Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 107


__ADS_3

"Sayang, kenapa kamar kita panas sekali?" tanya Lolan sambil melepas jasnya dan membuangnya ke atas ranjang. Lolan juga membuka satu persatu kancing kemejanya dengan cepat kala rasa panas itu seakan membakar tubuhnya terus menerus.


"AC-nya nyala, kok. Kamu perlu mandi mungkin," jawab Ziva yang langsung duduk di pinggir ranjang. Ziva mengangkat kakinya yang masih diperban, memeriksanya sebentar kemudian menurunkannya lagi. Karena merasa sangat lelah, Ziva pun langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Ziva memejamkan matanya, menikmati betapa nyamannya berbaring di atas ranjang empuk yang kini juga menjadi ranjang miliknya.


Tanpa Ziva sadari, roknya tersingkap ke atas, menampilkan pesona indah betis dan paha mulusnya, membuat seseorang yang terus mengipas diri semakin merasa kepanasan.


Lolan belum menyadari ada hal aneh yang terjadi pada tubuhnya. Karena memang setiap melihat Ziva jiwa kelelakiannya selalu bangkit, jadi dia hanya mengira bahwa dirinya hanya mengalami hal yang sama.


Lolan ingat semalam dia sudah melakukannya bersama Ziva. Entah kenapa Ziva selalu membuatnya gila, dia merasa tidak pernah puas menyentuh dan merasakan tubuh Ziva. Ziva bagikan candu baginya, membuatnya menginginkan Ziva lagi dan lagi. Tidak peduli bagaimana situasinya dan bagiamana kondisi Ziva.


Tidak ingin menyiksa Ziva dengan nafsu yang diluar kendalinya serta diluar batas, membuat Lolan akhirnya memutuskan untuk mandi, berharap api-api hasrat yang membara itu akan padam dengan sendirinya.

__ADS_1


Lolan masuk ke dalam kamar mandi, melepaskan semua kain yang membaluti tubuh atletisnya. Setelahnya, Lolan menghidupkan shower, tubuhnya di guyur lebatnya air yang mengucur deras. Cukup lama Lolan mendinginkan tubuhnya, bukannya merasa lebih baik. Tapi, api yang membakar tubuhnya semakin membesar, membuat hasratnya kian membara. Apalagi tubuh polos nan mungil Ziva selalu membayang-bayanginya, tidak pernah berhenti memutari kepalanya.


Yang di bawah sana semakin membesar dan mengencang sempurna hingga tampak otot-ototnya yang perkasa, memaksanya untuk mendapatkan pelepasan. Jika tidak, makan ancaman meledak menanti.


Beberapa detik kemudian, Lolan menyadari sesuatu, sesuatu yang membuatnya mejadi gila seperti ini. Rumuan, Lolan ingat sebelum dia telah meminum ramuan penyubur sper ma yang Mommy-nya berikan. Sekarang Lolan mengerti, kedua orangtuanya itu sudah berencana untuk mengerjainya.


Sungguh Lolan tidak masalah akan hal itu, justru dirinya malah senang. Tapi, bagaiamana dengan Ziva? Bukan dirinya yang akan menadi korban. Tapi, Zivalah yang akan menjadi korban akibat ulah kedua orangtuanya.


Tubuh Lolan mulai tidak dapat dikendalikan. Bukan lagi otaknya yang memberikan perintah pada tubuhnya. Tapi, hasrat, gairah dan nafsulah yang menguasai tubuhnya saat ini.


Tanpa bisa Lolan tahan, dia mulia ke luar dari kamar mandi. Bahkan, hasrat, gairah dan nafsu tidak mengizinkannya untuk mengambil handuk. Hingga Lolan keluar dari kamar mandi dengan tubuh telan jang serta basah kuyup. Beruntung dia belum menaburkan sabun ke tubuh kekarnya. Bisa dibayangkan betapa anehnya bila dirinya keluar dan menyerang Sang Istri dengan tubuh dipenuhi busa.

__ADS_1


Lolan kaget karena saat ini dia sudah berada di samping ranjang. Tepat di atas ranjang, Ziva memejamkan matanya dengan senyuman manis tersungging di bibir sensualnya.


"Ziva, aku menginginkanmu!" Lolan bahkan merasa tidak dapat mengendalikan mulutnya. Entah sebesar apa dosis yang Mommy-nya berikan hingga membuatnya seperti akan menggila.


Mendengar suara baritone Lolan, Ziva pun membuka matanya. "Aaaakkkh!"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2