
"Lakukan!"
Perlahan, Ziva mulai menurunkan resleting gaun yang kini dia kenakan. Beruntung resleting gaun itu ada di samping tepat di bawah lipatan bahu. Jadi, Ziva bisa dengan mudah menurunkannya sendiri tanpa bantuan orang lain.
Ziva yang malu, tidak bisa menggoda sama sekali. Saat menurunkan gaunnya ke bawah, Ziva bukannya menatap Lolan, tapi dia malah memejamkan kedua matanya. Gaun selutut berwarna pink muda itu meluncur ke bawah, kini hanya tinggal cd dan bra yang menutupi daerah inti Ziva.
Ziva terpejam malu dan Dokter Adit tetap memilih fokus pada benda milik Lolan. Sedangkan Lolan malah membulatkan matanya sempurna karena kaget dengan lekukan tubuh Ziva yang ternyata sangatlah ideal.
Tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil. Mendadak Lolan mempunyai hasrat ingin menyentuh dan memainkan dua gundukan yang dia perkirakan sangat pas di tanganya dan pastinya akan sangat nyaman saat dimainkan. Dia terus menatap benda yang sepertinya sangat kenyal itu. Matanya seolah terhipnotis tak ingin berpaling dari bagian menggoda itu.
Lolan menelan saliva bersusah payah saat melihat Ziva mulai menurunkan kedua tali yang menggantung di bahunya. Setelahnya, dia menurunkan kacamata itu tanpa melepas kaitannya yang berada di belakang.
__ADS_1
Selesai melepaskan semua kain di bagian atas, Ziva mulai menurunkan tangannya, menyentuh cd pembalut bagian intinya, kemudian mulai menurunkannya secara perlahan namum pasti. Saat itu juga, Ziva merasa matanya begitu penuh, ada banyak air yang terus memaksa ingin keluar, hingga akhirnya setetes buliran bening terjatuh ke lantai kala Ziva tak lagi dapat membendungnya.
Ziva ingin merasa jijik kepada dirinya, Ziva ingin menenggelamkan diri ke dasar laut, Bahkan Ziva ingin bunuh diri agar semua kemalangan dalam hidupnya berakhir. Namun, rasa tak pantas dia rasakan. Karena baginya, inilah harga yang harus dirinya bayar, atas kesalahannya di masa lalu. Ziva merasa dirinya pantas mendapatkan semua perlakuan hina ini. Walau telah menerimanya, tetap saja hatinya sakit serta terasa begitu perih.
"Aaarrrgghh!"
"Stop!" Ziva keget mendengar teriakan kedua pria itu, Ziva langsung memasang kembali pakaiannya secepat kilat. Lalu mundur beberapa langkah kala takut melihat benda milik Lolan yang berdiri begitu perkasa.
"Apa yang terjadi, Ziva? Lolan kenapa?" Mommy Nata menghampiri Ziva yang tubuhnya masih bergetar. Sedangkan Daddy Jackson langsung masuk ke dalam ruangan untuk melihat sendiri bagaimana kondisi putranya—yang berteriak kencang hingga terdengar sampai ke luar.
"Mommy, a-aku—" gagap Ziva seketika kembali melanjutkan tangisanya. Melihat kondisi Ziva yang tidak baik, Mommy Nata menuntun Ziva untuk duduk di sofa
__ADS_1
"Sudah, tenanglah Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa kepada Lolan, dia akan baik-baik saja. Ada Dokter Adit di dalam sana, dia pasti akan baik-baik saja," ujar Mommy Nata mencoba membujuk Ziva.
Ziva memeluk erat Mommy Nata, rasa hangat itu mampu membuatnya merasa begitu nyaman hingga enggan melepaskan diri.
"Bagaimana, Sayang? Apa Lolan baik-baik saja?" tanya Mommy Nata khawatir. Ziva langsung melepaskan diri dari pelukan Mommy Nata. Menatap kedua pasangan yang terlihat sangat mencintai Putranya. Mendadak Ziva merasa iri, dia iri dengan Suaminya yang masih mempunyai orang tua utuh, yang sangat menyayanginya. Tidak seperti dirinya yang selalu dibenci oleh orang-orang disekitarnya.
"Lolan ....
.
.
__ADS_1
.