Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 115


__ADS_3

"Ah geli ... Daddy, anakmu menyentuhku," Adu Xena pada Daddy Jonas, ketika Adit tak sengaja Menyentuh ceruk lehernya yang memang sensitif, disentuh sedikit saja Xena pasti akan merasa geli.


"Apa perlu kita berhenti di hotel terdekat?" kelakar Daddy Jonas membuat Xena tertawa terbahak-bahak seakan melupakan rasa sakitnya barusan.


"Daddy!" Sentak Adit pada Daddy-nya, Daddy Jonas hanya tertawa kecil, sedangkan Ana hanya tersenyum samar seraya menggelengkan kepalanya.


"Daddy, aku suka gayamu Daddy. Toss dulu," Xena mengulurkan kepalan tangannya ke depan, belum sempat Daddy Jonas menyambutnya. Tapi Adit langsung menepis tangan Xena.


"Tidak sopan!" sungut Adit tak suka dengan tingkah Xena yang menurut kurang sopan.


"Aduh, kenapa tiba-tiba aku merasa tubuhku seperti terombang-ambing?" keluh Xena sambil merasai kepalanya yang pusing, bukan hanya akting agar Adit tak lagi menceramahinya, tapi memang kepalanya terasa pusing.


"Karena kita sedang melewati jalanan yang tidak rata, Nona." Jawab Sang Supir menjelaskan singkat.


"Benarkah?" tanya Xena seakan tidak percaya. Tidak hanya Xena yang merasa pusing, Ana pun juga sama. Tapi, dia tidak punya siapa pun yang khawatir akan keadaannya.


"Apa pusing?" tanya Adit yang masih memijat pelan pundak Xena, agar Xena tetap merasa lebih baik sebelum tiba di rumah.


"Terasa semakin pusing," beberapa kali Xena mengerjabkan matanya, berharap pusingnya akan berkurang.


"Istirahatlah dulu," Adit menuntun kepala Xena untuk berbaring di pangkuannya.


Beberapa menit perjalanan, akhirnya mereka telah tiba di Mansion keluarga Talsen Baldev. Adit menggendong Xena hingga ke kamarnya, lantaran Xena yang telah terlelap karena kelelahan. Sedangkan Ana mengekor di belakang Daddy Jonas, Ana merasa ragu dan tak pantas untuk memasuki rumah mewah bak istana itu. Ana juga tidak siap, dia takut Mommy Adna tidak menyukainya.


Daddy Jonas menghentikan langkahnya, membalikkan badannya ke belakang, menatap Ana yang masih ragu melangkah. "Ayo," ajak Daddy Jonas meminta Ana untuk kembali melanjutkan perjalanan.


"Baik, Paman," jawab Ana menelan saliva, kemudian mendaratkan kakinya di lantai bening Istana itu. Ana mengekor di belakang Daddy Jonas dengan perasaan yang begitu kalut.

__ADS_1


"Sayang, kenapa lama sekali perginya?" tanya Mommy Adna memyambut kepulangan Suaminya dengan romantis.


"Aku membawakan hadiah untukmu," jawab Daddy Jonas membuat Mommy Adna tiba-tiba antusias.


"Hadiah? Hadiah apa itu?" tanyanya penasaran.


"Perkenalkan, dia Ana. Ana, perkanalkan ini Istri Paman, kamu panggil saja Bibi Adna," tutur Daddy Jonas sambil menyingkir ke samping hingga Istrinya dapat melihat Ana yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuhnya.


"Sayang, kamu sangat perhatian. Kamu tahu aku sangat menginginkan seorang putri perempuan, kamu membelikanku robot perempuan ini, luar biasa, Sayang," ujar Mommy Adna membuat Daddy Jonas menepuk jidat.


"Ya Tuhan, Sayang. Robotnya benar-benar mirip manusia. Ya Tuhan, aku punya anak perempuan. Ah, terima kasih Sayang," Mommy Adna memeriksa setiap detail tubuh Ana, kemudian langsung menghamburkan tubuhnya ke pelukan Suaminya, saking senangnya.


"Sayang, dia bukan robot. Dia Ana, Putrinya Almarhum Adam. Apa kamu ingat?"


"Maksudmu? Dia putrinya sahabat masa kecilmu, Adam dan Mima?" tanya Mommy Adna bertanya tak sabaran.


"Apa benar, Sayang? Seingatku Putrinya Adam dan Mima masih sepinggangku, sekarang dia lebih tinggi dariku," ujar Mommy Adna heran.


"Dia manusia, Sayang. Tentu dia akan bertumbuh dan berkembang semakin besar," jawab Daddy Jonas sabar menghadapi Istrinya yang memang kurang se-on.


"Siapa nama kamu, Sayang?" tanya Mommy Adna sambil meraba wajah mulus Ana.


"A-ana, Bibi," jawab Ana gugup.


"Wah, nama kita hampir sekarang. Kamu mau'kan jadi Putrinya Mommy?" tanyanya to the point, sebegitu mudahnya dia mengangkat anak orang menjadi anaknya.


"Bibi a—"

__ADS_1


"Mulia sekarang, panggil saya Mommy," pinta Mommy Adna langsung memotong ucapan Ana.


"I-iya, Mom-my."


"Bagus. Terima kasih Tuhan, akhirnya kau mengabulkan doaku untuk punya banyak anak perempuan," syukurnya langsung memeluk Ana erat, Ana pun membalas pelukan Mommy Adna dengan ragu.


"Sayang, sepertinya Ana sudah kelelahan. Biarkan dia istirahat dulu," ujar Daddy Jonas.


"Baiklah, Sayang. Bibi, tolong antar Putriku ke kamar utama ruang tamu, ya." titahnya pada seorang pelayan.


"Sayang, kamu ikut Bibi dulu, ya. Nanti mommy akan menyusul ke kamarmu," lanjut Mommy Adna mengelus kepala Ana lembut.


"Baik, Mommy. Terima kasih."


Setelah kepergian Ana. Mommy Adna menuntun Suaminya ke kamar untuk dia urus. "Oh iya, Sayang. Adit di mana? Ah iya, astaga. Tadi Nyonya Aslin menelponku, dia bilang Xena hilang," tuturnya panik karena baru mengingat hal tadi.


"Telpon Nyonya Aslin sekarang. Katakan padanya kalau Xena baik-baik saja," titah Daddy Jonas.


"Sayang, menantu kita hilang!"


"Tidak sayang, Xena baik-baik saja. Sekarang dia ada di kamar bersama Adit."


"Di kamar Adit? Berdua? Mereka nyetak Cucu?!"


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2