Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 51


__ADS_3

"Membuka seluruh pakaian," saat mengatakan kalimat rendahan itu, Dokter Adit sama sekali tidak ingin menatap Ziva. Dirinya takut Ziva salah paham, takut Ziva mengira bahwa dia sengaja. Padahal, dia juga tidak ingin membuat Ziva melakukan hal rendah itu. Namun, itulah tahapan terapi yang harus dilakukan.


"Di si-sini?" tanya Ziva gugup dengan perasaan yang begitu hina. Sekarang Ziva mengerti seberapa rendah harga dirinya di mata kedua lelaki di hadapannya. Ziva berpikir, apakah Dokter Adit sengaja melakukan semua itu?


Menilik kejadian lima tahun kebelakang, Ziva ingat bahwa dia memang sudah tak lagi punya harga diri saat. Dan sekarang, semuanya akan terulang. Di mana dia ditempatkan dalam derajat yang benar-benar paling bawah. Hina dan kotor. Sedikit rasa kecewa Ziva sisihkan untuk Dokter Adit.


"Kenapa? Tidak mau? Keberatan bila aku melihatmu tidak berpakaian? Sadar dirilah, tubuh rata begitu, tidak mungkin aku akan tergoda," ketus Lolan membuat Ziva langsung menundukkan wajahnya dalam. Tidak disangka, tidak disangka perkataan ketus Lolan mampu mengalirkan air mata hangat dari kedua pelupuk mata indahnya.


"Lolan, hargai Istrimu! Perannya sangat penting dalan terapi ini, berhenti melukai hatinya," bentak Dokter Adit murka kala tak terima wanita yang dicintai dicaci maki oleh Lolan, Sahabatnya.


"Saya siap! Akan saya lakukan sekarang!" tegas Ziva siap akan melepaskan gaun yang dia kenakan.


"Baguslah," sahut Lolan tak peduli.

__ADS_1


"Nona tidak perlu khawatir, hanya Lolan saja yang akan melihat, saya tidak akan melihat. Hal itu dilakukan untuk mencoba memberikan r*ngsangan, saya harap Nona tidak salah paham karena terapi ini memang harus dilakukan dengan tahapan seperti ini," jelas Dokter Adit berharap Ziva tidak salah paham kepadanya.


"Saya mengerti, Dokter. Tidak perlu pedulikan saya, lakukan saja apa yang harus Dokter lakukan sebagai Dokter dan saya akan melakukan apa pun tugas saya sebagai seorang Istri," jawab Ziva membuat Dokter Adit merasa tidak enak hati. Karena dia paham akan perasaan Ziva saat ini.


"Baiklah, silahkan Nona berdiri di depan saja," Dokter Adit meminta Ziva untuk berdiri di depan ranjang, tepat di hadapan Lolan yang tengah terbaring santai.


Pasrah, Ziva berjalan ke depan sana. Berdiri dengan perasaan yang tidak dapat dijelaskan. Semua campur aduk dia rasakan.


"Nona, lakukan perlahan. Mulai dari atas saja, keluarkan juga ekspresi biasa saat seorang Istri menggoda Suaminya. Tidak perlu tegang, rileks saja," tutur Dokter Adit menjelaskan dengan profesional. Ziva pun hanya menganggukkan kepala tanda mengerti.


"Tenang saja aku mengerti. Lagian, mana mungkin yang datar begitu dapat menggodaku, benar-benar sia-sia," jawab Lolan asal.


"Jangan meremehkan Istrimu, jangan menyesal bila ada pria lain yang mencintainya," ujar Dokter Adit membuat dada Ziva tiba-tiba berdesir.

__ADS_1


"Siapa yang mau dengannya? Kalau mau ambil saja, tapi tidak sekarang karena dia masih punya hutang tanggung jawab kepadaku," sahut Lolan menatap tajam Ziva.


"Sudah-sudah, mari kita mulai terapinya. Lolan, kau harus fokus pada Ziva," ucap Dokter Adit mengingatkan.


"Saat saya mengatakan lakukan, Nona Ziva harus langsung melakukan tugas. Ketika saya mengatakan stop, Nona harus memasang kembali pakaian," tutur Dokter Adit tanpa melihat ke arah Ziva, dia tetap fokus pada alat yang dia letakkan di senjata milik Lolan.


"Baik," jawab Ziva.


Beberapa menit kemudian.


"Lakukan!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2