
Setelah hampir seminggu dirawat intensif di rumah sakit, Ziva dan Xena pun akhirnya sudah diperbolehkan pulang dan akan dirawat di rumah masing-masing.
Ziva di bawa ke Mansion milik Lolan. Sedangkan Xena di bawa pulang oleh Ibunya sendiri yaitu Bibi Aslin, Bibi Aslin diberikan cuti panjang oleh Daddy Jackson atas permintaan Bibi Aslin sendiri, dia ingin menembus kesalahan di masa lalu, dia ingin merawat Putrinya selama masa penyembuhan, dan Xena sangat bahagia akan hal itu.
Tidak main-main, Dokter Adit mengirimkan seorang Suster yang akan membantu Bibi Aslin merawat Xena, Dokter ahli pun didatangkan langsung oleh Mommy Adna untuk memantau calon menantunya itu.
Setiap hari Dokter ahli itu selalu datang untuk memantau kondisi Xena dan juga luka bekas operasi Xena, Mommy Adna ingin Xena lekas sembuh karena dia tak sabar ingin menikahkan Xena dengan Putranya, Adit. Tak punya anak perempuan adalah alasan kenapa Mommy Adna tak sabar ingin Xena tinggal bersamanya. Dia sangat mengharapkan Xena untuk dia urus.
Apalagi Xena sangat cantik dan polos, itu semakin membuatnya tak sabar ingin mengurus Xena seperti anaknya sendiri. Selama Xena di rawat di rumah, Dokter Adit tak pernah datang menjenguk. Bukan karena tak peduli, melainkan dia tengah fokus pada kondisi Lolan. Semakin cepat Lolan sembuh dari penyakitnya, maka semakin cepat pula dia dan Xena akan menikah.
Seperti yang dia lakukan saat ini. Lolan tengah terbaring di ranjang dan Dokter Adit memantau senjata milik pria tampan yang kini tak lagi impoten itu. Tak lama lagi, hanya tinggal beberapa langkah dan tahap penyembuhan akhir untuk memastikan. Setelahnya, senjata pusaka itu pun siap digunakan untuk bertempur.
"Apa butuh Ziva membuka pakaiannya lagi untuk mer*ngsangmu?" tanya Dokter Adit yang perlu senjata itu berdiri guna memeriksanya lebih lanjut.
__ADS_1
"Membayangkan tubuhnya saja sudah berdiri. Kau ingin membunuhku bila menyuruh Ziva kembali membuka baju seperti dulu," sahut Lolan menatap Dokter Adit tajam.
"Baiklah, bayangkan sekarang. Aku perlu dia berdiri," sambung Dokter Adit bertolak pinggang dengan berbagai macam alat medis ditangannya.
"Sayang, kemarilah," panggil Lolan pada Ziva yang berdiri di sampingnya. Tapi, Ziva tampak menengadakan matanya ke atas dan terkadang ke samping dan ke mana pun asal tidak melihat ke bawah.
"Tidak apa-apa, Sayang. Bila nanti siap digunakan, maka kamu akan melihatnya setiap hari. Jadi, anggap ini latihan agar terbiasa," Keta Lolan menarik pinggang ramping Ziva dengan sebelah tangannya hingga Ziva semakin mendekat padanya.
"A-aku takut," gumam Ziva sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lihatlah, dia tidak akan menggigitmu," Lolan menurunkan kedua tangan Ziva dengan lembut. Ziva pun menurut dan pasrah. Namun, ketika telapak tangannya tak lagi menutup wajahnya, saat itu pula Ziva sigap memejamkan kedua matanya.
"Maaf," ujar Ziva tak enak hati, tapi dia harus bagaimana? Lihatlah tubuhnya bergetar karena takut melihat milik Lolan yang dipikirannya sangatlah besar dan perkasa.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nona. Di luar sana ada begitu banyak wanita yang menginginkan senjata yang besar dan panjang seperti milik Lolan. Seharusnya Nona bersyukur," bujuk Dokter Adit malah membuat Ziva semakin ketakutan.
"Buka matamu, Sayang. Benar apa yang dikatakan Adit, semakin besar dan panjang, maka akan semakin enak. Jadi, kamu tidak perlu takut," Lolan ikut membujuk.
"Kalau kamu begini, bagaiamana mungkin aku bisa sembuh," lanjut Lolan sedih membuat Ziva langsung membuka kedua matanya saat itu juga.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud begitu. Sekarang aku siap, katakan padaku apa yang harus aku lakukan," ucap Ziva cepat kala menyesali tindakan malu-malunya. Padahal, jelas dia sudah berjanji akan melakukan apa pun agar Lolan kembali sembuh secepat mungkin.
"Begini saja, Sayang."
"Hemp ....
.
__ADS_1
.
.