Terjerat Dendam CEO Impoten

Terjerat Dendam CEO Impoten
Bab 91


__ADS_3

Di bawah umur tolong skip. Emak-emak cari bapak dulu. Yang cukup umur tapi belum punya paksu tolong siapkan minuman dingin kesukaan, jangan lupa kipas anginya juga😌💃


***


Lolan langsung me lu mat bibir atas dan bibir bawah Ziva secara bergantian. Saat merasa ingin mendapatkan sensasi yang lebih, Lolan meng gi git lembut bibir bawah itu hingga Ziva membuka mulutnya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Lolan langsung masuk ke dalam rongga mulut Ziva. Lolan memainkan li dahnya di dalam sana, menari, men yesap, meng ulum dan meng gi git lidah itu dengan penuh kelembutan.


Dengan kedua tangannya, Lolan gunakan untuk menekan kepala Ziva agar ciumannya semakin dalam namun tetap lembut. Ciuman lembut yang menggelora membuat keduanya merasakan sensasi aneh yang dapat menggetarkan hati, memanaskan serta mendinginkan tubuh di waktu yang bersamaan, gairah yang begitu besar seakan mengalirkan darah ke sekujur tubuh keduanya hingga berakhir di inti masing-masing. Aliran gairah menumpuk di sana, membuat keduanya menginginkan sensasi yang lebih besar lagi.


"Hempt!" Melihat Ziva yang hampir kehabisan napas, Lolan langsung melepaskan tautannya. Ziva mengirup banyak oksigen membuat Lolan merasa kasihan kepada Istrinya tercinta.


"Jangan menahannya, bernapas saja," imbuh Lolan lembut seraya mengelap salivanya yang tertinggal di bibir Ziva. Ziva yang sibuk menghirup banyak oksigen hanya menganggukan kepala tanda mengerti.

__ADS_1


Melihat Ziva mulai tenang, Lolan kembali meraih wajah merona itu. "Apa siap?" tanya Lolan menatap Ziva intens. Ziva masih terengah-engah untuk menjawab, dia hanya tersenyum lembut sambil menganggukkan kepala tanda mengiyakan.


Lolan tersenyum, manarik tubuh mungil Ziva semakin mendekat pada tubuhnya. Lolan kembali meraih wajah Ziva, pandangannya kembali mengarah tepat di bibir Ziva yang kini selalu menarik perhatiannya. Bibir Ziva yang begitu lembut dan kenyal bak marsmelo, hangat dan manis bak minuman teh, bagaikan candu yang tidak mampu Lolan tolak.


Lolan kembali mencium dalam-dalam mulut Ziva, mengabsen setiap gigi yang tertata rapi, membuat pertautan dengan lidah Ziva. Lolan senang karena Ziva begitu cepat mempelajari sesuatu. Jika pertautan di awal Ziva sangat kaku, maka di pertautan kali ini Ziva mulai mampu menerima dan membalas apa yang Lolan berikan kepadanya.


Bahkan, Ziva tak lagi menahan napasnya, dia tetap bernapas dengan lancar. Ziva juga tak ingin kalah, saat Lolan mendorong kepalanya maju, Ziva juga mendorong kepalanya maju, hingga keduanya saling men yesap, meng ulum, me lu mat semakin dalam.


Ciuman Lolan turun, melewati dagu dan terus turun hingga berhenti di ceruk leher Ziva. Lidahnya menari hebat di sana, meng gigit nya lembut hingga meninggalkan bekas kepemilikan.


Tak hanya di leher, Lolan juga men yesap lembut daun telinga Ziva membuat Sang pemilik bergetar tubuhnya. "Emm ..." Ziva tanpa sadar mengeluarkan suara erotisnya sambil menggenggam rambut Lolan erat. Lenguhan pertama itu lolos begitu saja, padahal Ziva sudah meng gigit bibir bawahnya untuk menahan. Namun, permainan Lolan yang seakan sangat ahli benar-benar membuat Ziva kehilangan kendali diri.

__ADS_1


Lolan terus memberikan tanda kepemilikan semakin dalam, sedangkan tangan nakalnya mulai bergerilya ke mana-mana, me ra ba dan me re mas apa pun yang dapat dia jangkau. Saat tangan nakal itu berhenti tepat di gunung kembar milik Ziva, saat itu pula Ziva terbelalak kala Lolan sengaja menekan lembut cuping tengah yang masih berlapis kain.


Ziva kembali mengigit bibir bagian bawahnya, berusaha menahan rasa geli sekaligus nikmat yang Lolan berikan. Sentuhan tangan Lolan terasa panas dan membara membuat Ziva seakan kehilangan pikiran.


"Uuuhhh ....


.


.


.

__ADS_1


Tidur dulu-lah, Othor ngantuk, Guys. Ora enek kopi😗💃


__ADS_2