
Flashback
Pulang dari sekolah, seperti biasa Ana langsung menuju rumah sakit untuk menjenguk Ibunya yang masih di rawat karena memiliki riwayat penyakit jantung. Biasanya, Ana akan pulang ke rumah setelah menjenguk keadaan Ibunya.
Ana berjalan cepat di lorong rumah sakit hingga tiba di kamar rawat inap di mana Sang Ibu biasanya terbaring lemah tak sadarkan diri.
Tergesa-gesa Ana membuka pintu kamar itu, ketika masuk ke dalam kamar, Ana di buat terkejut lantaran Sang Ibu tidak ada di ranjangnya yang seharusnya dia berada di sana.
Seketika Ana panik kala tak menemukan Ibunya di mana pun. Ana sudah memeriksa kamar mandi, dan sudut lainnya, tapi tetap tidak bisa menemukan Ibunya.
Ana segera ke keluar dari kamar rawat inap Ibunya, Ana berlari menuju ruangan di mana para Suster berada. Ana menemui Suster yang biasanya mengurus Ibunya, begitu bertemu dengan Suster cantik itu, Ana langsung menanyakan di mana Ibunya berada.
"Ibu kamu sudah dibawa rujuk ke luar negeri oleh Kakak perempuan kamu. Apa dia tidak mengabarimu?" tanya Suster itu membuat lutut Ana lemas seketika kala kaget mendengar keterangan dari Suster.
"Suster, Saya tidak punya Kakak perempuan!" bentak Ana tak bisa menyembunyikan ke khawatirannya.
Suster itu terlihat gugup, dia tidak tahu bahwa Ana tidak punya Kakak perempuan. Tapi, dia merasa tidak bersalah, karena sebelumnya wanita yang mengaku sebagai Kakak Ana sudah menunjukkan begitu banyak bukti kuat yang membuatnya percaya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, dia punya segala bukti yang menyatakan bahwa dia adalah salah satu anak dari Ibumu."
"Ke mana wanita itu membawa Ibuku?" tanya Ana murka kepada Sang Suster yang bekerja sembarangan.
"Dia hanya mengatakan akan membawa Ibumu ke luar negeri karena di sana dia sudah menemukan pendonor yang cocok," jelas Suster itu.
"Ke luar negeri mana?"
"Dia tidak mengatakan itu," jawab Suster itu santai.
"Astaga Suster," rutuk Ana.
"Suster, seharusnya Suster bisa telpon aku lebih dulu. Katakan kepadaku bahwa ada orang yang ingin membawa Ibuku pergi. Lihat saja, aku akan melaporkan Suster ke atasan di rumah sakit ini!" ancam Ana sukses membuat Suster itu ketakutan.
"Dengar ya, Ana. Mau kamu lapor ke siapa pun aku tetap tidak salah, karena aku punya semua bukti lengkap yang dibawa oleh Kakak perempuanmu itu. Silahkan laporkan," ancam balik Suster itu kemudian pergi begitu saja.
Ana menggenggam erat tangannya, menggerakkan giginya. Kemudian segera pergi ke ruangan Direktur rumah sakit itu untuk mencari kejelasan siapa yang membawa Ibunya pergi.
__ADS_1
Sayangnya semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ana tidak berhasil bertemu dengan direktur rumah sakit itu. Jangankan bertemu, mereka bahkan tidak memberitahu di mana ruangan Direktur rumah sakit berada.
Setiap Karyawan rumah sakit yang dia temui, tidak ada yang mau membantunya. Bahkan, mereka juga tidak mengizinkan Ana untuk melihat rekaman cctv. Dari situ, Ana menyadari ada hal yang tidak beres.
Ana keluar dari rumah sakit, dia akan pergi ke kantor polisi untuk melaporkan keteledoran pihak rumah sakit hingga menyebabkan Ibunya menghilang tanpa jejak.
Saat sudah berada di depan kantor polisi. Tiba-tiba ada panggilan yang masuk dari nomor baru dan langsung Ana mengangkatnya segera.
"Hallo," sapa Ana.
"Apa kamu mencari Ibumu?" ujar seseorang di seberang sana.
"Siapa kamu? Di mana Ibuku?" tanya Ana dengan tubuh bergetar.
"Ibumu akan aman kalau kamu mau melakukan sesuatu yang aku inginkan. Bila tidak, maka katakan selamat tinggal pada Ibumu."
.
__ADS_1
.
.