadi kepadanya saat ini. Harusnya terjadi adegan ciuman yang romantis di kamar mandi di bawah guyuran air. Namum, semua rencana tinggallah rencana, ketika dirinya malah terjatuh. Beruntung bukan Ziva yang terjatuh, kalau Ziva yang jatuh, entah akan sepanik apa dirinya, karena benturan yang keras pasti akan membuat luka Ziva terbuka atau pun pendarahan di dalam.
"Ayo, aku bantu berdiri," Ziva berusaha membantu Lolan untuk berdiri. Lolan terlihat kesulitan saat berjalan. Bahkan, Ziva dapat merasakan tubuh Lolan sangat berat. Itu artinya, pria itu tidak dapat menahan bobot tubuhnya sendiri.
Tiba di kasur, Ziva kembali membantu Lolan berbaring. "Ada darah," ujar Ziva kala kaget saat ada darah di tangannya yang sebelumnya menyentuh punggung Lolan.
__ADS_1
Sigap Ziva langsung melihat keadaan punggung kekar milik Lolan "Astaga, punggungmu berdarah," lanjut Ziva panik.
"Benarkah, Sayang?" Lolan mengulurkan tangannya untuk menyentuh punggungnya, dan benar saja ada luka di sana.
"Tidak usah khawatir, Sayang. Hanya luka kecil, sepertiku tidak sengaja terbentur sesuatu saat aku terjatuh tadi."
"Aku akan panggilkan Dokter Adit," Ziva yang panik langsung menyambar ponselnya untuk menelpon Dokter Adit.
"Dokter Adit baru saja pulang, Sayang. Ambilkan kotak p3k di sana saja," tunjuk Lolan ke laci di meja. Terlihat Lolan tak merasa sakit sama sekali pada luka kecil di punggungnya.
"Baiklah," Ziva berjalan cepat menuju laci di meja rias, kemudian mengambil kotak p3k di dalamnya. Begitu mendapatkannya, Ziva kembali ke ranjang dan siap mengobati luka Lolan.
"Tidak, Sayang. Tapi, coba pelan-pelan saja," Ziva pun menurut dan melakukannya perlahan.
Begitu selesai membersihkan luka itu, Ziva langsung menutupnya dengan plaster karena luka tidak terlalu besar.
"Sudah selesai, begaimama? Sudah tidak sakit lagi, bukan?" tanya Ziva berjongkok di atas kasur untuk melihat ekspresi wajah Lolan. Karena tak tahan dengan tubuh Istrinya yang selalu menggoda, Lolan pun menarik pinggang ramping Ziva dan jadilah Ziva berada di atas pangkuan Lolan.
"Lolan, kamu—" Ziva dapat merasa ada sesuatu yang mengeras di bawah sana.
__ADS_1
"Haha ... Iya, Sayang. Kenapa mudah sekali kerasnya, ya? Sekarang, bantu aku keluar, ya," pinta Lolan memelas membuat Ziva tak dapat berbuat banyak selain membantu Suaminya.
"Berbaringlah, akan aku bantu," Ziva akan turun dari atas pangkuan Lolan, tapi Lolan menahan tubuhnya agar tidak ke mana-mana.
"Kenapa?"
"Posisi begini saja, Sayang," pinta Lolan membuat Ziva mengerutkan alis.
"Bagaimana?" Ziva kembali bertanya karena bingung.
"Kamu tinggal goyang."
"Go-goyang ....
.
.
.
__ADS_1