
"Ryan," panggil Adit pada Sekretariat Ryan.
"Iya, Tuan." jawabnya langsung mendekat dengan beberapa dokumen yang masih melekat di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah pulpen.
"Alihkan meeting sore ini menjadi besok, aku akan pulang sekarang," titah Adit sambil menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Baik, Tuan." jawab Sekretaris Ryan sopan.
"Kerjakan tugasmu dengan baik, pulang pada jam pulangmu. Jangan korupsi waktu," pesan Adit sebelum keluar dari ruangannya. Adit meraih jasnya, kunci mobil, dompet dan ponsel. Setelahnya langsung pergi meninggalkan Sekretaris Ryan seorang diri.
"Siapa yang korupsi waktu sekarang? Dasar pengantin baru," rutuk Sekretaris Ryan meletakkan begitu banyaknya dokumen ke atas meja Tuannya.
Tiba di pelataran parkir, Adit langsung masuk ke dalam mobilnya. Segera tancap gas menuju sekolah di mana Sang Istri berada. Kali ini, Adit tak ingin terlambat lagi menjemput Sang Istri tercinta.
Derrtt ....
Ponselnya yang bergetar pertanda ada panggilan yang masuk. Adit langsung mengangkatnya kala nama My Wife lengkap dengan lambang hati berwarna merah tertera di layar ponselnya.
"Hallo," sapa Adit lembut.
"Sayang, kamu sudah di mana? Kenapa lama sekali? Istrimu yang terlalu cantik ini sudah menunggu terlalu lama, takutnya ada orang lain yang naksir. Cepatlah sayang, sebelum aku berpaling," celoteh Xena di seberang sana. Bukannya kesal, Adit justru mengembangkan senyuman manisnya.
"Baik, Sayang. Ini sebentar lagi sampai," balas Adit masih dengan cengiran anehnya.
__ADS_1
"Cepatlah," ucapan terakhir Xena karena dia langsung memutuskan panggilan. Adit meletakkan kembali ponselnya pada tempat semula, kemudian kembali fokus pada jalanan yang tumben cukup sepi.
"Sayang," panggil Xena berlari ke arah Adit yang keluar dari mobil mewahnya.
"Banyak orang, pelankan suaramu," imbuh Adit kepada Xena yang langsung menempel pada tubuhnya.
"Tenang saja, aku sudah menceritakan kepada mereka kalau kamu itu adalah pacarku. Jadi mereka tidak akan curiga," jawab Xena yakin.
"Tetap saja, jangan terlalu sedekat ini. Kamu itu masih SMA."
"Iya deh iya, besok enggak lagi. Ayo kita berangkat ke rumah Cristi!" seru Xena langsung masuk ke dalam mobil yang pintunya telah Adit buka untuk Sang Istri tercinta.
"Ke mana katamu?" tanya Adit.
"Sayang, aku sudah pesan restoran untuk kita makan malam berdua," tolak Adit tak setuju untuk pergi ke rumah Cristi.
"Tidak bisa, Sayang. Kita harus ke rumah Cristi sekarang juga," tegas Xena, Adit menghela napas berat, kemudian langsung memutari mobil, membuka pintunya, dan langsung mendaratkan bo kongnya di kursi kemudi.
"Kamu mau apa ke sana?" tanya Adit sambil memasangkan safetybelt ke tubuh Xena.
"Cristi hamil, Sayang!" seru Xena membuat Adit kaget dan menatap Xena dengan jarak lima sentimeter. Merasa gemas, Xena langsung mendaratkan bibirnya sekilas ke bibir tipis Adit. Kaget dengan serangan tiba-tiba Sang Istri, Adit langsung menjauhkan wajahnya lalu melirik ke kiri dan kanan, memastikan bahwa tidak ada yang melihat.
"Siapa yang menghamilinya?" tanya Adit kembali menatap Xena serius.
__ADS_1
"Guru Matematika tertampan di sekolah kami, bapak Aldri," jawab Xena langsung mengubah raut wajah Adit.
"Maksudku tampan sedikit, Sayang. Kalau kamu tampan banyak. Sudah ah, ayo kita ke rumah Cristi sekarang, ada Ana juga di sana. Aku mau lihat bagaimana keadaan mereka," ketus Xena dan Adit segera tancap gas menuju rumah Cristi.
Beberapa menit di perjalanan, kedua sejoli itu pun telah tiba di depan rumah Cristi yang lumayan luas karena kedua orangtuanya memang berkecukupan.
Di arahkan oleh seorang pelayan, Adit dan Xena di antar masuk ke dalam rumah hingga tiba di kamar Cristi yang masih berada di lantai satu.
Tok, tok, tok ....
"Xena," sambut Ana yang membuka pintu kamar.
"Cristi mana?" tanya Xena mendesak.
"Ada, masuklah dulu," ajak Ana, Xena dan Adit langsung masuk ke dalam kamar.
"Cristi, ini ada Xena datang jenguk Lo," imbuh Ana pada Cristi yang masih tetap bergelung dalam selimutnya. Mendengar kedatangan Xena, Cristi langsung bangkit, dia langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Sang Sahabat.
Xena dapat merasakan tubuh Cristi yang bergetar hebat, Cristi menangis dalam pelukannya. Bahkan, Xena merasakan pundaknya yang basah akibat tetesan deras air mata Cristi yang tak henti menangis histeris.
"Lo kenapa nangis?" tanya Xena khawatir, tangannya mengusap lembut pundak Cristi, berharap dapat sedikit menenangkan sahabatnya itu.
"Gue hamil, Xena. Hiks ...."
__ADS_1
"Bagus dong."