
"Ahh, hemp ...." Ziva begitu kaget saat Lolan tiba-tiba menyerangnya. Ziva yang awalnya berontak, seketika terdiam dan lebih memilih mengikuti permainan yang Lolan lakukan—kala mengingat siapa dirinya bagi Lolan.
Istri sah, itulah statusnya. Ziva merasa senang sekaligus ikhlas ketika ciuman pertamanya berhasil dia berikan kepada Suaminya. Meskipun belum sepenuhnya tumbuh benih-benih cinta di hatinya. Tapi, Ziva akan mencoba menerima statusnya dan merajut kasih sayang bersama dengan Lolan.
Ciuman yang semula lembut, kini menjadi memanas saat Lolan berhasil memasuki mulut mungil Ziva, mengabsen setiap barisan gigi rapi Ziva, dan bermain dengan lidah manis Ziva. Ziva yang tak pernah melakukan hal intim itu, hanya diam, menerima setiap perlakuan manis Lolan kepadanya.
Saat merasa Ziva hampir kehabisan napas, berulah Lolan melepaskannya. Ziva langsung berburu oksigen saat itu juga. "Berci*man bukan berarti menahan napas, lain kali bernapas saja," ujar Lolan santai, sedangkan Ziva langsung menundukkan wajahnya yang sudah semerah tomat.
"Ziva, dia berdiri," imbuh Lolan. Mendengar pernyataan Lolan, Ziva langsung mengangkat kembali wajahnya, menatap Lolan yang napasnya mulai tersengal.
"Benarkah?" tanya Ziva antusias, Ziva kaget saat Lolan mengatakan kalau miliknya berdiri. Astaga, bagaimana ini? Dokter Adit tidak ada, pikir Ziva panik.
"Coba rasakan," Lolan menuntun salah satu tangan Ziva, meletakan jemari mungil itu di pangkal pahanya.
Penasaran, Ziva mengikuti apa yang Lolan lakukan pada jemarinya. Ketika tangannya merasa sesuatu yang keras di balik kain itu, saat itu pula Ziva langsung menarik kembali tangannya.
"Bagaiamana?" tanya Lolan dengan wajah merahnya, seketika Ziva panik saat Lolan menunjukkan ekspresi seperti sedang menahan sakit.
"Apa sakit? Aku akan memanggil Dokter Adit," ujar Ziva akan segera turun dari ranjang berniat untuk menelpon Dokter Adit.
__ADS_1
"Zava, ini tidak sakit sama sekali. Hanya—"
"Hanya apa?"
"Hanya saja, aku merasa di bawah sana sangat sesak dan aku menginginkanmu," ucap Lolan membuat Ziva tercengang. Astaga, yang benar saja? Dia memang rela bahkan ikhlas memberikan dirinya kepada Lolan. Hanya saja, Ziva ragu kalau hal itu akan terjadi secepat ini. Apalagi saat mengingat betapa panjang dan besarnya milik Lolan, sungguh Ziva membutuhkan waktu untuk menyiapkan diri.
"A-aku a—"
"Kamu takut?" potong Lolan dan Ziva mengangguk cepat lalu menundukkan wajahnya, tak ingin melihat ekspresi kecewa Sang Suami.
"Maaf," gumam Ziva pelan.
Khawatir dengan keadaan Lolan yang semakin serius, Ziva langsung meraih ponselnya, mengetikan nama Dokter Adit dan langsung menghubunginya.
"Hahh ... Hallo, ada apahh, ah?" tanya Dokter Adit di seberang sana dengan suara yang mendayu-dayu. Ziva tidak fokus pada sautan aneh Dokter Adit, dia hanya fokus pada kondisi Lolan.
"Dokter ... Miliknya Lolan sudah berdiri dan dia tidak kesakitan. Sekarang, saya harus bagaimana, Dokter?" tanya Ziva semula ragu. Namum, dia harus mengatakan segalanya tentang keadaan Lolan kepada Dokter Adit.
"Be-narkah be-gitu?" sahut Dokter Adit antusias namun dengan nada suara yang aneh.
__ADS_1
"Benar, Dokter. Sekarang harus bagaimana? Saya takut terjadi sesuatu. Bisakah Dokter datang ke sini untuk melihat kondisi Lolan," kata Ziva takut.
"Berhenti!" bentak Dokter Adit membuat Ziva kaget.
"Jangan gunakan mulutmu, pakai tangan saja!" lanjut Dokter Adit lagi, setelah itu panggilan langsung terputus.
"Dokter Adit bilang apa?" tanya Lolan masih dengan hembusan napas yang berat.
"Jangan gunakan mulut, tapi pakai tangan saja," jawab Ziva reflek mengulang kalimat terakhir yang Dokter Adit katakan.
"Apa kamu keberatan?" tanya Lolan dengan ekspresi wajah yang tampak begitu tak nyaman, membuat Ziva iba dan tak tega.
"A-akan aku la-lakukan ....
.
.
.
__ADS_1