
Hari itu, adalah hari di mana pernikahan akan berlangsung di kediaman keluarga Talsen. Pagi itu Ziva, Xena, dan Bibi Aslin sudah dijemput dan diboyong menuju Mansion keluarga Talsen.
Di dalam mobil, Ziva dan Xena tampak saling diam dan kompak tidak mengatakan sepatah kata pun. Hanya Bibi Aslin yang terlihat bahagia menyambut pernikahan Zivanya, keponakannya.
Dia senang karena sebentar lagi dirinya benar-benar akan menjadi bagian dari keluarga Talsen Baldev. Keluarga paling berpengaruh di kota, dan itu artinya tidak akan ada orang yang berani menyinggung dirinya, karena derajatnya yang telah tinggi.
"Tambah kecepatannya, Pak Supir!" Bentak Bibi Aslin yang duduk di bagian depan tepat di samping kemudi. Sedangkan Ziva dan Xena duduk di kursi belakang.
"Keselamatan adalah yang paling utama, Nyonya," ujar Supir itu singkat lalu melanjutkan kembali menyetir dengan kecapatan sedang. Sedangkan Bibi Aslin sudah tak sabar ingin cepat tiba di kediaman keluarga Talsen, karena tak sabar ingin memberi tahu semua orang siapa dirinya sekarang.
"Ibu, santai saja, lagian acaranya baru akan di mulai malam nanti," saut Xena yang geram dengan kelakuan Ibunya sendiri.
"Kamu diam saja, tidak usah banyak bicara!" bentak Bibi Aslin tidak peduli. Xena hanya dapat menggelengkan kepalanya malu.
Semakin dekat sampai ke tempat tujuan, semakin Ziva tak sanggup menahan rasa gugupnya. Melihat wajah Ziva yang pucat, Xena mengambil jemari Ziva, kemudian menggenggamnya erat.
"Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Xena kala merasakan jemari Ziva yang begitu dingin. Ziva tak berucap karena merasa lidahnya kelu, dia hanya menggelengkan kepala sebagai jawaban.
"Tidak usah khawatir, Kak. Percayalah padaku, semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin impoten itu hanya rumornya saja, karena sebenarnya Putra keluarga Talsen adalah pria yang sangat tangguh. Setidaknya dia tampan bahkan sangat tampan, Dokter Adit mah kalah jauh," bukannya merasa lebih baik, Ziva malah merasa semakin ketakutan saat mendengar ucapan Xena.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, mobil mewah berwarna hitam mulai berjalan perlahan saat memasuki pagar beton kediaman keluarga Talsen. Saat masuk, mobil melawati jalanan lebar yang dipinggirnya ditumbuhi pohon-pohon rimbun yang membuat udara sangat segar. Ziva menatap satu persatu pohon rimbun sambil menarik napas lalu menghembuskannya perlahan hingga hatinya menjadi lebih tenang.
"Tenanglah Ziva, seperti yang Xena katakan semuanya akan baik-baik saja. Setelah menikah, kamu hanya perlu mejadi Istri yang baik dan bertanggung jawab seperti yang Ibumu ajarkan. Seburuk apa pun rupa, sikap dan perbuatan Suamimu, kamu harus menerimanya dengan berlapang dada. Semangatlah Ziva," ucap Ziva dalam hati menenangkan berusaha membuat hatinya tenang dan tidak lagi gugup.
"Kakak ayo keluar, kita sudah sampai," ajak Xena menyadarkan Ziva dari lamunannya.
Ziva beringsut dan segera keluar dari mobil, Xena menggandeng Ziva, keduanya mengekor dibelakang Nyonya Aslin yang telah masuk lebih dulu.
Ketiganya tercengang menatap keindahan dekorasi di luar rumah. Di luar rumah sudah seindah itu, apalagi di bagian dalamnya. Hal itu semakin membuat Bibi Aslin mempercepat langkah kakinya masuk ke dalam rumah melewati para pengawal yang berbaris rapi sambil menunduk sebagai tanda memberi hormat.
Ziva ragu untuk masuk ke dalam rumah mewah nan megah itu. Namun, dia tetap harus masuk siap maupun tidak siap.
"Silahkan duduk dulu Nyonya dan Nona muda. Sebentar, saya akan panggilan Nyonya besar," sapa seorang kepala pelayan menyambut kedatangan Bibi Aslin, Ziva dan Xena.
Ziva dan Xena berjalan menuju sofa, ketiganya semakin tercengang melihat Dekorasi bagian dalam yang berkali-kali lipat lebih indah di bandingkan dekorasi di luar ruangan. Bisa ketiganya katakan, pesta pernikahan Ziva akan menjadi pesta pernikahan termegah dan terindah sepanjang masa.
Kain renda berwarna cream polos menghias cantik di setiap atap, yang juga di kreasiakan dengan berbagai jenis lampu-lampu indah yang menghiasi langit-langit rumah.
Lantainya dilapisi alas rumput sintetis ala-ala garden party, yang ditaburi bunga-bunga mawar asli yang begitu banyak diatas rumput sintetis itu. Meja-meja yang di kelilingi Sofa indah berwarna senada, yang terlihat cantik saat kain dan pita menghiasainya dengan rapi.
__ADS_1
Meja khusus berbagai makanan tak kalah hebohnya, ada papan menu dari palet yang semakin memperindah dekorasi. Beberapa pelayan masih lalu-lalang menghiasi perabotan makan dengan berbagai rangkaian bunga cantik. Hanya satu yang kurang, yaitu foto prewedding. Sama sekali tidak ada satu pun foto prewedding di sana.
"Akhinya kalian datang juga," sambut Nyonya Nata langsung memeluk Bibi Aslin, Xena dan yang terakhir memeluk Ziva dengan penuh kasih sayang.
"Karena acara masih akan dimulai nanti malam, sekarang kalian boleh beristirahat lebih dulu di kamar masing-masing. Untuk Nyonya Aslin dan Xena, akan diantarkan oleh kepala pelayan saya. Makanan juga akan dintar ke kamar langsung oleh pelayan, kalau Nyonya Aslin membutuhkan sesuatu katakan saja kepada pelayan di Mansion ini. Mulai saat ini, rumah ini adalah rumah rumah kalian juga. Jadi, jangan sungkan," ujar Nyonya Nata ramah.
"Terima kasih, Nyonya Nata. Kami tidak akan sungkan-sungkan kalau begitu," jawab Bibi Aslin tak kalah ramahnya.
"Baguslah kalau begitu, selamat bersenang-senang Nyonya Aslin dan Xena. Zivanya saya pinjam dulu," lanjut Nyonya Nata.
"Terima kasih ,Nyonya Nata."
"Sama-sama," jawab Nyonya Nata tak sabaran membawa Ziva ke kamar putranya.
.
.
.
__ADS_1
SPILL
Aku (tidak) akan mencintai, (tidak) akan melindungi, dan aku akan setia kepadanya (menyiksanya dan membuatnya menderita) sampai MATI."