Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 24


__ADS_3

Setibanya kembali di Club, Ziva langsung masuk dengan mengendap-endap. Suasana Club masih ramai dipenuhi pengunjung yang semakin banyak, membuat Ziva kesulitan menemukan Xena.


Namun, setidaknya pria yang tadi ingin membunuhnya sudah tidak lagi ada di Club, hingga Ziva pun bisa mencari Xena dengan lebih leluasa.


Tiga puluh menit berlalu, tapi Ziva tak juga menemukan keberadaan Xena. Karena sudah terlalu larut malam, Ziva pun memilih kembali pulang ke rumahnya dalam keadaan yang di penuhi rasa kekhawatiran karena tak berhasil membawa Xena pulang. Bibi Aslin, pasti akan sangat marah kepada dirinya.


Tiba di rumah, Ziva kaget sekaligus lega saat melihat Xena sudah ada di rumah dalam keadaan yang baik. Saat membuka pintu rumah, Xena sedang makan dengan lahapnya di sofa ruang tamu.


"Kak Ziva ke mana aja?" tanya Xena sambil melahap makanannya.


"Harusnya Kakak yang bertanya sama kamu. Kamu dari mana?" Saut Ziva merasa kesal karena dirinya begitu merasa lelah, sedangkan Xena sudah di rumah dengan santainya.


"Tanpa aku jawab, Kak Ziva pasti juga sudah tau. Tapi, awas saja kalau sampai Kakak ngadu ke Ibu," ancam Xena.


"Kakak berjanji tidak akan mengatakan apa pun ke Ibumu. Asalkan, kamu tidak akan pergi ke tempat itu lagi. Kamu masih remaja Xena, tempat itu tidak baik dan sangat berbahaya untukmu," ucap Ziva mengingatkan Xena agar tidak lagi tersesat.


"Kakak tenang saja, aku tidak akan ke sana lagi. Asalkan—"


"Apa?" tanya Ziva penasaran.

__ADS_1


"Asalkan Kakak mau bertukar posisi denganku," jawab Xena tersenyum penuh arti.


"Maksud kamu? Kakak jadi kamu dan kamu jadi Kakak?" tanya Ziva bingung.


"Aku jadi Kakak, tapi Kakak tidak perlu jadi aku. Artinya, aku ingin menggantikan posisi Kakak," jawab Xena masih dengan senyuman smiriknya.


"Apa? Ja-jangan bilang ka-mu mau menikah dengan Putranya Nyonya Nata?" Ziva menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan saking kagetnya.


"Ih, amit-amit aku nikah sama laki-laki Impoten!" ketus Xena sambil bergidik geli. Ziva pun kembali berpikir posisi apa dari dirinya yang ingin Xena gantikan.


"Kemarin, Kakak bilang kalau Kakak bekerja di sebuah rumah sakit sebagai Asisten Dokter. Nah, aku ingin menggantikan posisi Kakak. Bagaimana?" seru Xena penuh harap.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Xena rela menggantikan posisi sang Kakak sebagai Asisten Dokter Adit. Dengan menjadi Asisten Dokter Adit, Xena akan punya lebih banyak waktu dan kesempatan untuk menggoda Dokter yang kini menetap dalam hati dan juga pikirannya.


"Kamu ingin menjadi Asisten Dokter Adit?" tanya Ziva memastikan. Ziva berpikir, bila Xena menggantikannya sebagai Asisten Dokter Adit. Dirinya akan aman, setidaknya dia tidak akan takut bila saja sahabat Dokter Adit tiba secara mendadak ke rumah sakit.


"Kakak setuju. Tapi, sekolahmu bagaiamana?" tanya Ziva lagi.


"Kakak tidak usah khawatir. Aku akan mengajukan sebagai siswa yang bekerja paruh waktu. Dengan begitu, aku akan diberikan izin untuk pulang lebih awal dan bekerja sebagai Asisten Dokter Adit menggantikan Kakak," jelas Xena.

__ADS_1


"Baiklah. Tapi, kamu harus tepati janjimu untuk tidak pergi lagi ke tempat seperti tadi," ancam Ziva.


"Kakak tenang saja," jawab Xena lalu berdiri dan menyelesaikan makan malamnya.


Melihat Xena yang telah masuk ke dalam kamarnya, Ziva pun juga kembali ke kamarnya untuk segera beristirahat. Ziva sempat berpikir apa alasan Xena ingin menggantikan posisi? Namum, Ziva tidak ingin ambil pusing dan segera tidur karena merasa sangat lelah.


***


Keesokan paginya....


"Pokoknya Mommy tidak mau tau, kamu harus menjemput Ziva sekarang juga!" Bentak Mommy Nata tak dapat dibantah.


"Baiklah-baiklah, aku akan menjemputnya dan membawanya ke butik," kesal Lolan karena terus di paksa Sang Mommy untuk menjemput dan membawa calon Istrinya pergi ke butik guna mencoba Guan pengantin yang telah lama Nyonya Nata pesan.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2