Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 40


__ADS_3

"Ziva, kamu datang," panggil Dokter Adit yang berdiri di samping ranjang. Sedangkan Xena berdiri di ambang pintu kamar.


Xena terdiam, lalu meraba dadanya yang begitu terasa sesak saat pria mabuk yang dicintai, malah memanggilnya dengan nama perempuan lain.


"Ziva kamu, Akhh!" Dokter Adit yang kini di bawah pengaruh alkohol, tak sanggup menahan beban tubuhnya hingga tersungkur ke lantai dingin. Reflek Xena berlari dan segera membantu Dokter Adit untuk kembali berdiri.


"Ah, berat sekali," keluh Xena lalu membaringkan Dokter Adit ke atas kasur.


"Terima kasih, Ziva," jawab Dokter Adit yang kembali memanggilnya dengan nama Kakaknya.


"Aku Xena, bukan Kak Ziva!" Xena meninggikan nada suaranya.


"Aku mencintaimu, Ziva," gumam Dokter Adit pelan namum jelas terdengar di telinga Xena.


"Aku tau itu, tapi bisakah jangan katakan di depanku. Aku ini pacarmu!" Kembali Xena berucap ketus.


"Ya Tuhan, kenapa harus dia yang aku cintai?" kembali Dokter Adit bergumam membuta Xena merasa hatinya semakin sakit hingga tidak lagi sanggup menahan bendungan air mata.

__ADS_1


"Harusnya aku yang mengatakan itu, hiks ... Aku bahkan masih mencintaimu saat kamu mengatakan mencintai wanita lain," tutur Xena pilu dengan rentetan air mata mengalir deras.


Xena menyeka kasar air matanya, dia merasa tidak ada gunanya menangis. Menangis hanya akan membuat matanya bengkak dan kepalanya menjadi pusing. Untuk itulah Xena segera mengakhiri rasa sedihnya, dia merasa bahwa dirinya bukanlah seorang gadis yang lemah.


Xena berjalan cepat menuju ujung ranjang, meraih kaki Dokter Adit lalu melepaskan sepatu dan kaus kakinya. Xena akan pergi, namun langkahnya terhenti saat mendengar permintaan Dokter Adit.


"Haus, Ziva aku mau minum," pintanya dengan suara yang lembut. Xena menggertak gigi, mengepalkan tangan. Namun, pada akhirnya dia tetap berbalik ke belakang. Xena mengambil segelas air putih di atas nakas, kemudian membantu Dokter Adit minum.


BRAAK!


Xena meletakkan gelas itu dengan kasar hingga menimbulkan sang suara. Beruntung gelas itu tidak pecah di tangannya.


Melihat keadaan Dokter Adit yang hancur. Xena merasa tidak ingin berada di posisi yang sama seperti Dokter Adit, untuk itulah dia lebih memilih menyerah dan menjauh.


Sama halnya seperti Dokter Adit yang mencintai Ziva, tapi Ziva tidak mencintainya, dan mereka tidak dapat bersatu. Malam ini, Xena merasa hal yang sama juga akan terjadi kepadanya. Di mana dia mencintai Dokter Adit, tapi Dokter Adit tidak mencintainya sama sekali, dan pada akhirnya, Xena tidak akan bisa bersatu dengan Dokter Adit karena Dokter Adit tetap akan menikah dengan wanita pilihan orang taunya.


"Mulai sekarang aku tidak akan mencintaimu lagi!" ketus Xena berbalik badan siap melangkah pergi.

__ADS_1


"Aaaakhh!" pekik Xena saat Dokter Adit menarik kasar salah satu tangannya, hingga Xena jatuh terjerambab ke dalam pelukan hangat Dokter Adit.


"Ziva jangan pergi, aku mohon jangan pergi. Aku mencintaimu dan aku sangat mencintaimu, aku mohon jangan pergi," pinta Dokter Adit memohon seraya memeluk Xena dengan begitu eratnya.


"Dasar bajingan! Lepaskan aku, aku bukan Kak Ziva!" teriak Xena berontak. Namun, semakin Xena berontak, semakin erat pula Dokter Adit memeluknya.


"Aku tidak akan melepaskanmu, Ziva. Malam ini, mau tidak mau dan siap tidak siap kamu harus menjadi milikku!" bentak Dokter Adit langsung membalikkan badan dan mengukung tubuh seksi Xena.


"Dokter lepaskan aku! Aku benar-benar akan bunuh diri kalau Dokter berani menyentuhku!" ancam Xena namun tak Dokter Adit gubris sama sekali.


"Malam ini kamu harus menjadi milikku!"


"Hemp ....


.


.

__ADS_1


.



__ADS_2