
Seminggu kemudian.
Di kediaman keluarga Talsen Baldev.
"Ada apa, Sayang? Katakan kepadaku apa yang kamu ingin lakukan, selagi itu tidak berbahaya untukmu dan calon bayi kita, aku pasti akan mengabulkannya," bujuk Lolan pada bumil yang sedari pagi terus cemberut.
"Sudahlah, kamu pasti tidak akan mengizinkanku untuk melakukan hal yang saat ini sangat ingin aku lakukan," ujar Ziva kembali berbaring dengan malasnya.
"Katakan dulu, Sayang. Katakan kepadaku apa yang ingin kamu lakuakan?"
"Janji dulu bahwa kamu akan mengizinkannya," balas Ziva tak peduli.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah, aku akan izinkan. Sekarang, katakan kepadaku apa itu?" tanya Lolan yang benar-benar sudah lelah dibuat penasaran beberapa hari ini. Entah apa yang ingin Ziva lakukan, tapi yang pasti, Lolan akan mengusahakannya apa pun itu.
"Janji?" Ziva mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji." Lolan menyilangkan jarinya di jari Sang Istri.
"Itu, aku ingin melakukan olahraga menembak," Lolan terdiam kaget mendengar permintaan Sang Istri. Melihat ekspresi wajah Suaminya yang tak menyenangkan, Ziva langsung bangkit dan kembali membuka suara guna meyakinkan.
"Kau tahu, Sayang. Ssebenarnya aku juga tidak ingin melakukan hal mustahil seperti menembak yang saat ini sangat ingin aku lakukan. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menahannya, aku sungguh-sungguh sangat ingin mencobanya, aku mohon izinkan aku menembak. Aku bisa gila bila tidak melakukannya," mohon Ziva sambil menatap Lolan dengan mata berbinar.
Lolan tidak akan menyetujui keinginan Istrinya, karena menembak adalah olahraga yang bukan hanya berat, tapi juga sangat berbahaya. Dengan kehamilan Istrinya saat ini dan juga masih dalam masa terapi, tentu Lolan tidak akan mengizinkannya.
__ADS_1
Lebih baik dirinya didiami berhari-hari daripada harus melihat Istrinya terluka. Untuk itu, Lolan harus bisa membujuk dan memberikan pengertian kepada Sang Istri secara halus dan penuh kesabaran agar tak merusak moodnya.
"Sayang, apa kamu tahu berapa berat rata-rata sebuah pistol yang terlihat kecil itu? Apa kamu tahu seberapa kuat getarannya saat membuncahkan peluru? Apa kamu tahu senyaring suaranya yang pasti akan mengagetkanmu? Apa kamu tahu seberapa bahayanya sebuah pistol? Dengarkan aku baik-baik, Sayang. Tidak semua orang bisa menggunakan dan melakukannya. Hanya orang-orang terlatih dan ahli saja yang dapat melakukannya, diperlukan pelatihan khusus dan berat untuk bisa membidik dengan tepat. Maaf, Sayang. Untuk hal berbahaya seperti ini, aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya, karena ini sangat berbahaya dan dapat melukaimu dan juga calon bayi kita," jelas Lolan panjang kali lebar, sedangkan Ziva langsung kembali cemberut seperti semula.
"Ana saja bisa menggunakannya tanpa berlatih sama sekali, padahal usianya jauh di bawahku. Aku yakin, aku yakin aku juga bisa melakukannya," keukeuh Ziva tetap pada keinginannya yang ingin menembak.
Lolan menghela napas berat. Bagaimana mungkin Istrinya bisa mengidam hal berbahaya seperti itu? Sungguh sulit dipercaya, akan jadi apa Putranya nanti? Masih di dalam kandungan saja sudah begitu membuatnya khawatir.
"Sayang, aku mohon mengertilah. Aku mengkhawatirkanmu dan calon bayi kita, aku tidak ingin kalian berdua terluka."
"Belum tentu aku akan terluka."
__ADS_1
"Tidak bisa, Sayang. Maaf, aku tidak bisa mengizinkanmu melakukanmu untuk hal satu ini."
"Ya sudah pergi saja kamu! Tidur di luar sana! Tiba-tiba saja aku merasa sesak napas."