
"Aakkhhh! Sakit tahu!" pekik Xena sambil mengusap bookongnya yang terhentak.
"Makanya jangan banyak drama, ini sudah mau pagi," kesal Adit langsung naik ke atas ranjang dan mengukung Xena tanpa berlama-lama.
"Baru juga jam 11 malam, dari mananya akan pagi," ketus Xena masih diam di tempatnya.
"Eh mau apa?" Xena menahan wajah Adit yang mulai mendekat ke wajahnya.
"Apa lagi? Ini malam pertama kita, Sayang." tekan Adit dengan napas yang memburu, dari tatapan matanya begitu terlihat ada lonjakan gairah yang begitu besar dan siap akan meledak.
"Tunggu dulu, mandi saja belum, pakai lingerie juga belum," ketus Xena akan bangkit. Namun, dengan cepat Adit menahannya.
"Kamu sudah dimandikan seharian, mau mandi yang seperti apa lagi? Gaun ini juga sudah seksi."
"Ahh geli," lenguh Xena saat Adit sengaja menekan bagian tengah dari gundukannya yang separuhnya terlihat, benda menonjol itu mampu membuat hasrat Adit kian membara hingga berkumpul di ubun-ubunnya seakan siap untuk meledak.
"Mandi dulu, ya, Sayang. Aku nggak pede kalau enggak mandi," bujuk Xena membelai rahang kekar Adit, membuat Sang pemilik memejamkan matanya menikmati sentuhan itu.
"Mandi bersama," ucap Adit tak dapat dibantah.
"Iya deh terserah. Mau mandi satu komplek juga nggak apa-apa, yang penting mandi dulu," mendengar jawaban Xena, Adit pun langsung bangkit, melepaskan jasnya, kemudian membuangnya ke sembarang arah.
"Isshh, punya kamu gede bangat, sih. Nggak bisa dikecilin dulu itu," Protes Xena kala melihat benda pusaka milik Adit yang telah berdiri tegap seakan siap untuk bertempur.
"Mana bisa dikecilin, Sayang. Makin besar makin bagus," imbuh Adit asal.
"Bagus apanya? Bagus dipandang? Heh, enggak juga, yang ada menakutkan," balas Xena bergidik ngeri, tapi enggan mengalihkan pandangan.
__ADS_1
"Makin gede makin mentok, makin mentok makin enak, makin mudah juga kalau mau lahiran," jelas Adit membuat Xena mengerutkan keningnya seakan mencerna perkataan Sang Suami yang membuatnya berpikir keras.
"Apa benar begitu?" tanya Xena penasaran.
"Tentu saja."
"Aku percaya, Ana dan Cristi juga sering mengatakan itu," Xena menganggukkan kepalanya, seraya mengingat-ingat ucapan kedua sahabatnya.
"Ya sudah, jangan terlalu banyak bicara. Bangun dan segera buka pakaianmu." Desak Adit menarik kedua lengan wanita semok yang beberapa jam lalu sah menjadi Istrinya.
"Buka pakaian?"
"Yailah, Sayang. Apa mau mandi pakai baju?" geram Adit dan Xena pun mulai melepaskan sedikit aksesoris yang tertancap di rambutnya yang disanggul.
"Bantuin dong!" cetus Xena berusaha mencari-cari jepit rambut yang menancap di rambutnya.
"Masih ada resleting yang belum di buka," kata Xena sambil merapikan rambut gelombangnya.
"Di mana lagi?" tanya Adit geram karena emosi dengan gaun Xena yang begitu sulit dibuka."
"Di mana, ya? Ah, aku lupa. Sobek aja kalau gitu," titah Xena yang mulai pusing serta sesak dengan gaun ketat itu.
"Dasar gadis bar-bar," Adit masih mencari-cari letak resleting lainnya yang ternyata berada di bawah lengan Xena. Dengan cepat Adit menurunkannya.
"Sekarang jabatanku adalah Istrimu, Nyonya muda Xena, wah, tidak disangka aku bisa jadi orang kaya," oceh Xena tak jelas, sementara Adit telah berhasil menurunkan gaun rumit yang tadinya melekat di tubuh Sang Istri.
"Akhirnya lega juga," ucap Xena ketika gaun ketat itu lepas dari tubuh bagian atasnya. Tapi, masih tersangkut di bagian bokoongnya yang berukuran luar biasa.
__ADS_1
"Astaga, bagaimana menurunkannya?" Adit menjauh dari tubuh Xena, sangat sulit melepaskan gaun itu, apalagi bokoong Xena yang manjadi penyanggah.
"Huhu ... Bagaimana ini?" Xena hampir menangis sambil berusaha menurunkan gaun itu dari bagian bawah tubuhnya.
Sementara Adit berusaha mengendalikan nafsunya yang membuncah, setelah itu dia bergegas mengambil pisau di atas nakas.
"Kamu mau apa?" tanya Xena ketakutan saat Adit mendekatinya sambil membawa pisau.
"Memotongmu!" goda Adit berjalan perlahan.
"Jangan menakutiku!" bentak Xena terduduk di pinggir ranjang.
"Tidak, Sayang. Gaun itu tidak akan bisa dilepaskan bila tidak dipotong," jelas Adit mulai mengarahkan pisau ke bagian yang dapat dijangkaunya.
"Selamat tinggal gaun pengantin harga selangit," ujar Xena bersedih.
Setelah dipotong, barulah Xena benar-benar merasa lega dan dapat kembali bernapas. Sedangkan Adit, berusaha mengatur napasnya yang memburu lantaran tak tahan melihat tubuh seksi Xena yang hanya berbalut CD dan Bra.
"Ayo kita mandi dan bermain bersama, Sayang!" Adit kembali menggendong Xena ala bridal dan membawa Xena masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaaakhhh ....
.
.
.
__ADS_1
Komen dan likenya kurang kenceng, Guys. Othornya kurang semangat 🤧