Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 75


__ADS_3

Setelah kondisi Ziva dan Xena membaik, Keduanya pun langsung di bawa ke ruang rawat inap yang sama.


Lolan, Mommy Nata, Daddy Jackson, dan Bibi Aslin bersama-sama mengiringi kedua gadis itu hingga tiba di kamar Super VIP.


"Xena Sayang bangunlah, Nak," panggil Bibi Aslin sambil mengelus lembut kepala Xena.


"Putri Ibu akan sadar beberapa jam lagi, saat ini dia masih dalam pengaruh bius," jelas Dokter Adit sambil memeriksa alat-alat medis yang menempel di tubuh Xena.


"Kenapa lama sekali, Dokter? Putri saya akan baik-baik saja, bukan?" tanyanya lagi dan lagi terlihat begitu khawatir.


"Tentu saja Xena akan sadar, Nyonya Aslin. Lebih baik kita tunggu dengan sabar, ya," Mommy Nata mendekat, berusaha menenangkan Bibi Aslin yang sedari tadi memang tak pernah diam dah terus mengkhawatirkan Xena. Andai selama ini Ibunya begitu, Xena tak akan mungkin menjadi gadis yang kekurangan kasih sayang.


"Terima kasih, Nyonya Nata."


Tepat pada malam harinya, barualah Ziva dan Xena bangun bersamaan. Di ruangan itu, hanya ada Lolan, Bibi Aslin dan Dokter Adit pastinya yang selalu setia memantau keadaan Xena dan juga Ziva. Sedangkan Daddy Jackson dan Mommy Nata sudah pamit pulang karena ada urusan mendadak.


"Xena Sayang, akhirnya kamu bangun juga. Apa yang kamu rasakan, Sayang? Apa sakit? Apa ingin minum atau makan?" tawar Bibi Aslin begitu lega kala Putrinya Xena akhirnya sadarkan diri. Hanya Bibi Aslin yang panik, berbeda dengan Lolan yang langsung mencium setiap sudut wajah Ziva saking bahagianya atas Kesembuhan Sang Istri tercinta.

__ADS_1


"Xena belum diperboleh makan juga minum, Ibu," imbuh Dokter Adit melarang.


"Loh, kenapa Dokter? Putri saya baru saja bangun, dia tidak makan bahkan tidak minum seharian mana mungkin saya—"


"Ibu, aku baik-baik saja. Selesai operasi memang belum diperbolehkan makan juga minum sebelum buang angin. Itu memang aturannya," potong Xena dengan suara yang pelan, kala menikmati rasa sakit yang baru saja dia rasakan ketika dosis biusnya habis.


"Benarkah?" tanya Bibi Aslin menatap Dokter Adit.


"Benar, Ibu," jawab Dokter Adit sabar.


"Kamu baik-baik saja? Apa masih bisa menahan nyerinya?" tanya Dokter Adit menatap Xena penuh cinta. Melihat hal itu, tentu Bibi Aslin merasa curiga, kala melihat tatapan tak biasa keduanya.


"Demi menikah dengan Dokter, sakit begini tidak ada artinya bagiku," jawab Xena menahan nyeri. Dokter Adit dapat milihat itu dari raut wajah Xena.


"Menerjangku sampai tersungkur di lantai, gadisku benar-benar kuat," sahut Dokter Adit membuat Xena tersenyum bangga.


"Tunggu ... Kamu bilang apa, Sayang?" tanya Bibi Aslin yang ternyata tidak mendengar jelas ucapan pelan Putrinya.

__ADS_1


"Setelah sembuh nanti, aku ingin menikah, Bu."


"Apa? Menikah!" Pekik Bibi Aslin kaget.


Tak hanya Bibi Aslin yang kaget dengan pernyataan Xena. Tapi, Ziva dan Lolan juga tak kalah kagetnya. Kedua sejoli yang tadinya masih sibuk romantis-romantisan, seketika menoleh ke samping karena kaget mendengar ucapan Xena. Sedangkan Dokter Adit hanya dapat menahan malu, karena ucapan Xena barusan juga bukan atas kehendaknya. Dia pun juga sama terkejutnya dengan apa yang Xena katakan.


Sesungguhnya Dokter Adit sudah punya rencana sendiri untuk mengajak Xena menikah. Rencana Mommy dan Daddynya yang akan datang dan meminta izin langsung kepada Ibunya Xena dengan segala kehormatan dan keromantisan. Namun, segala rencana itu harus tercemar kala Xena dengan mudahnya mengatakan rencana rahasia itu.


"Iya, Ibu. Dokter Adit sudah dua kali memperkos*ku. Jadi, dia harus menikahiku."


"What! ....


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2