
21+
Lolan langsung menerkam Ziva, menciumnya dalam-dalam. Kini, Lolan akui Istrinya sudah begitu pandai. Ziva tak hanya bisa menerima dan membalas, tapi kini dia sendiri yang melakukannya.
Dengan tak sabaran Ziva mendorong tubuh kekar Lolan, menarik handuk mini yang menghalangi penglihatan, Lolan membulatkan matanya sempurna, tingkah agresif Ziva membuatnya tercengang lama.
"Sayang, kamu baik-baik saja bukan?" Lolan khawatir akan keadaan Ziva. Tingkah Ziva yang sangat agresif membuatnya sempat berpikir bahwa Ziva sedang kerasukan.
Ziva benar-benar tak lagi peduli dengan apa pun, dipikirannya kini hanya satu, dirinya menginginkan Suaminya. Kekagetan seorang Lolan pun semakin menjadi saat Ziva mulai mengarahkan senjata pusaka milik Suaminya ke arah inti miliknya, Ziva menekan dengan begitu perlahan. Sedangkan Lolan yang terbuai hanya mampu memejamkan matanya menikmati.
Nikmat kali ini dua kali lipat daripada nikmat yang pernah dia rasakan sebelumnya, kali ini terasa lebih nikmat karena Ziva yang berinisiatif. Satu hal yang membuat Lolan menggila, Ziva bermain begitu agresif di atas tubuhnya dan Lolan sangat-sangat menyukai hal itu.
Hanya butuh waktu kurang lebih lima menit, Ziva sudah tumbang di atas tubuh Lolan dengan tubuh bergetar hebat. Lolan memeluk Ziva dengan begitu eratnya, ketika Ziva sudah mulai tenang, Lolan langsung membalikkan badan tanpa melepaskan pertautan di bawah sana.
__ADS_1
Kini, Ziva berada di bawah kukungan Lolan. Ziva menutup wajahnya malu, kala mengingat betapa agresifnya dirinya tadi. Lolan tersenyum melihat tingkah malu-malu Sang Istri yang membuat hasratnya kian membuncah.
Perlahan, Lolan menyingkirkan kedua telapak tangan Ziva. Lolan tersenyum sambil memandang wajah penuh keringat itu dengan penuh cinta, Lolan menyeka keringat Ziva dengan jarinya.
"Jangan meledekku!" Ziva yang malu langsung mengalihkan pandangannya, sementara tubuhnya masih bergetar lantaran Lolan masih betah membenamkan senjatanya di bawah sana.
"Tidak akan, Sayang," jawab Lolan langsung me lu mat bibir Ziva, lalu mulai menggerakkan tubuhnya di bawah sana.
Beberapa menit kemudian ....
"Mana bisa begitu, Sayang. Aku belum keluar," jawab Lolan yang memang belum keluar sama sekali, berbeda dengan Ziva yang sudah entah berapa kali mendapatkan pelepasannya.
"Ahh ... Bisa-bisa a-ku tidak bisa ber-jalan ahhh ...." lenguh Ziva tapi Lolan masih enggan menyudahi permainan candunya.
__ADS_1
"Aku akan menggendongmu," jawab Lolan sambil mendorong lembut, membuat Ziva tak henti mengeluarkan suara erotisnya yang mampu membuat Lolan semakin bergairah.
"Ahh ... Aku ti-dak mau, perutku kram, Lolan. A-aku mohon hentikan," melihat Ziva yang sepertinya benar-benar sudah sangat kelelahan, Lolan pun segera mempercepat gerakannya.
"Zivaaaaa!" teriak Lolan jatuh di atas tubuh Ziva, Lolan mencium kening Ziva beberapa kali sambil membenamkan miliknya sepenuhnya, menyemprotkan cairan cintanya ke dalam rahim Sang Istri.
Setelahnya, Lolan menjatuhkan tubuhnya ke samping Ziva. Lolam mengelus dan mencium perut Ziva dengan lembut, seakan berharap segera tumbuh calon bayinya di dalam sana.
"Tadi itu terima kasih, Sayang," Lolan mencium kening Ziva, Ziva masih berusaha mengatur napasnya yang tersengal.
"Dan maaf karena membuatmu merasa tak nyaman," lanjut Lolan sambil mengecup kening Ziva berkali-kali.
"Berhenti meledekku," imbuh Ziva malu, Ziva langsung memeluk erat tubuh kekar Lolan, seakan cara itu mampu mengurangi rasa malunya.
__ADS_1
"Aku menyukainya, Sayang. Kamu sangat hebat, mana mungkin aku meledekmu. Kamu adalah Istri dan calon Ibu terbaik bagiku," Lolan membalas pelukan Sang Istri tercinta.
"Sudah jam enam sore, Sayang. Bagaimana kalau kita mandi bersama?" tawar Lolan dan Ziva mengangguk.