
"Masuk, kenapa masih diuar?" tanya Dokter Adit yang masih duduk santai di dalam mobilnya.
"Dokter nggak romantis amat, nggak gantelman," ketus Xena membuka pintu asal lalu menjatuhkan bo kongnya di kursi samping Dokter Adit yang masih belum mengerti keinginan Xena. Beberapa detik kemudian, barulah dia menyadari bahwa Xena memintanya untuk membukakan pintu mobil persis seperti scene romantis di drama-drama yang Xena tonton.
"Aku tidak suka gadis manja," sahut Dokter Adit langsung tancap gas mengantar Xena ke sekolah.
"Dokter mau ke mana?" tanya Xena memecah keheningan yang semula terjadi.
"Mengantarmu ke sekolah," jawabnya membuat Xena memutar bola mata jengah.
"Sehabis mengantarku, Dokter mau ke mana?" Xena mendekat ke wajah Dokter Adit, Dokter Adit yang merasa terganggu perlahan mendorong kepala Xena.
"Apa aku perlu memberitahumu ke mana aku akan pergi."
"Tentu saja, seorang Istri harus tau ke mana Suaminya pergi," jawab Xena kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Dokter Adit. Baju Xena yang begitu tipis dan ketat membuat kedua gundukannya jelas terlihat ukurannya.
"Calon Istri," ralat Dokter Adit kembali mendorong pelan tubuh Xena.
"Empat hari lagi aku akan jadi Istri Dokter. Jadi, katakan ke padaku ke mana Dokter akan pergi?" Xena menyaut cepat.
"Ke perusahaan."
"Wah, benarkah?" tanya Xena hampir tak percaya karena Dokter Adit benar-benar meninggalkan pekerjaannya sebagai Dokter demi dirinya.
__ADS_1
"Tidak disangka Dokter mencintaiku begitu dalam. Aku sangatlah beruntung," lanjut Xena lagi.
"Tunggu ... Berarti sekarang Dokter bukan lagi Dokter Adit, melainkan sudah berganti menjadi CEO Adit?" Xena semakin kagum, tidak menyangka impiannya yang ingin memiliki Suami seorang CEO seperti di novel-novel akhirnya terwujud.
"Tentu saja. Mulai sekarang kamu tidak lagi boleh memanggilku Dokter."
"Lalu panggil apa? Apa Om Adit?"
"Aw! Sakit Dokter!" bentak Xena sambil mengelus hidung mancungnya yang ditarik oleh Dokter Adit.
"Makanya, panggil yang benar."
"Iya, tapi apa? Aku harus panggil apa? Tidak mungkin hanya Adit. Oh iya, bagaimana kalau aku panggil, Sayang?"
"Baik, kalau begitu, mulai saat ini aku akan memanggil Dokter dengan sebutan Sa-yang." eja Xena membuat Adit berdehem gugup.
Beberapa menit kemudian, Xena heran kerena Adit tidak mengantarnya ke sekolah, tapi malah memberhentikan mobilnya di sebuah butik terdekat.
"Dokter, eh maksudku Sayang. Kenapa malah ke sini? Lima belas menit lagi gerbang sekolahku akan ditutup," protes Xena.
"Kita di sini hanya lima menit. Cepat keluar," titah Adit membuka pintu mobil untuk Xena, tapi Xena masih juga tidak mau ke luar.
"Kalau aku nggak mau, bagaimana?" Xena mengalihkan pandangannya sambil memangku kedua tangan.
__ADS_1
"Akan aku paksa," jawab Adit mengelurkan Xena dengan cara menggendongnya.
"Tidak, lepaskan aku!" teriak Xena karena malu di lihat oleh banyak orang.
"Beruntung sekali anak perempuan itu, selain punya Ayah yang sangat tampan, tapi juga sangat perhatian," ucap orang-orang di sekitar kala melihat pemandangan romantis antara Xena dan Adit.
Sampai di dalam butik, Xena bukannya malu, tapi malah terus tertawa terbahak-bahak kala melihat raut wajah kesal Adit yang tidak suka dikira seorang Ayah, jelas Xena adalah calon Istrinya. Dan satu lagi, jelas dia masih muda dan sangat tampan. Adit merasa tidak terima disebut sebagai seorang Ayah dari Calon Istrinya.
"Berhenti tertawa atau kamu akan terlambat ke sekolah," mendengar itu seketika Xena menghentikan tawanya.
"Kamu yang membawaku ke sini, ayo kita kembali, aku sudah akan terlambat." Xena akan pergi namum Adit menahannya.
"Ganti seragammu dengan yang ini, setelah itu baru pergi," Dokter Adit menyerahkan seragam baru kepada Xena.
"Tidak mau, itu tidak seksi. Itu bukan styleku," tolak Xena mengalihkan pandangan seakan jijik menatap seragam yang Adit ulurkan.
"Kamu yang pasang sendiri atau aku yang akan memasangnya ke tubuhmu," ancam Adit.
"Kamu saja yang pasangkan. Sekalian kita main sebentar di dalam ruang ganti."
.
.
__ADS_1
.