Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 93


__ADS_3

Pagi tiba dengan membawa seribu keceriaan bagi umatnya yang bangun pagi itu, suara angin yang berhembus membuat suasana pagi kian terasa dingin, membuat banyak umat lebih memilih menarik selimut daripada bangkit dan bekerja.


Sinar matahari yang masuk lewat celah-celah ventilasi, membangunkan Lolan yang masih memeluk Ziva dengan eratnya. Terbangun dengan memeluk erat Ziva adalah hal yang paling disyukurinya saat ini. Lolan pun mengeratkan pelukannya, mencium kening Sang Istri dengan lembut.


"Astaga," Lolan begitu kaget karena bibirnya seakan terbakar kala bersentuhan dengan kulit kening Istrinya yang dia rasa sangatlah panas.


Dengan cepat Lolan langsung melepaskan pelukannya, bangkit dari duduknya, lalu memastikan lagi kening Sang Istri. Dan benar saja, masih terasa sangat panas. Ziva demam tinggi, tentu Lolan begitu khawatir akan hal itu.


"Sayang, bangunlah," panggil Lolan lembut sambil menepuk pelan pipi Sang Istri.


"Sa-kittt ..." ringis Ziva meracau dengan mata yang masih terpejam. Mendengar rintihan Sang Istti tentu membuat Lolan begitu merasa bersalah. Apakah semalam dia terlalu berlebihan? Apakah semalam dia benar-benar membuat Ziva tidak merasa bahagia? Sial, Lolan mengumpat dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu sampai membuat Istrinya demam tinggi.


Mengingat durasi yang tidak sebentar, Lolan menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya dia hanya mementingkan nafsunya saja, harusnya dia juga mementingkan kondisi Istrinya. Lolan memukul-mukul tubuhnya beberapa kali, lalu menyisir rambutnya kasar dengan jemari, seakan menghukum diri.


Lolan segera turun dari ranjang, mengambil pakaiannya di lemari kemudian mamakainya segera. Tak lupa Lolan juga mengambil pakaian untuk Ziva, begitu mendapatkan pakaian yang sekiranya pas, Lolan kembali ke ranjang di mana Ziva masih terbaring lemah dengan wajah pucatnya.

__ADS_1


Lolan meletakkan pakaian Istrinya ke atas nakas, dia menyingkap selimut Ziva lebih dulu. Ada bercak darah di bawah tubuh Istrinya, Lolan berlari menuju kamar mandi. Mengambil air hangat juga sebuah handuk mini yang baru, lalu Lolan membawanya lagi ke ranjang.


Pertama-tama, Lolan menyingkirkan seprei yang sudah bernoda itu. Meletakkannya ke samping ranjang karena nanti akan ada pembantu yang akan mengambil dan mencucinya.


Setelahnya, Perlahan Lolan membersihkan tubuh Istrinya, mengelap setiap inchi demi inci senti demi senti tubuh mungil Ziva. Rasa bersalahnya kian membesar saat melihat banyaknya bekas kepemilikan yang dia tinggalkan di sekujur tubuh Ziva. Apalagi bagian inti dari tubuh Ziva yang memar akibat ulahnya, membuatnya semakin merasa bersalah dan menyesali tindakan buasnya semalam.


Walau yang di bawah sana kembali memberontak, Lolan berusaha menahannya. Selesai membersihkan seluruh bagian di tubuh Ziva, Lolan segera memasangkan Istrinya pakaian. Kesulitan mengenakan bra, akhirnya Lolan pun menyerah, dia hanya memasang cd dan gaun selutut di tubuh Istrinya tercinta.


Tok, tok, tok ....


Lolan bangkit, berjalan menuju pintu kamar lalu membukanya sedikit. "Ada apa, Mommy?" tanya Lolan menyelinapkan kepalanya membuat Mommy Nata heran.


"Minggir kamu, Mommy mau melihat Menantu Mommy," imbuh Mommy Nata yang kedua tangannya memegang semangkuk bubur juga segelas susu hangat.


"Mommy jangan!" larang Lolan, Mommy Mata mengerutkan alisnya.

__ADS_1


"Kenapa?" Ketusnya.


"Aku tidak berpakaian dan Ziva juga tidak berpakaian. Dia masih tidur kerena kelelahan, berikan saja kepadaku makananya," pinta Lolan mengulurkan kedua tangannya.


"Ziva baik-baik saja, bukan?" selidik Mommy Nata curiga.


"Iya, Ziva baik-baik saja. Dia hanya kelelahan saja," kilah Lolan, dia terpaksa berbohong. Jika Sang Mommy tahu keadaan Ziva yang sebenarnya, habislah dirinya. Sudah pasti Mommy-nya akan membantai dirinya habis-habisan. Kemungkinan terburuk adalah Sang Mommy akan membawa Ziva pergi darinya. Astaga, jika itu terjadi. Bagiamana dengan nasibnya? Bagaimana dengan nasib senjatanya? Baru juga sembuh dan melakukannya sekali, haruskan dia menahan lagi?


"Kemarikan makananya, biar aku yang menyuapi Istriku. Mommy kembali saja siang nanti," Lolan merebut mangkuk dan gelas dari tangan Sang Mommy, lalu segera menutup pintu kamarnya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2