
Beberapa menit kemudian, Xena berlari keluar dari ruang ganti. Tapi, masih dengan gaun yang lama, Xena tidak memakai gaun pengantinnya.
"Sayang, ada apa? Kenapa belum pakai gaunnya?" tanya Mommy Adna heran. Xena menangis dan langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Mommy Adna, hal itu tentu membuat Mommy Adna dan Adit heran.
"Gaunnya jelek, ya?" Adit tersenyum kecil seakan membenarkan ucapannya tadi.
"Nggak, kok. Gaunnya bagus, ta-tapi—" Xena menangis semakin kencang.
"Katakan, Sayang? Kamu tidak suka gaunnya?" Mommy Adna menyeka perlahan air mata Xena.
"Gaunnya bagus dan sangat cantik, Mommy. Ta-tapi—" Xena memeluk erat Mommy Adna.
"Tapi apa, Sayang?" Mommy Adna bertanya penasaran.
"Tubuh Nona Xena sangat subur, Mom. Jadi cepat sekali membesarnya, bagian ini dan ini kekecilan dan tidak masuk ke tubuh Nona Xena," jelas Briell sambil menunjuk dua bagian sensitif tubuhnya.
"Benarkah? Tapi masih sempat diperbaiki, kan?" tanya Mommy Adna khawatir.
"Tentu bisa, Mom. Hari ini juga saya akan memperbaikinya," jawab Briell. Sementara Xena masih terisak karena merasa malu akan ukuran tubuhhnya yang besar. Bagi Xena tubuhnya adalah asset, karena orang-orang memang banyak yang iri dengan ukuran tubuhnya, tapi sekarang sudah tidak lagi dan Xena sedih akan hal itu.
"Syukurlah kalau begitu," Mommy Adna bernapas lega.
__ADS_1
"Nona Xena, kemarilah, saya akan mengukur tubuh Nona sekali lagi," imbuh Briell, tapi Xena masih terisak.
"Sayang, tidak apa-apa. Masih bisa diperbaiki, sekarang kita ukur lagi, yuk," ajak Mommy Adna berusaha membujuk Xena.
"Mommy, a-aku malu," sahut Xena semakin membenamkman wajahnya dalam pelukan Mommy Adna.
"Malu kenapa sayang?" Mommy Adna mengelus punggung Xena agar menantunya itu tenang.
"Aku gemuk, Mommy, aku malu," Xena malu dengan keadaan tubuhnya kini, porsi makannya bertambah setelah melakukan operasi. Mommy Adna melirik Putranya, Adit. Adit pun menghela napas berat.
"Sayang," panggil Adit lembut.
"Jangan melihatku, aku tidak seksi lagi. Makanku banyak dan sekarang aku sangat gemuk,"
"Sayang, kemarilah dulu, aku ingin bicara padamu," pinta Adit. Karena suara Adit yang begitu lembut, Xena pun melepaskan diri dari pelukan Mommy Adna dan sekarang berpindah memeluk Adit erat. Membuat pria itu sulit bernapas, bukan karena pelukan Xena yang yang membuatnya sulit bernapas, tapi merasakan tubuh Xena-lah yang menjadi penyebabnya.
Mommy Adna memberi kode kepada Briell dan karyawannya. Setelahnya, mereka pun keluar dari ruangan itu, meninggalkan dua manusia yang saling memeluk itu.
Adit berjalan perlahan sambil tetap memeluk Xena hingga tiba di sofa dan duduk di sana. "Sayang," panggil Adit melepaskan Xena dari pelukannya. Xena pun pasrah.
"Sekarang, coba kamu rasakan perutmu," titah Adit dan Xena pun meraba perutnya.
__ADS_1
"Apa buncit?" Xena menggeleng karena merasakan perutnya yang datar.
"Sekarang coba sentuh pipimu," titah Adit dan Xena menyentuh pipinya lagi.
"Apa tembem?" Xena menggeleng lagi karena pipinya tirus.
"Lihat tangan dan betismu, apa keduanya besar?" Xena menggeleng lagi, karena dari dulu ukuran lengan dan betisnya masih sama.
"Kamu mengeleng dan itu artinya kamu tidak gemuk sama sekali. Yang ukurannya bertambah sedikit besar hanya dua gundukanmu dan bo kongmu, itu wajar karena kamu masih dalam masa pertumbuhan." Xena berhenti terisak, dia menatap Adit serius sambil mengerjabkan matanya beberapa kali.
"Jadi, aku tidak gemuk?" tanyanya sambil menyeka air mata.
"Hem, kamu itu seksi, sangat seksi. Dua bagian yang besar itu, aku menyukai ukurannya," jelas Adit yang memang tergila-gila oleh tubuh Xena yang bak gitar spanyol meski masih berusia delapan belas tahun.
"Kamu suka?" tanya Xena antusias.
"Tentu saja," jawab Adit cepat dan Xena langsung mengecup bibir Adit sekilas.
"Terima kasih," ucap Xena langsung memeluk Adit erat.
"Kalau begitu, sekarang kita akan ukur tubuhmu," ajak Adit.
__ADS_1
"Kamu yang ukur."