
"Dasar bajingan, kenapa aku masih saja mencintainya setelah apa yang dia lakukan kepadaku," oceh Xena memeluk tubuhnya yang kedinginan akibat bajunya yang tipis.
Xena merasa begitu jijik dengan tubuhnya, sungguh dirinya tidak menyangka bahwa pelecehan benar-benar menimbulkan efek trauma yang mendalam.
Xena menyalahkan dirinya sendiri juga merasa begitu jijik kepada tubuhnya. Rentetan air mata yang mengalir menimbulkan efek pusing pada kepalanya.
Xena menatap ke sekitar yang tampak begitu sepi, mendadak dirinya menjadi ketakutan. Xena menyingkir ke pinggir jalan, berjongkok di sana sambil memeluk tubuhnya.
Deerrtt ....
Beruntung Xena tidak melupakan ponselnya, ketika ponselnya bergetar, Xena langsung mengangkatnya cepat.
"Xena, kamu di mana? Ibu kira kamu sudah pulang duluan, di mana kamu sekarang? Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bibi Aslin khawatir akan kondisi Putrinya yang sebelumnya dia kira telah pulang lebih dulu.
"A-aku ... Aku baik-baik saja, Ibu," jawab Xena berbohong. Entah apa yang akan dilakukan Sang Ibu bila mengetahui kondisinya saat ini.
"Kamu di mana sekarang?"
"Aku ada di rumah Ana, Ibu," lagi dan lagi Xena berbohong.
"Kenapa tidak meminta izin dulu?" bentak Bibi Aslin murka.
"Maaf, Ibu. Tadi ada tugas mendadak, iya! Ibu, Ana memanggilku, aku tutup dulu, ya," ujar Xena langsung menutup panggilan sepihak.
__ADS_1
"Maaf, Ibu. Aku juga tidak ingin menjadi begini, apa yang harus aku lakukan? Tapi yang pasti, aku akan menjauh dari Dokter Adit. Ya, aku akan menjauh darinya, aku tidak akan mengejarnya lagi, aku tidak akan mengejar pria yang sama sekali tidak mencintaiku."
Xena kembali membuka ponselnya, lalu membuat panggilan ke nomor Ana. "Hallo Xen, ada apa malam-malam telpon, tumben," sambut Ana.
"Lo di mana?" tanya Xena santai.
"Di bar dong, memangnya di mana lagi tempat gue kerja?" tanya balik Ana.
"Kalau Cristi di mana?" tanya Xena lagi.
"Nah, kalau Cristi sudah masuk kamar sama Suggar Daddynya. Lo kenapa? Ada apa?"
"Enggak apa-apa, nanti gue telpon lagi," Xena langsung memutuskan panggilan. Saat ini Xena bingung harus menghubungi siapa lagi? Di saat seperti ini, biasanya hanya Ziva yang dapat membantunya. Namun, tidak mungkin dirinya meminta bantuan kepada Kakaknya, jelas ini adalah malam pertama bagi mereka.
"Astaga perih sekali," keluh Xena meniup lukanya agar perihnya berkurang.
Saat angin malam berembus, Xena kembali memeluk diri karena merasa sangat kedinginan. Apalagi kaos yang dia kenakan sangatlah tipis dan menerawang di tubuh polosnya yang tidak mengenakan cd atau pun bra.
"Hay Nona cantik, widih seksi banget!" seru seorang pria bertubuh kurus berkulit hitam. Xena langsung menutupi bagian atas dan bawahnya dengan kedua tangan seadanya.
"Makin ditutup kita makin penasaran, Nona seksi," sahut pria satunya yang bertubuh gemuk dengan kulit putih.
"Bro ayo kita hajar, anak jalanan baru keknya, mana cantik banget lagi," ujar pria bertubuh kurus itu mendekat pada Xena. Xena langsung berlari sekuat tenaga. Namun sayang kedua pria itu dapat menangkapnya dengan mudah lantaran larinya yang tidak kencang sama sekali. Hingga kedua pria itu berhasil menangkapnya.
__ADS_1
"Mau ke mana, Sayang? Lebih baik temani malam kita saja, setelah itu kita bantu cari majikan kaya," ujarnya memeluk Xena dengan erat.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" Teriak Xena berusaha berontak, tenaganya yang telah off membuatnya hanya dapat menggerakkan tubuh dengan lemah.
"Belum di apa-apain udah lemas bro, ayo kita bawa ke tempat yang enak, sebelah sana kayaknya nggak akan terlihat," ucap pria gendut memberi saran dengan menunjuk ke sebuah hutan di sana.
"Kalian mau apa? Jangan macam-macam, ya! Aku akan panggil polisi!" ancam Xena.
"Panggil saja, Sayang. Negara kita ini polisinya pada lemah-lemah, yang kuat cuma pejabat. Ayo kita bawa dia!" Serunya langsung menyerat paksa Xena.
Ketika tiba di hutan, kedua pria itu langsung melempar Xena hingga tersungkur di rumput-rumput rimbun dan agak basah.
"Karena gue boss, jadi gue duluan. Lo jaga," ucapnya.
"Baik, boss," sahutnya langsung berbalik untuk melihat sekitar.
Xena mundur sedangkan pria itu semakin mendekat ingin menciumnya. Tepat saat pria itu semakin dekat dengan wajahnya, saat itu pula Xena merasa kepalanya begitu pusing hingga akhirnya kehilangan kesadarannya.
"Aaaakhh!"
.
.
__ADS_1
.